Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 November 2021 | 02.27 WIB

Damar Kurung Masmundari, Cerita yang Terus Menyala

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Bagi warga luar daerah, saat melintas di sejumlah jalur protokol Kota Gresik, tentu bisa melihat ’’benda aneh’’. Benda-benda itu menggelantung di median jalan. Terpasang di tiang-tiang penerangan jalan umum (PJU). Berderet memanjang. Sebut saja di Jalan Veteran,  Jalan R.A. Kartini hingga Jalan dr Wahidin Sudirohusodo.

Wujud ’’benda aneh’’ itu segi empat. Kubus. Bagian atas segi empatnya berbentuk segitiga atau seperti huruf M. Pada tudung penutupnya terdapat gambar atau lukisan. Jika dicermati, gambar-gambar tersebut bukan sembarang lukisan. Tapi, ada cerita-cerita yang menggambarkan tradisi dan keragaman kehidupan masyarakat Gresik.

Kehidupan masyarakat Gresik yang tertuang dalam lukisan cerita damar kurung itu antara lain bertemakan keagamaan. Mulai salat berjamaah, mengaji, pasar bandeng jelang akhir Ramadan, nyekar ke makam, seni hadrah, Lebaran dan sejenisnya. Yang menarik lagi, lukisan cerita itu bergerak dari kanan ke kiri. Tak ubahnya membaca huruf Arab. Gambaran karakter khas Gresik sebagai salah satu kabupaten di Jatim yang kental dengan nuansa Islam.

Bagi warga Gresik, benda tersebut relatif sudah  tidak asing. Namun, bagi warga luar daerah, kemungkinan mereka menganggapnya sekadar ornamen biasa saja. Tak benilai dan tak bermakna, Padahal, terbilang sangat luar biasa. Itulah damar kurung.

Dikutip dari situs dinas kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Pemkab Gresik, damar diambil dari bahasa Jawa. Artinya salah satu alat penerang. Sedangkan kurung berarti penutup. Di masa silam, awalnya damar kurung dipakai mainan anak-anak ketika memasuki bulan puasa Ramadan. Terutama warga di pesisir Gresik seperti kawasan Lumpur dan sekitarnya.

Kini, damar kurung telah menjadi bagian dari estetika. Dibuat dalam ragam bentuk dan kreasi. Ada yang bisa dapat dilipat dan ada pula yang keempat sisinya menggunakan material acrylic. Bukan dari kayu. Dengan demikian, nyala lampunya semakin terang.

Di beberapa store juga menyediakan beragam kreasi damar kurung itu. Sebagai salah satu oleh-oleh khas dari Gresik. Bahkan, nama damar kurung telah meluas. Melebih wujud aslinya sendiri. Mulai menjadi nama tarian hingga corak atau motif batik.

Adalah almarhumah Masmundari, sosok perempuan yang memiliki andil besar pada damar kurung. Karya pelita ini telah ditetapkan pemerintah RI melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), sebagai salah satu warisan kekayaan budaya tak benda atau budaya hidup di Indonesia dari Provinsi Jawa Timur. Ketegorinya, kemahiran dan kerajinan tradisional.

Nah, sebagai bagian untuk turut serta melestarikan dan makin membumikannya, tiga perempuan muda telah membangun Museum Digital Masmundari. Mereka adalah Hidayatun Nikmah, Ayuning Tyas Muji Rahayu, dan Dewi Nastiti Anindya yang tergabung dalam Yayasan Gang Sebelah, dengan dukungan dari Kemendikbudristek RI.

Sabtu (27/11) malam, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani meresmikan Museum Masmundari tersebut, bertempat di Ruang Putri Mijil, Pendopo Kabupaten Gresik. Perilisan museum virtual itu juga menjadi sejarah baru bagi perkembangan damar kurung di masa pandemi Covid-19.

Hidayatun Nikmah, direktur acara Museum Masmundari, menyatakan kebanggaannya atas sosok almarhumah Masmundari yang sangat gigih dan tak kenal lelah untuk dunia seni dan kebudayaan Gresik. Sebagai perempuan, pihaknya mengambil banyak pelajaran dari sosok Masmundari.

Photo

Bupati Fandi Akhmad Yani meresmikan Museum Virtual Damar Kurung Masmundari di Ruang Putri Mijil Pendopo Kabupaten Gresik, Sabtu (27/11).

’’Perempuan tidak hanya bekerja sebagai rumah tangga, tetapi juga bisa sebagai pekerja seni dan pekerja kebudayaan. Ada legacy berupa karya abadi dan memberi banyak manfaat,’’ ungkapnya.

Ida, panggilan akrab Hidayatun Nikmah, sebagai generasi milenial pihaknya juga ingin memberikan apresiasi kepada Masmundari. Dari situlah, kemudian muncul ide agar karya-karya almarhumah Masmundari didigitalisasi dan terdokumentasi dalam sebuah museum virtual itu. Dengan begitu tidak akan punah.

’’Belajar dari era masa lalu dan bisa melanjutkan ke masa depan. Damar kurung adalah Gresik, cerita yang terus menyala. Nah, Bunda Masmundari adalah salah satunya,’’ kata Ida.

Masa pandemi Covid-19, telah banyak mengajari manusia tentang perubahan perilaku menuju digitalisasi. Demikian juga dengan ide terciptanya Museum Masmundari. Terlebih, sejauh ini di Gresik belum ada tempat khusus yang utuh menyebarkan tentang sosok Masmundari dan damar kurung sebagai salah satu warisan tak benda.

Sementara itu, bupati mengatakan, perilisan Museum Masmundari dalam bentuk digital itu sebagai salah satu teladan akan produktifitas, kreatifitas, dan inovasi kaum milenial Gresik. Dia pun menaruh harapan serupa, terus muncul inovasi-inovasi yang luar biasa dari para generasi muda lainnya.

“Kami mendorong untuk terus berinovasi. Museum virtual Masmundari ini sebuah contoh inovasi yang sangat luar biasa,” ujar Yani.

Sejumlah sosok perempuan milenial di Yayasan Gang Sebelah, lanjut Yani, menjadi satu contoh positif yang merespons perubahan dan perkembangan saat ini. Ada adaptasi dengan kemajuan teknologi. Demikian juga di dunia seni dan budaya. Dengan begitu, karya tidak hilang dan menjadi bisa sumber pengetahuan untuk para generasi mendatang.

Untuk dapat mengenal lebih dekat dengan sosok Masmundari, seputar damar kurung hingga media-media massa tempol dulu yang pernah mengupasnya, publik tinggal berselancar di situs museummasmundari.com. ‘’Museum Masmundari ini merupakan salah satu wujud peran kaum perempuan untuk ikut memberikan warna dalam perkembangan kebudayaan Gresik,’’ ungkap Dewi Musdalifah, pembina Yayasan Gang Sebelah.

Di era revolusi industri 4.0, mengunjungi sebuah museum kini tidak lagi harus datang ke tempatnya. Pengunjung bisa melihat-lihat untuk mendapat pengetahuan baru dari museum itu, cukup daring. Berselancar virtual. Agar makin banyak dikunjungi, maka content is king, seperti kutipan esai yang ditulis pendiri Microsoft, Bill Gates, pada 1996. Karena itu, kreativitas dan inovasi menjadi satu kunci.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore