Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Maret 2025 | 02.09 WIB

Cuaca Ekstrem di Awal Ramadhan Picu Lonjakan Kasus ISPA di Surabaya

Dokter memeriksa pasien ISPA. (Dok. JawaPos) - Image

Dokter memeriksa pasien ISPA. (Dok. JawaPos)

JawaPos.com–Cuaca yang tidak menentu di awal Ramadhan menjadi tantangan bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Siang hari yang panas terik sering kali diikuti hujan deras pada sore atau malam hari, menyebabkan perubahan suhu yang drastis.

Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Ditambah dengan keterbatasan asupan cairan selama puasa, daya tahan tubuh melemah, membuat orang lebih rentan terhadap virus dan bakteri.

Sejumlah fasilitas kesehatan di Surabaya mencatat peningkatan kasus ISPA dalam pekan pertama Ramadhan. Di Puskesmas Gunung Anyar, flu menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak ditangani.

Dalam periode 1–7 Maret, tercatat 95 pasien yang mengalami gejala flu dan batuk. Kepala Puskesmas Gunung Anyar Lucas Wisnuaji menyebut, kombinasi antara cuaca ekstrem dan kondisi tubuh yang kekurangan cairan akibat puasa menjadi faktor utama meningkatnya kasus tersebut.

”Saat cuaca panas dan tubuh kekurangan cairan, daya tahan tubuh melemah, sehingga lebih mudah terpapar virus penyebab ISPA,” ujar Lucas Wisnuaji kepada JawaPos.com.

Gejala umum yang dialami pasien meliputi batuk, pilek, demam, dan tubuh terasa lemas. Jika tidak segera ditangani, ISPA bisa berkembang menjadi infeksi yang lebih serius.

Lebih lanjut, Lucas menjelaskan, ISPA yang tidak segera membaik dalam waktu satu minggu perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

”Jika gejala terus berlanjut, perlu pemeriksaan dahak untuk memastikan bukan TBC. Jika infeksi semakin parah, bisa menyebar ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia, terutama pada anak-anak di bawah usia dua tahun,” jelas Lucas Wisnuaji.

Sementara itu, peningkatan kasus ISPA juga terlihat di Rumah Sakit Haji Surabaya (RSHU). Humas RSHU Alisha mengungkapkan, pneumonia dan bronkopneumonia menjadi dua penyakit ISPA yang paling banyak ditangani di rumah sakit tersebut sepanjang 2025.

”Sejak awal tahun ini, kami telah merawat 150 pasien dengan pneumonia dan bronkopneumonia di ruang rawat inap, serta 56 pasien rawat jalan. Sementara dalam enam hari pertama Ramadhan, ada 17 pasien ISPA yang harus mendapatkan perawatan medis,” kata Alisha.

Mengingat tingginya kasus ISPA, masyarakat yang menjalankan puasa diimbau untuk menjaga kesehatan dengan memperhatikan pola makan saat sahur dan berbuka.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore