Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Februari 2024 | 21.56 WIB

Penampakan Jembatan KA Wonokromo, Saksi Bisu Pembuangan Mayat Pejuang yang Gugur di Gerbong Maut pada 23 November 1947

Jembatan KA Wonokromo menjadi saksi tempat pembuangan mayat pejuang Indonesia yang gugur di gerbong maut pada 23 November 1947. - Image

Jembatan KA Wonokromo menjadi saksi tempat pembuangan mayat pejuang Indonesia yang gugur di gerbong maut pada 23 November 1947.

JawaPos.com - Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi tragedi yang memilukan dialami puluhan pejuang Republik Indonesia. Tragedi tersebut dikenal dengan peristiwa gerbong maut yang terjadi pada 23 November 1947.

Pegiat Sejarah Surabaya Achmad Zaki Yamani mengatakan, tragedi gerbong maut adalah tragedi pemindahan tawanan yang dikawal Marinir Belanda dari Bondowoso ke Stasiun Wonokromo, Surabaya.

Mereka dibawa ke Surabaya menggunakan kereta api dengan angkutan gerbong barang yang tertutup rapat. "Dari 90 orang, yang meninggal dunia sejumlah 46 orang," ungkap Achmad Zaki Yamani kepada Radar Surabaya (Jawa Pos Group).

Ketua Komunitas Begandring Soerabaia ini menambahkan, yang gugur di dalam gerbong maut merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia terdiri dari berbagai macam profesi. Mulai dari tentara, polisi, pamong praja, dan rakyat.

Mereka para tawanan sebenarnya hendak dibawa ke penjara Koblen, Bubutan Surabaya. Namun, mereka gugur di dalam gerbong maut karena berdesak-desakan dan tidak diberi makan serta minum saat perjalanan dari Stasiun Bondowoso menuju Wonokromo, Surabaya.

"Diduga (mayat tawanan) dibuang ke sungai melalui jembatan KA (kereta api) Wonokromo, asumsi ini terjadi karena tidak pernah ditemukan makam korban gerbong maut, meski Belanda mengakui dimakamkan di Sidoarjo," beber Achmad Zaki Yamani.

Sementara untuk yang selamat dibawa ke penjara Koblen, Bubutan ditahan. Keberadaan gerbong maut yang mengangkut tawanan pejuang Indonesia itu baru ditemukan tahun 1968 di Jogjakarta.

Kini gerbong dengan kode GR 10152 itu tersimpan di Museum Brawijaya, Kota Malang. "Iya betul itu (yang di Malang) yang asli. Yang lain nggak ketemu," pungkas Achmad Zaki Yamani.

Editor: Edy Pramana
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore