Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Januari 2020 | 22.07 WIB

Jenazah Sulit Dipulangkan dari RS, Anwar Medika: Tidak Ada Keluarga

Mujiyati dipeluk tetangga yang iba atas musibah yang menimpa putranya. (Maya Apriliani/Jawa Pos) - Image

Mujiyati dipeluk tetangga yang iba atas musibah yang menimpa putranya. (Maya Apriliani/Jawa Pos)

JawaPos.com - Hidup Angga Prasetyo sungguh tragis. Putra tunggal pasangan Suwarsono dan Mujiyati itu meninggal dunia di usia muda. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas bersama ayahnya pada Kamis petang (16/1). Jenazahnya sulit dipulangkan dari rumah sakit.

Angga baru dimakamkan sekitar pukul 10.00 kemarin (17/1). Sebab, jenazah baru tiba di rumah duka pukul 09.00. Peti kayu pun dibuat dadakan sebelum pemakaman. Sebab, jenazah dibawa dari rumah sakit tanpa peti.

Berdasar informasi, Angga mengalami kecelakaan di Jalan Raya Krian pada Kamis pukul 18.30. Pemuda 19 tahun itu diboncengkan ayahnya, Suwarsono, menuju ke Waru. Angga membawa dua kruk karena kakinya masih sakit.

Saat hendak menyalip sebuah truk, motornya jatuh. Korban pun terlindas. Angga terluka parah. Ayahnya mengalami patah kaki. Kabar Angga meninggal di Rumah Sakit Anwar Medika sampai kepada keluarga. Kira-kira pukul 19.00.

Tetangga yang mendengar kecelakaan itu datang ke rumah sakit. Selain melihat kondisi Angga, mereka menjenguk Suwarsono. Nah, perselisihan muncul saat tetangga hendak membawa pulang jenazah Angga.

Di media sosial santer disebut jenazah Angga ditahan rumah sakit. Tidak bisa dibawa malam itu juga. Gara-garanya, keluarga tidak bisa membayar biaya pengurusan jenazah tersebut. Jumlahnya Rp 5,25 juta.

Keluarga Angga tidak punya uang sebanyak itu. Mereka keluarga sangat miskin. Suwarsono seorang tukang becak. Istrinya berjualan sinom dan kerupuk keliling. Mereka tinggal di kos-kosan sempit di Desa Kedungrejo, Waru. Tetangga sudah berupaya maksimal untuk memulangkan jenazah Angga.

Bahkan, Tito Pradopo, tokoh masyarakat Waru, siap meninggalkan mobilnya untuk jaminan. Tapi, upaya itu tetap gagal. Pihak rumah sakit bersikeras biaya perawatan harus dilunasi dulu. ”Saya sampai meninggalkan mobil di rumah sakit, tapi tidak diterima. Malah dimintai BPKB,” ucap Tito. Tentu saja dia tidak membawa BPKB mobil tersebut.

Pukul 02.00, Tito dan warga lain meninggalkan rumah sakit. Tidak ada lagi orang di sana. Tito menyatakan tidak menyalahkan staf yang memegang teguh aturan tersebut. Tapi, dia berharap kejadian seperti itu tidak terulang. Seharusnya, pihak rumah sakit memiliki rasa kemanusiaan dan empati kepada pasien yang tidak mampu.

Pihak rumah sakit membantah kabar yang ramai di media sosial tersebut. Tidak benar petugas RS menahan jenazah. Yang terjadi justru mereka ingin menyerahkan jenazah, tapi tidak ada keluarganya.

”Kami juga bingung. Tidak ada satu pun keluarga,” kata Kepala Humas RS Anwar Medika Nia Arizona. Ibu korban sempat berada di rumah sakit, tapi hanya sebentar. Setelah itu, dia tidak kembali lagi ke rumah sakit hingga jenazah dipulangkan.

Bagaimana nasib ayah Angga? Pihak rumah sakit telah memberikan penanganan optimal. Dia mengalami patah tungkai kaki. Tadi malam rencananya dilakukan operasi. Seusai konsultasi dengan dokter yang menangani.

Nia memastikan tidak ada kejadian seperti yang ramai di media sosial itu. Pihak rumah sakit telah menangani pasien sesuai prosedur dan ketentuan. Mereka juga tidak membedakan status pasien. Baik orang berada maupun mereka yang tidak punya. Pelayanan dilakukan secara optimal

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore