Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Juli 2025 | 22.32 WIB

Pakar Unair: Bediding Tak Bahaya, tapi Bisa Jadi Sinyal Krisis Lingkungan

Ilustrasi anak mengalami kedinginan karena bediding. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak mengalami kedinginan karena bediding. (Freepik)

JawaPos.com - Peralihan musim ke kemarau, menyebabkan beberapa daerah di Jawa Timur, termasuk Kota Surabaya, sedang mengalami fenomena bediding atau udara dingin yang menusuk pada malam hingga pagi hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bediding terjadi hingga September 2025. Fenomena ini menjadi perhatian masyarakat, terutama di daerah perkotaan yang terbiasa panas.

Pakar Teknik Lingkungan Universitas Airlangga, Wahid Dianbudiyanto mengatakan fenomena bediding terjadi karena penurunan tajam suhu udara di malam hari akibat hilangnya penutup awan selama musim kemarau.

“Permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat karena tidak ada awan yang menahan radiasi balik ke atmosfer. Akibatnya, suhu udara turun secara tajam hingga dini hari," tutur Wahid di Surabaya, Rabu (16/7).

Ia menuturkan hembusan angin muson timur dari Australia menjadi salah satu satu penyebab fenomena bediding. Angin tersebut membawa massa udara dingin dan kering ke Indonesia bagian selatan. 

Penyebab utama lainnya adalah hembusan angin muson timur dari Australia yang tengah mengalami musim dingin. Massa udara dingin dan kering masuk ke Indonesia bagian selatan akibat perbedaan tekanan antara benua Asia dan Australia. 

"Aliran angin ini diperkuat oleh perbedaan tekanan udara antara Australia dan Asia. Ini lah mengapa suhu di malam hari bisa turun hingga 17-19° celcius, bahkan lebih rendah di beberapa wilayah (dataran tinggi)," imbuhnya.

Penurunan suhu drastis tak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tapi juga berdampak nyata. Meski belum ada laporan signifikan, Wahid mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap efek jangka pendek dari bediding.

“Bukan hanya tubuh yang menggigil, tetapi juga ketahanan tubuh yang menurun. Suhu dingin dapat memicu penyakit pernapasan seperti flu dan asma. Bagi peternakan, bediding bisa mengganggu produktivitas,” terang Wahid.

Menurutnya, fenomena bediding bukan suatu bencana, tetapi jika terus diabaikan tanpa upaya penanganan, maka bisa menjadi sinyal alam agar manusia lebih waspada dan peduli terhadap kesiapsiagaan lingkungan.

"Rekomendasi khusus tidak ada, karena fenomena ini terjadi dalam kurun waktu relatif singkat. Masyarakat dianjurkan untuk rutin memantau prakiraan cuaca, memakai pakaian lebih tebal, dan menjaga imun dengan pola makan sehat dan multivitamin," tukasnya. (*)

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore