
Photo
JawaPos.com- Suara itu terdengar merdu. Rancak berirama. Berpadu dengan alat music terbang. Alunan lagu berjudul Kunci Surga mengiringi musik tabuh tersebut. Terkadang saling bersahutan. Mendayu merdu. Menyapu ke telinga setiap yang mendengarnya.
Itulah sekilas gambaran penampilan grup Al Muhyiddin Sindujoyo, Kroman, Gresik. Kala mereka mengikuti lomba bedug teter di aula Masjid Agung Gresik (MAG) Minggu (5/12) lalu. Kompetisi yang diinisiasi MUI Kabupaten Gresik itu diikuti puluhan grup anak muda. Putra dan putri.
Wajar, kalau grup Al Muhyiddin pun dinobatkan sebagai juara I lomba Bedug Teter 2021. ‘’Penampilan mereka memang luar biasa. Kompak. Suara bedugnya begitu terasa. Berpadu dengan alat musik tabuh lainnya. Vokalnya juga bagus,’’ kata Sri Wahyuni, ketua Komisi Seni Budaya dan Pemuda MUI Kabupaten Gresik, Rabu (7/12).
Sudah dua tahun ini MUI Kabupaten Gresik menyelenggarakan lomba Bedug Teter. Salah satu tujuannya untuk memfasilitasi para remaja dan anak muda berkegiatan positif, berkarya, dan menyalurkan bakat serta kreativitas mereka di bidang seni. Di lomba ini, alat musiknya bukan hanya bedug. Namun, boleh dipadupadankan atau dikolaborasikan dengan jenis alat musik lain.
‘’Kami ingin mewadahi bakat anak-anak muda Kota Santri di bidang seni sehingga tradisi Islami itu tidak punah, sekaligus bisa sebagai salah satu sarana dakwah melalui syair dan lagu,” kata Uyun, panggilan akrabnya.
Dulu, sebetulnya lomba Bedug Teter sudah pernah digelar di Gresik. Seingat Uyun, tempatnya di Alun-alun Kota Gresik. Salah satu penggagasnya adalah KH Mukhtar Djamil. Namun, kegiatan tersebut tidak lagi berjalan. Karena itu, pihaknya ingin menghidupkannya kembali.
‘’Anak-anak muda mesti kita fasilitasi dengan kegiatan positif. Menjaring anak-anak muda yang memiliki talenta dalam bidang seni religi. Mengasah bakat mereka,’’ tambahnya.
Dia pun memimpikan lomba Bedug Teter itu terus menggema seperti bunyinya. Menjadi salah satu seni pertunjukan menarik. Terlebih, bisa menjadi destinasi wisata budaya di Gresik pada momen-momen tertentu. Misalnya, saat Hari Jadi Gresik, Ramadan, menyambut Hari Raya, Hari Besar Islam, atau pada momentum lainnya.
Kendati bedug bukan berasal asli dari Kota Pudak, namun sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. ‘’Di era digital, anak-anak muda juga menyuguhkan konten berupa kreativitas seni religi seperti itu dan mewarnainya. Dengan begitu, lebih bermanfaat daripada konten-konten kurang manfaat,’’ ungkapnya.
Berdasar buku Kota Gresik 1896-1916 karya Oemar Zainuddin, bedug teter juga sudah menjadi salah tradisi yang berkembang di masyarakat Gresik dalam rentang waktu tersebut. Ada juga lain seperti tradisi jomblang, tradisi mengusir wabah, tradisi tayung raci Sidayu, tradisi kemanten sunat, tradisi ater-ater dan jajan pasar.
Photo
Grup Al Muhyiddin Sindujoyo, Korman, meenjadi juara I dalam lomba Bedug Teter 2021 yang diselenggarakan MUI Gresik.
Asal-Usul dan Sejarah Bedug
Morfologi bedug terbuat dari satu batang pohon kayu lapis. Bagian tengahnya diberi rongga lubang hingga tembus kedua sisinya. Pada ujung kedua sisinya, dipasang kulit sapi, kerbau atau kambing. Kulit tersebut sebagai membran atau selaput gendang sehingga ketika dipukul menghasilkan bunyi nyaring. Alat pemukulnya pun terbuat dari kayu.
Sudah umum, bedug sebagai salah satu instrumen pelengkapan masjid di Indonesia. Terutama di Jawa. Di sejumlah masjid, bedug biasanya ditempatkan di beranda atau serambi. Ada pula yang diberi rumah kecil dan terpisah dari masjid. Fungsi bedug digunakan sebagai penanda waktu.
Dikutip dari situs Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Gresik, bedug termasuk salah satu koleksi unggulan di Museum Sunan Giri Gresik. Musuem yang diresmikan pada 9 Maret 2002 bersamaan Hari Jadi Gresik. Bedug itu diperoleh dari masjid Desa Pasucinan, Kecamatan Manyar. Berdasarkan foxlore, bedug tersebut merupakan peninggalan Maulana Malik Ibrahim.
Beberapa sumber lain menyebut, bedug sudah ada sejak zaman prasejarah. Tapi, namanya bukan bedug. Bentuknya pun tidak seperti yang ada di masjid-masjid sekarang. Konon, wujudnya mirip dandang. Bahannya bukan dari kayu, melainkan logam perunggu. Fungsinya juga bukan sebagai penanda waktu. Tapi, untuk ritual tertentu.
Di masa Kerajaan Majapahit, bedug fungsinya mirip kentongan di kampung-kampung. Yakni, sebagai penanda ada peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya, bencana, kabar duka, kerja bakti atau gotong royong, hingga peperangan.
Lalu, ketika agama Islam sudah tersebar ke Nusantara, alat musik menyerupai bedug konon diperkenalkan oleh Laksamana Zheng He alias Cheng Ho, penjelajah muslim asal Tiongkok masa Dinasti Ming itu.
Sementara itu, dalam kutipan Kees van Dijk dalam sebuah artikel ''Perubahan Kontur Masjid'', bedug baru dikenal luas masyarakat saat masa Hindia Belanda atau baru abad 20. Sebelumnya, pada abad 14-16, bedug sudah ada. Tapi, belum tersebar. Nah, di masa Wali Songo, bedug baru banyak terdapat di masjid-masjid. Fungsinya sebagai penanda waktu. Ditabuh sebelum azan. Maklum, belum ada pengeras suara.
Dalam sejarah perkembangannya, bedug juga telah dibolehkan dan dikukuhkan sebagai bagian dari syiar Islam di Indonesia pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kini, masyarakat Indonesia terutama umat Islam sudah sangat familiar dengan bedug.
Bedug pun sudah bertransformasi menjadi salah satu ikon. Bagian dari kekayaan budaya di Nusantara. Warisan turun temurun. Terlebih disebut ada makna filosofis yang terkandung di dalam pemakaian bedug. Yakni, nilai-nilai kebersamaan dan kebahagiaan, suka cita merayakan peristiwa seperti kala berlebaran.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
