
KASUS LANGKA: Dari kiri, dr Danang Himawan Limanto SpBTKV MKed Klin, dr Joni Wahyuhadi SpBS(K), Prof Dr dr Med Puruhito SpB(K)TKV, dan Dr Yan Efrata Sembiring dr SpB SpBTKV(K) (dua dari kanan) saat mengunjungi Agus Sukawanendra di ruang ICU gedung Pusat P
Kasus Penggelembungan Pembuluh Darah Aorta di Dada dan Perut
JawaPos.com - Agus Sukawanendra masih terbaring lemah di ruang intensive care unit (ICU) gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD dr Soetomo kemarin (10/8).
Meski begitu, kondisinya sudah stabil dan bisa berkomunikasi setelah menjalani operasi perbaikan pembuluh darah aorta abdomen/perut (repair abdominal aortic aneurysm).
Kondisi pria 54 tahun itu jauh lebih baik ketimbang ketika kali pertama dirujuk di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur tersebut pada 20 Juli lalu. Laki-laki 54 tahun itu adalah pasien rujukan dari Mojokerto. Saat itu kondisi Agus sudah sangat parah. Dia tidak bisa bergerak dan buang air besar (BAB) karena penggelembungan pembuluh darah sudah menempel hingga ke usus.
”Keluhannya, perutnya sakit dan mendadak tidak bisa jalan,” kata Nurjanah, istri Agus, saat ditemui Jawa Pos di ruang ICU PPJT RSUD dr Soetomo kemarin.
Nurjanah menjelaskan, suaminya sakit sejak 2021 dan sempat diopname di sebuah rumah sakit di Mojokerto. Saat itu perutnya sakit dan langsung membesar. Selain itu, punggung dikeluhkan sakit. ”Setelah opname itu, sempat pulang. Kemudian, sakitnya terasa lagi,” ujarnya.
Opname kedua, lanjut dia, suaminya langsung dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Sebab, kondisinya semakin parah. Agus mendadak tidak bisa jalan dan hanya bisa berbaring. ”Padahal, suami saya tidak pernah merokok, ngopi, dan hipertensi,” jelasnya.
Saat dirujuk ke RSUD dr Soetomo, kondisi Agus sudah sangat parah. Diagnosis dokter, terjadi penggelembungan pembuluh darah aorta di dada dan perut (aneurisma aorta abdominal). Angka penggelembungannya mencapai 20 sentimeter. Padahal, normalnya sekitar 2 sentimeter dan maksimal 5 sentimeter.
Risiko pembuluh darah aorta pecah pun sangat tinggi. Akibatnya, pasien tidak bisa berjalan dan hanya berbaring. Jika pasien bergerak sedikit saja, pembuluh darah akan pecah dalam hitungan menit.
Kasus itu sangat jarang bisa sampai rumah sakit ketika pembuluh darah telah pecah. Jadi, Agus harus segera menjalani operasi penggantian pembuluh darah aorta abdominal. ”Operasi ini bersifat urgen atau harus segera dilakukan,” kata Dr Yan Efrata Sembiring dr SpB SpBTKV (K), tim dokter bedah yang terlibat dalam operasi besar tersebut.
Yan mengungkapkan, dalam penanganan pasien itu sayangnya endovaskular (teknik bedah minimal invasif) tidak bisa dilakukan. Sebab, penggelembungan tersebut telah mengenai seluruh pembuluh darah di perut. Jadi, pembuluh darah memakan hingga ke liver, limpa, ginjal kanan dan kiri, serta usus. ”Semua sudah terkena penggelembungan pembuluh darah,” ujarnya.
Operasi untuk kasus Agus terbilang sangat sulit. Sebab, penanganannya tidak seperti mengganti pembuluh darah yang lain. Namun, saat operasi, rongga dada dan perut harus dibuka. Karena itulah, operasi harus dilakukan tim dokter yang solid dan memahami operasi bedah jantung. ”RSUD dr Soetomo sudah memenuhi kriteria tersebut,” kata dia.
