
Ilustrasi: Kejang menjadi salah satu gejala penyakit epilepsi. (Makati Medical Center)
JawaPos.com – Jumlah kunjungan pasien anak dengan penyakit kronis di RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya terus meningkat sepanjang semester pertama 2025. Tiga penyakit yang paling banyak ditangani adalah epilepsi, cerebral palsy (CP), dan diabetes mellitus (DM).
Kondisi ini menjadi perhatian tim medis karena penyakit tersebut bersifat menahun dan memerlukan penanganan jangka panjang. Dokter spesialis anak RSUD BDH dr. Agus Cahyono, Sp.A mengatakan, pasien-pasien ini datang dalam berbagai kondisi. Mulai dari ringan hingga berat. “Beberapa datang dalam kondisi penurunan kesadaran, terutama yang DM. Gulanya bisa mencapai 400 hingga 600 mg/dL, bahkan kadang tak terdeteksi,” terangnya, Selasa (22/7).
Epilepsi menjadi kasus terbanyak yang ditangani. Penyakit ini bisa menyerang sejak bayi hingga usia remaja. Pasien biasanya dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kejang-kejang di rumah. Untuk CP mayoritas diketahui sejak awal karena anak terlihat kaku dan mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Sedangkan DM biasanya terdeteksi saat anak mengalami penurunan kesadaran secara tiba-tiba.
Tren kasus diabetes anak pun mengalami kenaikan. Pada Juli–Desember 2024 hanya terdapat 13 pasien. Namun, pada Januari–Juni 2025, angkanya naik menjadi 18 pasien. Mayoritas merupakan kasus DM tipe 1. Banyak pasien datang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Mengingat gulah darahnya di atas 500 bahkan sudah tidak terdeteksi.
Agus menekankan bahwa kasus diabetes anak tidak bisa disamakan dengan dewasa. Banyak yang disebabkan oleh autoimun, bukan hanya gaya hidup atau genetik. Sementara, diabetes pada orang dewasa banyak disebabkan gaya hidup.
Dalam menangani pasien anak dengan penyakit kronis, RSUD BDH melakukan pengobatan dan kontrol rutin. Selain itu, edukasi terhadap keluarga menjadi langkah penting agar pengobatan tidak terputus. Rumah sakit juga memberikan konseling dan pelatihan pengelolaan pola makan serta gaya hidup agar pasien tetap bisa menjalani aktivitas sebaik mungkin.
Menurut Agus, penyakit tersebut tak bisa disembuhkan, hanya dikendalikan. Karena itu, kami mengajak keluarga untuk memahami kondisi anak dan ikut aktif dalam proses perawatannya. Selain itu, pihak RS juga memberikan himbauan vaksinasi lengkap sesuai jadwal sebagai langkah pencegahan, terutama terhadap infeksi yang bisa memicu epilepsi seperti meningitis dan ensefalitis.(omy)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
