Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Oktober 2024 | 17.00 WIB

Sepuluh Bulan, RSUA Surabaya Tangani 243 Kasus HIV/AIDS yang Mayoritas Pasiennya Usia Produktif

Indira Zeinitania, tenaga kesehatan di RSUA (kanan), menyosialisasikan pencegahan HIV/AIDS kepada salah seorang pengunjung Senin (21/10). (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

Indira Zeinitania, tenaga kesehatan di RSUA (kanan), menyosialisasikan pencegahan HIV/AIDS kepada salah seorang pengunjung Senin (21/10). (Robertus Risky/Jawa Pos)

JawaPos.com – Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditangani Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga Oktober (21/10), tercatat ada 243 kasus. Mereka merupakan pasien aktif dengan antiretroviral therapy (ART).

Direktur RSUA Prof dr Nasronudin SpPD (K) FINASIM-KPTI mengatakan, kasus HIV yang ditangani RSUA mengalami tren peningkatan. Itu disebabkan sejumlah faktor. Pertama, jumlah kasus riil memang meningkat.

Selain itu, bisa juga disebabkan pasien yang semula ragu menjadi berani untuk berobat atau terapi ke rumah sakit.

”Ada juga pengaruh dari keluarga yang menginginkan pasien dirawat di RSUA. Karena kami memiliki Poli Infeksi HIV/AIDS dan Narkoba (IHAN) dengan fasilitas cukup mewah dan bersih,” katanya kemarin (21/10).

Mayoritas Pasien HIV/AIDS Usia Produktif

Dari 243 kasus ODHA yang ditangani RSUA, kata Nasronudin, didominasi generasi muda atau usia produktif. Mereka mungkin terpapar karena pengaruh heteroseksual.

Selain anak muda, ada pula kasus anak dengan HIV/AIDS (ADHA). Rata-rata bayi tertular dari ibunya. Penularannya bisa terjadi saat bayi masih di dalam kandungan, ketika proses persalinan, atau saat menyusui.

”Ibunya yang positif tidak meminum antiretroviral (ARV). Jadi, berpotensi menularkan ke anak,” ujarnya.

Cara Penularan HIV/AIDS

Selain dipicu heteroseksual, ada beberapa penyebab orang terkena HIV/AIDS. Di antaranya, istri yang tertular dari suaminya, orang-orang yang bekerja di luar negeri, dan ada sebagian kecil yang terkena penyakit itu dari transfusi darah.

”Meskipun sudah dilakukan skrining, kadang upaya manusia ada batasnya. Namun, prevalensinya sangat kecil,” ujar Nasronudin.

Menurut dia, tingginya kasus HIV/AIDS yang ditemukan itu justru menunjukkan hal yang baik. Sebab, selama ini, kasus tersebut seperti fenomena gunung es. Yang muncul di permukaan hanya sedikit.”Orang yang terkena HIV/AIDS bisa langsung mendapatkan pengobatan sehingga tidak semakin buruk kondisinya,” kata Nasronudin.

Saat ini pemerintah juga berupaya mencegah merebaknya sejumlah penyakit dengan skrining kepada calon pengantin, ibu hamil, dan pasien pengidap tuberkulosis (TB).

”Mereka punya potensi risiko tinggi. Upaya preventif itu untuk melihat penyakit malaria, diabetes, HIV/AIDS, dan TBC,” kata Nasronudin.

Nasronudin menambahkan, masyarakat tidak perlu terlalu takut terhadap penyakit HIV/AIDS. Sebab, penyakit itu disebabkan virus yang bisa dibunuh oleh sistem kekebalan tubuh. Sepanjang pengidap HIV/AIDS menjalani pola hidup yang sehat dan istirahat yang cukup.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore