
INGAT SEJARAH: Ribuan santri Kota Delta membawa poster kiai dan pahlawan nasional dari Nahdlatul Ulama dalam pawai peringatan HSN, Minggu (20/10). (Boy Slamet/Jawa Pos)
JawaPos.com - Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat berdoa dan mengheningkan cipta selama satu menit. Imbauan tersebut dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada hari ini. Masyarakat diminta melakukannya pukul 08.00 secara serentak.
Cara memperingati Hari Santri tersebut mirip dengan Hari Pahlawan. Setiap 10 November, masyarakat diminta mengheningkan cipta pukul 08.15. Durasinya juga satu menit. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengingat jasa pahlawan serta mendoakan arwah mereka. ”Begitu juga dengan peringatan Hari Santri, masyarakat kami ajak untuk berdoa kepada syuhada’ yang berjuang melawan penjajah,” katanya.
Imbauan tersebut disampaikan melalui surat edaran tersendiri. Surat itu bernomor 003.3/78/033/2019. Isinya, imbauan untuk mengheningkan cipta pukul 08.00 dan doa bersama pada pukul 20.30. Waktu tersebut merupakan detik diumumkannya fatwa resolusi jihad oleh KH Hasyim Asy’ari.
Khofifah menambahkan, Hari Santri bukan hanya untuk kalangan santri. Karena itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat turut memperingatinya. Surat edaran tersebut sudah disebar ke seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan forum komunikasi pimpinan daerah. ”Semua memanjatkan doa bersama,” ungkapnya.
Mantan menteri sosial itu yakin, Hari Santri bisa menguatkan jiwa juang bagi masyarakat. Mereka juga memahami kiprah para syuhada’ yang rela berkorban untuk keselamatan bangsa.
Penetapan Hari Santri sesuai keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Keputusan tersebut menjadi dasar rangkaian kegiatan para Santri yang biasa dimulai September hingga Oktober.
Dulu, tepatnya pada 22 Oktober 1945, pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari menyerukan kepada santri untuk berjuang. Kala itu, tentara Belanda kembali untuk menguasai Indonesia. Mereka datang melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
KH Hasyim Asy’ari menyatakan, berjuang membela tanah air merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Seruan itu membangkitkan semangat para santri di Surabaya dan sekitarnya. Mereka menyerang markas Brigade 49 Mahratta yang dipimpin Brigjen Aulbertin Waltuer Sothern Mallaby.
Serangan itu terjadi selama tiga hari berturut-turut. Pasukan Inggris yang bertugas menjaga Kota Surabaya semakin terjepit. Perlawanan terus berlanjut hingga Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945. Sejarah tersebut termasuk rentetan peralawan arek-arek Suroboyo yang kini sering disebut dengan Pertempuran 10 November.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
