
Tanaman di Taman Apsari Surabaya alami kerusakan akibat aksi demo tolak UU TNI di depan Gedung Grahadi, Senin (24/3). (DLH untuk JawaPos.com)
JawaPos.com – Aksi unjuk rasa menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI yang berlangsung di sekitar Gedung Negara Grahadi pada Senin (24/3) berdampak pada kondisi Taman Apsari. Sejumlah fasilitas taman mengalami kerusakan, mulai dari ribuan tanaman yang rusak, hilangnya beberapa lampu taman, hingga coretan vandalisme di area trotoar dan lantai taman.
Dari hasil pemantauan JawaPos.com di lokasi, bagian depan taman menjadi area yang mengalami kerusakan parah. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Myrna Augusta Aditya Dewi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan untuk mengukur tingkat kerusakan.
"Kami telah melakukan pengecekan dan pencatatan. Tanaman di bagian depan taman mengalami kerusakan signifikan akibat terinjak-injak. Padahal, baru saja dilakukan penanaman ulang," ungkapnya kepada JawaPos.com, Selasa (25/3).
Selain tanaman, fasilitas taman lainnya juga terdampak. "Tiga unit lampu taman jenis LED Flood Light 30 watt hilang. Lantai taman dan trotoar penuh dengan coretan vandalisme. Saat ini, kami tengah membersihkan coretan menggunakan paint remover. Mudah-mudahan bisa hilang sepenuhnya," tambah Myrna.
Dari hasil inventarisasi DLH Surabaya, sebanyak 3.258 tanaman hias mengalami kerusakan. Beberapa di antaranya adalah Erva Merah (800 tanaman), Walisongo Variegata (400 tanaman), Rowelia (700 tanaman), Pangkas Mas (600 tanaman), Blego Merah (500 tanaman), Tabernae (50 tanaman), Soka Jambon (200 tanaman), serta rumput Gajah Mini yang rusak seluas 5 meter persegi.
Total kerugian akibat kerusakan taman ini diperkirakan mencapai Rp 29 juta, mencakup kerusakan tanaman dan kehilangan lampu taman. DLH Surabaya masih menunggu keputusan lebih lanjut mengenai langkah pemulihan. "Kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk kepolisian, untuk membahas kemungkinan penggantian kerugian atau apakah perbaikan harus dilakukan secara mandiri," jelas Myrna.
Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya dalam penyelenggaraan acara berskala besar yang berpotensi merusak taman kota. "Kami berharap ke depannya ada koordinasi lebih baik. Ini bukan pertama kalinya taman rusak akibat kegiatan besar tanpa pemberitahuan. Jika terus berulang, kami harus terus melakukan penanaman ulang, yang tentu membutuhkan biaya dan tenaga besar," tegasnya.
Hingga saat ini, DLH Surabaya masih mencari pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Jika tidak ada pihak yang mengganti kerugian, mereka akan melakukan pemulihan secara mandiri dengan menanam kembali tanaman yang rusak. "Kami tetap akan menata ulang taman ini, tapi jika kejadian seperti ini terus berulang, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kami," tuturnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
