Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Oktober 2021 | 17.46 WIB

Dampak Pengeboran, Muncul Kubah Lumpur di Gunung Anyar

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Di Kota Surabaya terdapat kawasan yang memiliki potensi penurunan tanah per tahun. Misalnya, Asemrowo dan Pantai Kenjeran. Selain itu, ada juga kawasan yang tanahnya setiap tahun naik. Namun, kenaikannya kecil, hanya 0,36 milimeter per tahun. Lokasinya, di Jalan Gunung Anyar Tengah.

Dari hasil penelitian yang dilakukan selama 2015–2017, salah satu penyebab kenaikan tanah di kawasan tersebut adalah semburan lumpur. Meski, debit volume semburan lumpur tidak menentu dan tidak dapat diprediksi setiap saat.

Menurut Kaprodi Pascasarjana Teknik Geomatika ITS Ira Mutiara Anjasmara, gunung lumpur muncul akibat pengeboran masa lalu. ”Karena trigger pengeboran itu memiliki potensi munculnya mud diapir atau kubah lumpur,” ujarnya.

Menurut pakar geologi ITS Amien Widodo, kubah lumpur itu juga disebut sebagai mud volcano lantaran tanah berlumpur tersebut sudah keluar dari dalam tanah. ’’Disebut itu karena lumpur-air-gas keluar sendiri akibat tekanan dari dalam. Seperti volcano, tapi yang keluar lumpur,’’ jelasnya.

Dari pantauan di lapangan, ada dua titik yang masih mengeluarkan lumpur, walaupun dengan intensitas kecil. Semburan lumpur dari dua titik itu membentuk gundukan tanah yang kering. Tampak retakan-retakan tanah berdiameter kurang lebih 1–2 meter.

Amien mengungkapkan, Surabaya dulu menjadi salah satu kota eksploitasi migas oleh Belanda. Eksploitasi migas itu diketahui mulai 1886 dan ditinggalkan pada 1937. Menurut dia, terdapat tiga lapangan bekas eksplorasi migas oleh Belanda di Surabaya. Tepatnya berada di sekitar Lidah Kulon, Krukah, dan Kutisari. ’’Setidaknya di setiap daerah tersebut terdapat puluhan sumur yang dulu aktif mengeluarkan migas dari dalam tanah,’’ tuturnya.

Ditanya soal data keberadaan sumur-sumur tersebut, Amien mengungkapkan, titik koordinat masih memiliki ketidakpastian. ’’Selain itu, wilayah bekas eksploitasi kini banyak dialihfungsikan menjadi lahan terbangun sehingga semakin sulit untuk dilakukan pengecekan,’’ paparnya.

Meski begitu, dosen Departemen Teknik Geofisika ITS tersebut mengatakan tak perlu khawatir dengan kondisi yang sering disebut sebagai gunung anyar itu. Sebab, pengeboran yang dilakukan Belanda tak lebih dari sekitar 400 meter. Menurut dia, pengeboran tersebut tak seperti lumpur di Sidoarjo yang sumurnya memiliki kedalaman sampai 3.000 meter. ’’Kalau ada semburan, dipastikan tidak besar dan cepat berhenti,” lanjutnya.

Dia menambahkan, ada potensi menarik di balik situasi itu. Salah satunya menjadi kawasan wisata taman geologi untuk kepentingan edukasi dan penelitian tentang geologi dan minyak bumi sebagai bagian kawasan cekungan migas Jawa Timur. ’’Saya kira ITS siap jika harus melengkapi cerita geologi kawasan tersebut. Harapannya, muncul kegiatan ekonomi masyarakat setempat sehingga ikut menghargai kawasan itu,’’ paparnya.

Warga Gunung Anyar Tengah Ruliawan mengatakan, agar situasi di sekitar gundukan tanah tak terlihat gersang, masyarakat menanam 500 bibit pohon. Di antaranya, pohon kelengkeng, mangga, sawo, dan lamtoro. ’’Ya agar kondisi lebih berbeda saja. Alhamdulillah, tidak mati tumbuhannya. Baru pandemi tahun lalu tanamnya,’’ tandasnya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore