Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 April 2025 | 18.39 WIB

Kisah Warsono Sisihkan 2,5 sampai 10 Persen Keuntungan Jual Beli Rumah untuk Masjid

Ketua RT III/RW VII Kelurahan Kedungdoro Suprapto menunjukkan foto KTP milik Warsono yang menjadi korban kebakaran di Jalan Kedung Rukem IV Nomor 53, Tegalsari, kemarin. (Sholeh Hilmi/Jawa Pos) - Image

Ketua RT III/RW VII Kelurahan Kedungdoro Suprapto menunjukkan foto KTP milik Warsono yang menjadi korban kebakaran di Jalan Kedung Rukem IV Nomor 53, Tegalsari, kemarin. (Sholeh Hilmi/Jawa Pos)

JAMAAH Masjid At-Taqwa Kedung Rukem dikejutkan dengan kabar duka atas meninggalnya ketua takmir Warsono pada kemarin dini hari. Kiprah beliau sebagai sosok pendiri masjid menjadi salah satu rekam jejak amal saleh. Sehingga kabar kepergian sang imam masjid tersebut menjadi kenangan duka kolektif bagi para jemaah.

Sholeh Hilmi Qosim, Surabaya

MASIH segar dalam ingatan Rudi Wijono, warga Jalan Kedung Rukem III, ketika dia bersama Warsono berjuang mencari dana pembangunan masjid pada dekade akhir 1980-an silam. Mereka berdua menjadi tokoh utama pendirian Masjid At-Taqwa yang berlokasi di Jalan Kedung Rukem IV Nomor 30 B, Tegalsari. Praktis saja kepergian rekan seperjuangannya pada kemarin (17/4) dini hari menyisakan duka yang mendalam bagi Rudi dan puluhan jemaah lainnya.

Warsono tidak sekadar menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk pembangunan masjid. Bapak lima anak tersebut dengan ringan tangan merogoh kocek dari kantong pribadinya untuk kesejahteraan masjid yang resmi berdiri pada 1996 lalu. Rudi mengungkapkan bahwa Warsono selalu menyisihkan keuntungan dari usaha jual beli rumah.

”Kalau cuma menyumbang Rp 2 juta dari jual beli rumah sudah jadi makanan sehari-hari dari Warsono,” ungkapnya. Sahabatnya tersebut, lanjut Rudi, punya target pribadi untuk menyumbangkan keuntungan dari jual beli rumah. Dengan rentang keuntungan yang disisihkan mulai dari 2,5 persen sampai 10 persen.

Salah satu infak terbesar yang diterima oleh Masjid At-Taqwa dari Warsono mencapai Rp 10 juta. Sementara infak terakhir baru saja diterima untuk kesejahteraan masjid pada Februari lalu saat kondisi Warsono sedang berjuang melawan stroke. ”Bisa dibilang dananya terbesar ya dari beliau,” imbuh bapak empat anak tersebut.

Tak hanya berfokus pada pembangunan masjid secara fisik. Warsono juga berkeyakinan bahwa kemakmuran masjid selaras dengan kemakmuran para jemaah. Sehingga dia mengusulkan agar terdapat program kesejahteraan bagi masyarakat duafa di sekitaran masjid. Gagasan tersebut diwujudkan dalam bentuk penyertaan sembako dalam penyaluran zakat fitrah pada saat Hari Raya Idulfitri.

”Orang-orang ini kan kalau hanya menerima beras saja belum tentu bisa makan kalau tidak ada lauknya. Makanya Pak Warsono usul untuk ada sembako sekalian,” imbuhnya. Penyertaan sembako tersebut berupa mie instan, telur, minyak goreng, gula hingga kecap. Program tersebut bakal terus dilanjutkan sebagai warisan amal saleh dari Warsono selepas kepergiannya.

Kiprah dari segi keagamaan Warsono juga diamini oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PD Muhammadiyah Surabaya Andriyo Budihartono. Andriyo menuturkan bahwa hingga akhir hayatnya, Warsono tetap aktif berkontribusi sebagai salah satu tetua dari pimpinan cabang Tegalsari.

Pria kelahiran Jombang 1955 silam tersebut rutin menyelenggarakan kegiatan dakwah keagamaan dari Muhammadiyah. Selain pada tingkatan cabang atau kecamatan, Warsono juga pernah berkontribusi sebagai jajaran pimpinan daerah. ”Kalau ada acara-acara beliau ini bagian seksi sibuknya. Sibuk mengurusi acara-acara,” kenang Andriyo.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore