Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Februari 2024 | 13.13 WIB

Menyusuri Jejak Tradisi Tionghoa di Kampung-Kampung Lawas Surabaya, Melestarikan Warisan Leluhur di Tengah Modernitas

GUYUB: Anak-anak Kampung Tambak Bayan berkreasi bersama dengan didampingi warga dewasa di aula Tha Yang beberapa waktu lalu. - Image

GUYUB: Anak-anak Kampung Tambak Bayan berkreasi bersama dengan didampingi warga dewasa di aula Tha Yang beberapa waktu lalu.

Surabaya memiliki kawasan pecinan yang unik dan menarik. Selain Kembang Jepun, ada dua kampung lawas yang 90 persen penduduknya keturunan Tionghoa. Tak sekadar menempati rumah-rumah peninggalan leluhur, mereka juga terus melestarikan tradisi.

PAIFANG atau gerbang khas Tiongkok itu menyambut siapa pun yang berkunjung ke kampung di Jalan Kapasan Dalam, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto. Kamis (1/2) lalu, ornamen berbentuk lampion dan naga menghiasi jalan masuk gang. Nuansa pecinan di area yang sebagian besar rumah penduduknya berarsitektur Tionghoa kolonial itu pun menjadi semakin kental.

Wakil Ketua Pecinan Kapasan Dalam Michael Wijaya mengatakan, kampungnya lahir bersamaan dengan berdirinya Kelenteng Boen Bio pada 1883. ’’Awalnya, Kampung Kapasan Dalam ini dihuni warga asli dari Tiongkok yang merantau ke Surabaya pada abad ke-18,’’ katanya saat ditemui Jawa Pos.

Bagi publik Surabaya, Kapasan Dalam identik dengan seni bela diri kungfu dan pengobatan herbal. ’’Mayoritas penduduk dari Tiongkok yang merantau ke sini memang ahli kungfu dan pengobatan. Di kampung ini juga ada balai pengobatan,’’ ujar Michael.

Hingga kini, Balai Pengobatan Kapasan Dalam masih berdiri. Bangunannya tidak berubah. Dulu, di situ sering diselenggarakan pengobatan massal. ’’Apalagi saat perang. Sangat membantu perjuangan arek-arek Suroboyo lewat pengobatan,’’ imbuhnya.

KUNGFU: Michael Wijaya (kanan) bersantai bersama warga lainnya di Kampung Kpasan Dalam pada Kamis (1/2).

Kini, tidak banyak warga yang masih menguasai kungfu atau ilmu pengobatan. Namun, masih ada sanggar kungfu di Kelenteng Boen Bio. Di sanggar itu pula latihan barongsai berlangsung. Demikian pula pengobatan tradisional Tiongkok, akupunktur. ’’Justru banyak warga dari luar Kapasan Dalam yang datang untuk latihan kungfu dan barongsai. Gratis,’’ ujar Michael.

Di kampung yang terdiri atas 5 RT itu, 90 persen warganya adalah etnis Tionghoa. Sementara itu, 10 persen lainnya adalah Jawa dan Madura. Soal keyakinan, warga memeluk beragam agama. Ada Konghucu, Kristen, Islam, dan Buddha. ’’Selain kelenteng, kampung kami juga punya musala, vihara, dan gereja,’’ urainya.

Generasi keempat keturunan Tionghoa yang tinggal di Kapasan Dalam masih menjunjung tinggi tradisi leluhur. Bahkan, para pengusaha sukses yang lahir dari kampung itu masih kembali ke rumah lama mereka tiap perayaan tertentu. ’’Rumah-rumahnya masih ada dan kosong. Mereka tidak menjualnya karena percaya leluhurnya ada di rumah itu. Jadi, kadang datang untuk sembahyang,’’ ungkap Michael.

PELESTARI: Suseno Karja bangga merawat dan meneruskan tradisi leluhur di Kampung Tambak Bayan.

Yang sama uniknya dengan Kampung Kapasan Dalam adalah Pecinan Tambak Bayan di Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan. Kampung itu ada sejak 1800-an. Wakil Ketua RT 2, RW 2, Kelurahan Alun-Alun Contong Suseno Karja mengatakan, pendatang dari Tiongkok baru berbondong-bondong ke kampung itu pada 1900-an. ’’Awalnya, mereka datang ke sini karena menghindari konflik di daratan Tiongkok,’’ ujarnya kepada Jawa Pos pada Rabu (31/1).

Mayoritas penduduk Tambak Bayan adalah perajin kayu. Mereka ahli membuat meja sembahyang, lemari, dan tempat tidur. ’’Sampai sekarang, masih banyak warga yang bekerja sebagai tukang kayu. Hasil kerja tukang kayu Tionghoa di Tambak Bayan dikenal halus dan bagus,’’ katanya.

Saat ini Tambak Bayan terdiri atas 100 kepala keluarga. Sebanyak 90 persen di antaranya adalah keturunan etnis Tionghoa dan 10 persen sisanya Jawa.

CAK GEPENG: Liem Kiem Hau adalah generasi ketiga keturunan Tionghoa di Kampung Tambak Bayn.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore