
GUYUB: Anak-anak Kampung Tambak Bayan berkreasi bersama dengan didampingi warga dewasa di aula Tha Yang beberapa waktu lalu.
Surabaya memiliki kawasan pecinan yang unik dan menarik. Selain Kembang Jepun, ada dua kampung lawas yang 90 persen penduduknya keturunan Tionghoa. Tak sekadar menempati rumah-rumah peninggalan leluhur, mereka juga terus melestarikan tradisi.
PAIFANG atau gerbang khas Tiongkok itu menyambut siapa pun yang berkunjung ke kampung di Jalan Kapasan Dalam, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto. Kamis (1/2) lalu, ornamen berbentuk lampion dan naga menghiasi jalan masuk gang. Nuansa pecinan di area yang sebagian besar rumah penduduknya berarsitektur Tionghoa kolonial itu pun menjadi semakin kental.
Wakil Ketua Pecinan Kapasan Dalam Michael Wijaya mengatakan, kampungnya lahir bersamaan dengan berdirinya Kelenteng Boen Bio pada 1883. ’’Awalnya, Kampung Kapasan Dalam ini dihuni warga asli dari Tiongkok yang merantau ke Surabaya pada abad ke-18,’’ katanya saat ditemui Jawa Pos.
Bagi publik Surabaya, Kapasan Dalam identik dengan seni bela diri kungfu dan pengobatan herbal. ’’Mayoritas penduduk dari Tiongkok yang merantau ke sini memang ahli kungfu dan pengobatan. Di kampung ini juga ada balai pengobatan,’’ ujar Michael.
Hingga kini, Balai Pengobatan Kapasan Dalam masih berdiri. Bangunannya tidak berubah. Dulu, di situ sering diselenggarakan pengobatan massal. ’’Apalagi saat perang. Sangat membantu perjuangan arek-arek Suroboyo lewat pengobatan,’’ imbuhnya.
KUNGFU: Michael Wijaya (kanan) bersantai bersama warga lainnya di Kampung Kpasan Dalam pada Kamis (1/2).
Kini, tidak banyak warga yang masih menguasai kungfu atau ilmu pengobatan. Namun, masih ada sanggar kungfu di Kelenteng Boen Bio. Di sanggar itu pula latihan barongsai berlangsung. Demikian pula pengobatan tradisional Tiongkok, akupunktur. ’’Justru banyak warga dari luar Kapasan Dalam yang datang untuk latihan kungfu dan barongsai. Gratis,’’ ujar Michael.
Di kampung yang terdiri atas 5 RT itu, 90 persen warganya adalah etnis Tionghoa. Sementara itu, 10 persen lainnya adalah Jawa dan Madura. Soal keyakinan, warga memeluk beragam agama. Ada Konghucu, Kristen, Islam, dan Buddha. ’’Selain kelenteng, kampung kami juga punya musala, vihara, dan gereja,’’ urainya.
Generasi keempat keturunan Tionghoa yang tinggal di Kapasan Dalam masih menjunjung tinggi tradisi leluhur. Bahkan, para pengusaha sukses yang lahir dari kampung itu masih kembali ke rumah lama mereka tiap perayaan tertentu. ’’Rumah-rumahnya masih ada dan kosong. Mereka tidak menjualnya karena percaya leluhurnya ada di rumah itu. Jadi, kadang datang untuk sembahyang,’’ ungkap Michael.
PELESTARI: Suseno Karja bangga merawat dan meneruskan tradisi leluhur di Kampung Tambak Bayan.
Yang sama uniknya dengan Kampung Kapasan Dalam adalah Pecinan Tambak Bayan di Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan. Kampung itu ada sejak 1800-an. Wakil Ketua RT 2, RW 2, Kelurahan Alun-Alun Contong Suseno Karja mengatakan, pendatang dari Tiongkok baru berbondong-bondong ke kampung itu pada 1900-an. ’’Awalnya, mereka datang ke sini karena menghindari konflik di daratan Tiongkok,’’ ujarnya kepada Jawa Pos pada Rabu (31/1).
Mayoritas penduduk Tambak Bayan adalah perajin kayu. Mereka ahli membuat meja sembahyang, lemari, dan tempat tidur. ’’Sampai sekarang, masih banyak warga yang bekerja sebagai tukang kayu. Hasil kerja tukang kayu Tionghoa di Tambak Bayan dikenal halus dan bagus,’’ katanya.
Saat ini Tambak Bayan terdiri atas 100 kepala keluarga. Sebanyak 90 persen di antaranya adalah keturunan etnis Tionghoa dan 10 persen sisanya Jawa.
CAK GEPENG: Liem Kiem Hau adalah generasi ketiga keturunan Tionghoa di Kampung Tambak Bayn.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
