
Indira Zeinitania, tenaga kesehatan di RSUA (kanan), menyosialisasikan pencegahan HIV/AIDS kepada salah seorang pengunjung Senin (21/10). (Robertus Risky/Jawa Pos)
JawaPos.com – Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditangani Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga Oktober (21/10), tercatat ada 243 kasus. Mereka merupakan pasien aktif dengan antiretroviral therapy (ART).
Direktur RSUA Prof dr Nasronudin SpPD (K) FINASIM-KPTI mengatakan, kasus HIV yang ditangani RSUA mengalami tren peningkatan. Itu disebabkan sejumlah faktor. Pertama, jumlah kasus riil memang meningkat.
Selain itu, bisa juga disebabkan pasien yang semula ragu menjadi berani untuk berobat atau terapi ke rumah sakit.
”Ada juga pengaruh dari keluarga yang menginginkan pasien dirawat di RSUA. Karena kami memiliki Poli Infeksi HIV/AIDS dan Narkoba (IHAN) dengan fasilitas cukup mewah dan bersih,” katanya kemarin (21/10).
Mayoritas Pasien HIV/AIDS Usia Produktif
Dari 243 kasus ODHA yang ditangani RSUA, kata Nasronudin, didominasi generasi muda atau usia produktif. Mereka mungkin terpapar karena pengaruh heteroseksual.
Selain anak muda, ada pula kasus anak dengan HIV/AIDS (ADHA). Rata-rata bayi tertular dari ibunya. Penularannya bisa terjadi saat bayi masih di dalam kandungan, ketika proses persalinan, atau saat menyusui.
”Ibunya yang positif tidak meminum antiretroviral (ARV). Jadi, berpotensi menularkan ke anak,” ujarnya.
Cara Penularan HIV/AIDS
Selain dipicu heteroseksual, ada beberapa penyebab orang terkena HIV/AIDS. Di antaranya, istri yang tertular dari suaminya, orang-orang yang bekerja di luar negeri, dan ada sebagian kecil yang terkena penyakit itu dari transfusi darah.
”Meskipun sudah dilakukan skrining, kadang upaya manusia ada batasnya. Namun, prevalensinya sangat kecil,” ujar Nasronudin.
Menurut dia, tingginya kasus HIV/AIDS yang ditemukan itu justru menunjukkan hal yang baik. Sebab, selama ini, kasus tersebut seperti fenomena gunung es. Yang muncul di permukaan hanya sedikit.”Orang yang terkena HIV/AIDS bisa langsung mendapatkan pengobatan sehingga tidak semakin buruk kondisinya,” kata Nasronudin.
Saat ini pemerintah juga berupaya mencegah merebaknya sejumlah penyakit dengan skrining kepada calon pengantin, ibu hamil, dan pasien pengidap tuberkulosis (TB).
”Mereka punya potensi risiko tinggi. Upaya preventif itu untuk melihat penyakit malaria, diabetes, HIV/AIDS, dan TBC,” kata Nasronudin.
Nasronudin menambahkan, masyarakat tidak perlu terlalu takut terhadap penyakit HIV/AIDS. Sebab, penyakit itu disebabkan virus yang bisa dibunuh oleh sistem kekebalan tubuh. Sepanjang pengidap HIV/AIDS menjalani pola hidup yang sehat dan istirahat yang cukup.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