Operasi penggantian pembuluh darah aorta abdominal tersebut di bawah dokter penanggung jawab pasien (DPJP) dr Danang Himawan Limanto SpBTKV MKed Klin. Selain itu, ada dr Fajar SpAn KAKV, dr Puger SpAn KIC, dr Kun Arifi Abbas SpAnKIC, dan dr Aswin SpAn KAKV.
Pada waktu operasi, lanjut dia, dibuka rongga dada untuk melakukan bypass pembuluh darah dan memasang klem (penjepit) pada pembuluh darah aorta. ”Pada saat operasi, jangan sampai jantungnya rusak. Begitu juga organ vital lainnya seperti limpa, hati, serta ginjal kanan dan kiri,” tuturnya.
Yan menjelaskan, kesulitan dalam operasi tersebut adalah pembuluh darah pasien mengalami pengapuran. Jadi, teknik operasinya lebih sulit. Pada kasus Agus, ada dua tahap teknik operasi yang dilakukan. Pertama, pembuluh darah aorta abdominal diganti. Saat itu terjadi pendarahan yang cukup banyak. Kemudian, dilakukan pemberian tampon kasa untuk menghentikan pendarahan. Dua hari kemudian, dilakukan operasi tahap kedua. Yakni, pengambilan tampon kasa dan pengecekan sumber-sumber pendarahan. ”Ternyata pendarahan berhenti. Pasien ini mendapatkan banyak transfusi darah,” kata dia.
Yan menyatakan, operasi itu memiliki risiko yang sangat tinggi. Apalagi, kasus itu jarang terjadi di Indonesia. Bahkan, Agus adalah pasien pertama di Indonesia Timur. ”Pasien Agus adalah kasus pertama dengan operasi tersulit yang ditangani RSUD dr Soetomo. Dan, tim kami yang sudah terbiasa menangani kasus-kasus kompleks berhasil membuat pasien survive,” ujarnya.
Danang mengungkapkan, operasi yang dilakukan terhadap pasien Agus memiliki risiko kegagalan yang tinggi. Tingkat survival-nya hanya 10 persen untuk resource Indonesia. Apalagi dengan keterbatasan fasilitas yang dimiliki rumah sakit. ”Banyak teknik yang harus kami akali agar operasi berhasil,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD dr Soetomo dr Joni Wahyuhadi SpBS (K) menyatakan, operasi yang dilakukan untuk pasien Agus tergolong mahal. Biayanya lebih dari Rp 300 juta. Biaya pengobatan pasien tersebut ditanggung BPJS. ”RSUD dr Soetomo menjadi rujukan terakhir di Jatim. Meski klaimnya jauh di bawah unit cost yang dibutuhkan, kami tetap menangani pasien,” ujarnya.
Joni menyampaikan, 30 persen kasus yang ditangani RSUD dr Soetomo adalah kasus kompleks dan mahal. Meski klaim BPJS tidak mencukupi pembiayaan, lanjut Joni, pihaknya tetap ditugaskan untuk memberikan pelayanan. ”Ini bisa menjadi masukan untuk pemerintah. Khususnya Kemenkes. Monggo dirasionalkan tarifnya,” tutur dia.
Selama ini RSUD dr Soetomo secara umum mengalami minus karena banyaknya kasus kompleks dan berbiaya mahal yang ditangani. Namun, sesuai dengan arahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pelayanan RSUD dr Soetomo harus terbaik untuk masyarakat.
RSUD dr Soetomo memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam menangani kasus-kasus kompleks. Hanya, perhatian dari pemerintah pusat terkait dengan penentuan tarif masih kurang. ”Tarif harus dirasionalisasi agar rumah sakit bisa berkembang dan mampu bersaing dengan rumah sakit di luar negeri,” tegasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
