Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Agustus 2020 | 22.15 WIB

Soal Pagelaran Seni di Surabaya, Begini Anjuran Epidemiolog Unair

Ilustrasi sabu-sabu. Dok. JawaPos - Image

Ilustrasi sabu-sabu. Dok. JawaPos

Jawapos.com - Beragam cara ditempuh kepala daerah untuk menghilangkan kebosanan masyarakat selama pandemi Covid-19. Salah satunya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berencana membuka kembali bioskop di ibu kota. Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berencana menggelar konser Ari Lasso secara offline. Di sisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sedang menggodok ide untuk menyelenggarakan pagelaran seni.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Atik Choirul Hidajah mengatakan bahwa sebelum menggelar pagelaran atau acara, pihak terkait harus memastikan bahwa pandemi telah terkendali.

“Hal ini dapat dilihat dari indikator yang digunakan untuk menentukan risiko suatu daerah agar dapat beraktivitas aman dan produktif,” tuturnya ketika dihubungi JawaPos.com pada Sabtu (29/8).

Atik menambahkan pemerintah harus kembali melihat persebaran dan jumlah penderita Covid-19 di tempat-tempat tertentu. “Jika mengacu pada zonasi tersebut, Surabaya masih berada pada zona merah, sehingga aktivitas yang dapat dilakukan juga terbatas. Hanya pada sektor yang esensial saja,” ujarnya.

Dia tidak menampik mengenai anggapan bahwa rasa bahagia dapat meningkatkan imunitas dan bisa menghindarkan masyarakat dari virus. Namun, ada beberapa hal yang menurut Atik harus diperhatikan masyarakat.

“Tapi, aktivitas apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan rasa bahagia tadi juga tetap harus mempertimbangkan apakah akan menimbulkan kerumunan, apakah dilakukan di ruang tertutup dan lain sebagainya. Jadi hal-hal itu tetap harus dipertimbangkan,” lanjutnya.

Menurutnya, pemerintah boleh-boleh saja menggelar kegiatan yang dirasa mampu menciptakan rasa bahagia masyarakat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Selain itu, Atik yang juga menjadi dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat ini juga mengingatkan bahwa Surabaya masih zona merah. “Artinya, risiko penularan di masyarakat masih tinggi,” katanya.

Atik menyarankan pemerintah untuk kembali mempertimbangkan format pagelaran maupun acara yang akan dilakukan. “Lebih baik membuat format pagelaran yang tetap bisa dinikmati dengan physical distancing. Selain itu, pemerintah perlu memperhatikan kondisi dan kemungkinan masyarakat yang akan melepas masker untuk makan dan minum selama menyaksikan pagelaran,” tukasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=M5qjYuEwjWY

Editor: Edy Pramana
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore