
DUKA: Umiatun (kiri) membawa foto Yunita kemarin (3/7). Foto kanan, Yunita saat masih hidup sebelum menjalani perawatan di RSUD Sidoarjo. (Dimas Maulana/Jawa Pos)
JawaPos.com - ''Yuni lahir pada Rabu. Hari ini juga Rabu,” ucap Umiatun lirih. Umiatun sedang menceritakan anaknya, Yunita Maulidia, yang meninggal Rabu (3/7). Remaja 19 tahun itu pernah menjadi headline media-media di Indonesia pada September 2016 lantaran bobot tubuhnya luar biasa, yakni 125 kilogram. Namun sekarang, Yuni, panggilan sayangnya, tidak lagi terbebani berat badan itu. Dia meninggal setelah berjuang untuk bertahan hidup.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Sidoarjo dr Syamsu Rahmadi SpS mengatakan bahwa Yuni mengalami dua masalah yang dipicu obesitas Yakni, gangguan pernapasan dan jantung. Menurut Syamsu, setelah mendapat penanganan optimal dan dipasangi ventilator pada Kamis malam (27/6), Yuni mulai membaik. Dia sadar dan mulai berkomunikasi meski alat bantu pernapasan masih terpasang.
Namun, dalam perawatan, dia mengalami serangan jantung, gangguan irama, dan lainnya. Tim medis melakukan pertolongan lagi di ICU. Kondisi Yuni pun membaik. Tetapi, kemarin pagi (3/7) terjadi serangan jantung lagi. Serangan itu yang membuat nyawa Yunita tidak tertolong. Pukul 07.45, Yuni dinyatakan meninggal. ”Jadi, dia mengalami dua kali serangan jantung. Pada obesitas, gangguan pernapasan dan jantung memang perlu diwaspadai,” ungkapnya.
Dokter yang menangani Yunita, dr Akhmad Fariz Nurdiansyah SpP, menuturkan bahwa Yunita mengalami pembesaran jantung yang dikenal dengan istilah kardiomegali. Pembesaran itu terjadi saat otot bekerja terlalu keras sehingga menebal atau bilik jantung melebar. Kondisi tersebut membuat darah tidak dapat terpompa secara efektif. ”Mengakibatkan transfer oksigen terganggu,” katanya.
Photo
Yuni dikebumikan di pemakaman umum Desa Grinting, Kecamatan Tulangan. Diantar sang ayah, Padi, dan warga sekitar, remaja yang lahir pada 14 Juni itu disemayamkan di musala dekat rumahnya sebelum dimakamkan. Padi yang menemani anak pertamanya tersebut saat waktu-waktu terakhir. ”Saya tuntun. Saya bisiki doa-doa,” ucapnya. Saat itu, kata Padi, Yunita sudah tidak lagi merespons perkataannya. Matanya tertutup rapat.
Padahal, saat kritis pada pukul 01.00, dia masih bisa merespons perkataan Padi. Bukan dengan kata-kata atau gelengan, hanya air yang menetes dari sudut matanya. ”Sedih kalau lihat dia di ICU. Kasihan,” ungkap Umiatun, lantas menyeka dua matanya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
