Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Januari 2023 | 12.25 WIB

Tiga Juta Orang Pakai Transportasi Publik di Surabaya dalam Tiga Tahun

Para narasumber dalam diskusi transportasi Surabaya berkelanjutan yang digelar URBANING for Urban Studies. Dimas Nur Apriyanto/ Jawa Pos - Image

Para narasumber dalam diskusi transportasi Surabaya berkelanjutan yang digelar URBANING for Urban Studies. Dimas Nur Apriyanto/ Jawa Pos

JawaPos.com-Hingga kini, wajah transportasi publik di Surabaya masih dihiasi dengan pilihan yang terbatas. Hanya ada bus dan angkot-angkot yang terkadang lewat tapi hanya sekilas. Tak banyak angkot lagi yang mengaspal.

Pada 2018, Surabaya untuk kali pertama memiliki bus, Suroboyo Bus, yang melintas di jalanan-jalanan dalam kota. Kala itu Suroboyo Bus diresmikan Tri Rismaharini selaku wali kota Surabaya. Skema pembayarannya sempat disorot publik karena terbilang unik. Yaitu, naik bus membawa sampah botol plastik bekas.

Tahun berjalan, jalanan Surabaya semakin sepi angkot. SB tetap setia menyapa para pelanggannya. Nah, pada 2018, ada "anggota keluarga baru" di dalam daftar transportasi publik Surabaya, Trans Semanggi Suroboyo (TSS). Konsepnya buy the service. Pendanaan langsung dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Tidak ada kucuran anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) dari Pemkot Surabaya Rp 1 pun. Nihil APBD Surabaya. Dalam diskusi bersama URBANING for Urban Studies terkuak fakta, jika hanya 3 juta orang Surabaya yang menggunakan transportasi publik dalam 3 tahun.

Wakil Ketua Komisi C Aning Rahmawati yang turut hadir dalam diskusi tersebut menyampaikan, butuh banyak pihak untuk memperbaiki layanan transportasi publik di Surabaya. DPRD Surabaya, lanjutnya, selaku pengawas dan legasi anggaran membutuhkan masukan dari berbagai pihak.

"Kami perkuat anggaran di sarana dan prasarana lalu kebutuhan transportasi juga dikuatkan. Kami memberikan peluang secara luas kepada siapapun, termasuk kepada URBANING for Urban Studies atau Forum Diskusi Transportasi Surabaya," jelas Aning.

Menurut politikus PKS itu, sebetulnya, untuk jumlah penumpang dari TSS sangat positif. Terbesar dari seluruh wilayah yang ada transportasi dengan konsep buy the service. Dia menambahkan, namun, yang masih menjadi PR ke depan adalah bagaimana memotong headway untuk SB bahkan hingga feeder.

Terpisah, tim kajian dari URBANING for Urban Studies Fikri Disyacitta mengungkapkan, pihaknya masih memerlukan kajian lebih dalam dengan berbagai sektor untuk mengupas bagaimana fakta di lapangan terkait transportasi publik. Terutama dengan teman sesama pegiat. "Seperti tadi ada FDTS dan kami juga perlu mensikronisasi data dengan banyak pihak. Salah satunya dengan Pemkot Surabaya, miss-nya di mana ini yang kita ingin dudukkan," ujarnya.

Fikri menilai, saat ini, generasi Z menyadari bagaimana akses transportasi yang accessable. Abdul Karim Addakhil yang juga dari URBANING for Urban Studies menyampaikan, forum diskusi bertajuk Transportasi Publik Berkelanjutan di Surabaya yang digelar untuk menguraikan setiap persoalan dan menemukan solusi.

Termasuk, lanjut Karim, pihaknya ingin menampung aspirasi dari masyarakat dengan harapan dapat dieksekusi oleh pemangku kebijakan. "Masyarakat Surabaya kini kian sadar akan pentingnya transportasi publik yang memadai. Karena itu, pembahasan mengenai transportasi publik harus terus digaungkan,” imbuhnya. (*)

 

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore