JawaPos.com-Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Yona Bagus Widyatmoko menyatakan dukungannya terhadap keputusan pemerintah pusat, yang memangkas anggaran program makan bergizi gratis.
Dari yang semula Rp 15 Ribu per satu porsi kotak makan, dipangkas menjadi Rp 10 Ribu per porsinya. Menurut Yona, pemangkasan anggaran Rp 5 Ribu ini masih proporsional dan relevan.
"Kembali lagi bahwa menu makan bergizi gratis ini tidak berbicara tentang seberapa banyak menu dalam satu porsi, tetapi lebih pada pemenuhan kebutuhan nutrisi yang cukup," ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa (3/12).
Politikus Partai Gerindra tersebut lantas memberikan analogi apa yang akan didapat anak-anak dan ibu hamil, dengan anggaran Rp 10 Ribu per satu porsi makan bergizi gratis.
Dikatakan Yona, satu porsi makan bergizi gratis membutuhkan 100-150 gram nasi. Kemudian lauk pauk seperti daging ayam tanpa kulit atau ikan laut untuk memenuhi kebutuhan protein, membutuhkan Rp 4.500 per satu porsi.
Kemudian sayur dengan anggaran kurang lebih Rp 1.500 per porsi. Potongan buah segar dengan harga sekitar Rp 1 Ribu per porsi. Oleh karena itu, anggaran Rp 10 Ribu per porsi disebut Yona masih mencukupi.
"Untuk air mineral, setiap sekolah dianjurkan menyediakan air mineral di galon atau di dispenser, sehingga itu sudah mengurangi daripada budget per porsinya," tambahnya.
Terkait penambahan susu kemasan dalam setiap porsi makan bergizi gratis, lanjut Yona, itu bisa diakali dengan mengganti lauk pauk berprotein tinggi.
"Ini sekedar pandangan ya. Mungkin susu itu bisa disubstitusi dengan lauk ataupun sayur yang memang ada unsur protein tinggi, seperti kacang-kacangan," tutur Yona.
Selain pemangkasan anggaran yang tidak begitu berdampak, politikus Partai Gerindra itu optimis program makan bergizi gratis akan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. Terutama para pelaku UMKM.
Nelayan dan petani juga akan diberdayakan. Mereka bisa menjual hasil komoditasnya kepada pengelola program untuk diolah menjadi makanan bergizi.
"Masyarakat harus benar-benar bisa mengoptimalkan beras dari petani itu sendiri, beras lokal. Ambillah beras lokal. Berdayakan petani-petani kita supaya tidak kita fokusnya ke impor," tukas Yona. (*)