
IKON SEJARAH: Tugu Pahlawan yang sekarang menjadi ikon Kota Surabaya dulu merupakan medan pertempuran besar arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu pada 10 November 1945. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)
Nur Setiawan menyebutkan, jumlah personel Batalyon Sriwidjaja itu hampir 200 orang. Tak hanya dari Palembang, Sumatera Selatan, tapi juga beberapa daerah lain di Sumatera. Di antaranya, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Bagi dia, situasi itu merupakan bentuk kebinekaan dari pertempuran 10 November yang sekaligus juga menggambarkan kemajemukan Indonesia. ”Kami menyebut 10 November ini pertempuran semesta ya karena dari banyak daerah yang secara tak langsung terlibat,” jelasnya.
Karena itu pula, Ady mengusulkan perlunya penanda untuk mereka yang gugur di tempat yang sudah menjadi cagar budaya tersebut. ’’Butuh perhatian lebih,” katanya.
Tugu Pahlawan
Medan perjuangan utama dalam pertempuran Surabaya adalah Tugu Pahlawan. Ady menuturkan, setelah kematian Mallaby, tentara sekutu memberikan tenggat pukul 06.00 pada 10 November sebagai batas ultimatum. Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, suksesor Mallaby, memerintah rakyat Surabaya untuk menyerahkan diri.
Kendati demikian, sambung Ady, yang berlangsung di lapangan justru sebaliknya. Pada 10 November, para pemuda tampak telah bersiaga dengan tenang di lokasi masing-masing. ’’Para pemuda Surabaya menunjukkan tekad sebaliknya. Bersiap untuk menghadapi perlawanan dari pasukan sekutu,” ungkapnya.
Beruntung, tak seperti jejak warisan pertempuran 10 November, Tugu Pahlawan termasuk terawat. Monumen berbentuk paku terbalik yang memiliki 10 lengkungan serta 11 ruas itu sekaligus simbol peristiwa heroik yang kemudian ditabalkan sebagai Hari Pahlawan tersebut.
’’Tugu Pahlawan ini sudah termasuk baik kondisinya. Museumnya juga memiliki koleksi yang cukup lengkap untuk mengenalkan para pejuang-pejuang yang gugur selama pertempuran,’’ katanya.
Hotel Majapahit
JEJAK TERJAGA: Hotel Majapahit yang dulu bernama Hotel Yamato, tempat perobekan bendera Belanda terjadi. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)
Hotel Yamato yang sekarang menjadi Hotel Majapahit merupakan saksi penting dalam momen 10 November. Dosen pendidikan sejarah Fisipol Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Rojil Nugroho Bayu Aji mengatakan, dampak insiden perobekan bendera di Hotel Yamato membuat hubungan antara arek-arek Suroboyo dan kekuatan asing, terutama Belanda dan Inggris, memanas.
”Banyak gesekan setelah itu. Ini menandakan peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato menjadi salah satu pemantik peristiwa 10 November di Surabaya,” tuturnya.
Saat ini, Hotel Majapahit masih menjaga kondisi fasad dan gedung sesuai dengan bangunan aslinya. Tiang bendera lokasi perobekan bendera juga masih terjaga. Tak hanya bagian depan, tetapi juga di area dalam hotel.
Lorong-lorong, ballroom, hingga area terbuka di atap juga masih terjaga sesuai dengan kondisi asli di masa penjajahan hingga perjuangan kemerdekaan. Begitu pula interior hotel, seperti wadah lampu di lorong, lampu gantung di ballroom, hingga penutup jendela kayu di kamar.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
