
Ilustrasi vaksinasi lansia di salah satu rumah sakit di Surabaya. Alfian Rizal/JawaPos
JawaPos.com–Polemik penggunaan vaksin AstraZeneca masih bergulir. Terlebih ketika pemerintah mengetahui batas kadaluarsa vaksin Mei 2021. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menunda pelaksanaan vaksinasi dari vaksin AstraZeneca, menunggu keputusan resmi dari World Health Organization (WHO) mengenai efek samping vaksin tersebut.
Sebelumnya, sampai 8 Maret ditemukan 15 kasus DVT (pembekuan darah di vena dalam) di sejumlah negara Eropa. Selain itu, 22 kejadian emboli paru penerima vaksin AstraZeneca di Inggris dan negara Uni Eropa. Sehingga pada 15 Maret, sejumlah negara Eropa menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca.
Guru Besar Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Profesor C.A. Nidom menjelaskan, perbedaan antara vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca terletak pada platform vaksin.
”Beda antara vaksin AstraZeneca dengan vaksin Sinovac terletak pada platformnya. Sinovac itu vaksin dengan isi virus Covid-19 yang telah diinaktivasi. Sedangkan AstraZeneca berisi mRNA yang setelah disuntikkan akan menghasilkan protein spike dari virus Covid-19,” urai Nidom pada Rabu (17/3).
Menurut Nidom, vaksin jenis itu didapatkan Pemerintah Indoensia melalui bantuan WHO dan jalur COVAX. Jalur COVAX merupakan kerja sama multilateral yang ingin memastikan bahwa semua orang di dunia memperoleh vaksin Covid-19.
Untuk efikasi vaksin AstraZeneca, menurut Nidom, sekitar 80–90 persen. ”AstraZeneca sekarang sudah di Indonesia karena bantuan WHO. Efikasi (pembentukan imun dan antibodi tubuh) vaksin AstraZeneca sekitar 80–90 persen,” tutur Nidom.
Soal kasus pembekuan darah, pasca pemakaian vaksin AstraZeneca, Nidom melihat bahwa kejadian itu karena protein liar yang tidak sesuai dengan desain.
”Kemungkinan disebabkan mRNA dari vaksin AstraZeneca menghasilkan protein liar, tidak sesuai dengan yang didesain. Protein baru ini berpengaruh terhadap munculnya immune thromboplastine sehingga terbentuk platelet-platelet yang akan menjadi trombosis (pembeku darah). Kelainan ini diduga berkaitan dengan autoimmune serta carrier autoimmune,” terang Nidom.
Dia menambahkan, vaksin AstraZeneca belum memperoleh sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sertifikat keamanan dari Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM).
”Vaksin apa saja adalah satu dari sekian banyak upaya untuk mengatasi pandemi Covid-19. Belum ada satupun vaksin yang menunjukkan hasil, karena semua bersifat coba-coba (dalam uji coba). Untuk sertifikasi halal belum pernah dengar, demikian juga izin BPOM,” ucap Nidom.
Sebelumnya, BPOM menjelaskan, vaksin AstraZeneca didaftarkan ke BPOM melalui dua jalur. Yakni, jalur bilateral yang didaftarkan PT Astra Zeneca Indonesia dan jalur multilateral melalui mekanisme COVAX Facility yang didaftarkan PT Bio Farma.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/B44j0AJZgek
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
