Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Agustus 2021 | 06.06 WIB

Cerpen Pilot Bejo Karya Budi Darma Akan Dijadikan Series

Universitas Airlangga. Dok. JawaPos - Image

Universitas Airlangga. Dok. JawaPos

JawaPos.com–Sastrawan Budi Darma berpulang pada Sabtu (21/8) pagi. Sosok penulis dan guru besar dari Universitas Negeri Surabaya tidak hanya meninggalkan buku-buku mahakarya seperti Olenka (1983), Raflus (1998), kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington (1981). Namun juga, cerita pendek (cerpen) yang masih membekas di benak masyarakat Indonesia seperti Pilot Bejo.

Cerpen itu kabarnya akan diangkat menjadi film. Putra bungsu Budi Darma, Hananto Widodo, mengaku bahwa sebelum berpulang, mendiang sempat menyiapkan proyek film tersebut. ”Kabarnya cerpen tersebut akan difilmkan bersama Mbak Dewi Umaya,” tutur Hananto ketika ditemui di kediamannya.

Saat dikonfirmasi, Dewi membenarkan hal tersebut. Bahkan, cerpen Pilot Bejo sudah dikembangkan untuk menjadi film layar lebar dan turunannya sejak 2017.

”Saat ini salah satu OTT (over the top atau platform digital penyedia layanan film) di Indonesia sudah dipastikan akan mengangkat cerpen karya Pak Budi Darma ini sebagai series,” tutur Dewi ketika dihubungi pada Sabtu (21/8).

Bersama tim kreatifnya, Dewi sudah melakukan diskusi mendalam dengan Budi Darma. Sosok produser yang berada di balik film Guru Besar Tjokroaminoto itu mengaku sangat  terpukul dengan kepergian Budi Darma.

”Beliau orang yang sangat baik dan bijaksana. Kami sering mendapatkan masukan. Bahkan petuah dan pesan. Kami ada grup di WhatsApp untuk diskusi soal series ini. Beliau sering memberi masukan. Tiap kali kami baru memikirkan sesuatu untuk series dan bertanya, masukan beliau, pasti masukan beliau up to date dan relatable,” jelas Dewi.

Ada beberapa alasan mengapa Dewi memilih cerpen Pilot Bejo untuk dijadikan series. Dia menyebut seluruh karya Budi Darma sebagai mahakarya. Di antara seluruh mahakarya itu, Pilot Bejo dipilih karena ringan.

”Seluruh karya Pak Budi adalah mahakarya. Kami memilih cerpen itu karena ringan namun punya pesan mendalam. Tidak semua orang atau penulis bisa menulis dan membuat mahakarya seperti beliau. Pak Budi punya imajinasi yang liar, kemampuan yang luar biasa untuk menggambarkan sesuatu. Dari Pilot Bejo ini, kisahnya ringan, namun mampu menggambarkan kondisi saat itu, bahkan pergolakan politik yang terjadi,” papar Dewi.

Sosok produser di film Hanum dan Rangga (2018) itu sempat terpapar Covid-19 pada Mei. Bahkan sempat bercerita banyak kepada Budi Darma. Banyak pesan yang diberikan, salah satunya adalah untuk tetap berkarya dalam kegembiraan.

”Saya sangat terpukul. Dua hari yang lalu saya chat ke Mas Hananto (putra bungsu Budi Darma) tanya kondisinya. Dari Mas Hananto saya diberi update terbaru kondisi Pak Budi. Mulai dari saturasi oksigennya, sampai tekanan nadinya. Saya bilang ke beliau, saya titip doa supaya cepat sembuh. Saya juga sempat unggah foto beliau di Instagram. Saya doakan beliau. Ternyata pagi tadi dapat kabar beliau berpulang,” terang Dewi.

Dengan kepulangan Budi Darma, perempuan yang memproduseri Minggu Pagi di Victoria Park (2010) dan Partikelir (2018) itu menegaskan, proses produksi series akan tetap dilanjutkan. Dia menyebut tahun depan sudah siap dirilis.

Cast sudah ada. Pak Budi juga sudah tahu (cast). Awal tahun siap diluncurkan,” ucap Dewi.

Dewi akan duduk di kursi produser, sementara Pic[k]lock Films akan menjadi production house yang menaungi proses pembuatan series tersebut.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore