Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 November 2022 | 01.14 WIB

Wali Kota Surabaya Marah Besar di RSUD Soewandhie

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi marah besar di RSUD Soewandhi. Istimewa - Image

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi marah besar di RSUD Soewandhi. Istimewa

JawaPos.com–Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengamuk ketika melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Soewandhie, Senin (28/11).

Awalnya, Eri datang ke rumah sakit di wilayah Surabaya timur itu menemui dua ibu lanjut usia yang hendak pulang usai dirawat di Poli Orthopedi. Salah satu ibu itu lalu menjelaskan mendapat pelayanan sangat lama. Dia mengaku sudah antre sejak pagi dan baru dilayani siang hari.

Eri lalu mengajak keduanya menuju Poli Orthopedi. Wali Kota lalu bertanya kepada para perawat tentang antrean di poli tersebut. Soal monitor televisi yang menunjukkan nomor antrean, karena di poli tersebut tidak ada.

Perawat itu lalu menjelaskan, rekam medis yang baru datang membuat pelayanan lama. ”Oh berarti ini perkara rekam medisnya yang lama,” ujar Eri.

Saat manajemen RSUD Soewandhie datang, Eri menanyakan alasan lamanya rekam medis itu dikirim ke Poli Orthopedi. Mereka pun mengakui bahwa berkas ibu tersebut sempat tidak ketemu di ruang berkas rekam medis. Eri pun merasa heran. Dia pun mengajak mereka ke ruang berkas rekam medis.

Tiba di ruang berkas rekam medis itu, Eri tambah marah karena pelayan di tempat tersebut tak begitu banyak. Jumlahnya tak sebanding dengan jumlah pasien yang membutuhkan berkas rekam medis.  Selanjutnya, dia pun memasuki ruangan yang penuh berkas rekam medis itu. Dia semakin marah karena berkas-berkas itu kurang tertata.

”Ya pantas saja lama cari, wong (karena) penataannya begini, tidak teratur seperti ini. Kalian tahu nggak, itu ada yang rekam medisnya lebih cepat dikirim lalu dilayani, tapi yang tidak datang-datang rekam medisnya sampai lama tidak dilayani pemeriksaannya. Saya sudah bilang buatlah inovasi, ini wargaku yang kalian suruh nunggu lama, kalian tahu gak?” tanya Eri dengan nada tinggi.

Di ruangan tersebut, wali kota sangat kecewa dengan para staf itu. Sebab, berkali-kali dia bertanya seakan tidak menemukan solusi. Rasa kecewa itu pun ditunjukkan dengan membanting berkas rekam medis itu ke lantai. Di tengah suasana yang serba kurang enak itu, tiba-tiba ada salah seorang ASN perempuan yang berbisik-bisik sesama staf lain. Keduanya membela diri dan mengatakan ruang rekam medis cukup rapi. Eri lalu memanggil staf tersebut dengan nada tinggi.

”Masa penataannya seperti ini masih dibilang rapi? Ayo kalian semua ikut saya biar kalian tahu bagaimana warga saya yang sakit antre, kasihan warga saya itu,” kata Eri sambil mengajak dan menggandeng ASN perempuan itu naik lift menuju Poli Orthopedi.

Eri juga mengajak semua staf di ruang rekam medis itu untuk ikut serta ke Poli Orthopedi. Tiba di depan Poli Orthopedi, Eri menunjukkan betapa lamanya antrean di poli tersebut hanya karena berkas rekam medis yang tidak dikirim-kirim oleh mereka.

”Ini dilihat. Mereka ada yang sudah antre dari pagi baru dilayani karena rekam medisnya gak datang-datang. Kalian itu kerja di sini dibayari APBD, jangan disia-siakan wargaku,” ucap Eri.

Eri lalu meminta maaf kepada warga yang sudah antre lama. Setelah itu, dia mengajak manajemen RSUD Soewandhie untuk rapat internal. Dalam rapat internal itu, Eri meminta manajemen RSUD Soewandhie menyiapkan berkas rekam medis itu sehari sebelum pasien itu berobat, karena sebagian besar dari mereka sudah daftar satu hari sebelumnya di aplikasi mereka.

”Jadi, saya minta sebelum poli-poli ini buka, berkas rekam medisnya sudah harus ada di mejanya poli. Itu bagi yang sudah daftar online. Bagi yang baru daftar bisa dipisahkan dan langsung disiapkan juga dengan terpisah,” papar Eri.

Selain itu, Eri juga meminta manajemen RSUD Soewandhie menata kembali dokter-dokter yang bertugas di setiap poli. Kebutuhan dokter itu disesuaikan dengan banyaknya pasien yang datang setiap hari.

”Misal poli ini butuh 4 dokter, jadi 4 dokter itu tidak boleh kemana-mana sampai semua pasiennya terlayani. Tolong itu ditata semua dan nanti kita masukkan ke kontrak kinerja para manajemen ini,” kata Eri.

Saat itu, Eri juga meminta mereka untuk menyiapkan monitor di setiap poli yang menunjukkan nomor antrean pasien, sehingga pasien bisa tahu nomor antrean yang sudah dilayani dan belum dilayani.

”Saya tidak mau tahu pokoknya tiga ini harus sudah selesai seminggu ke depan, itu akan saya  masukkan ke kontrak kinerja para manajemen RSUD Soewandhie, kalau sudah tidak mampu menyelesaikan itu ya sudah, bisa mengundurkan diri,” tegas Eri.

Sementara itu, Direktur RSUD Soewandhi Billy Daniel Messakh memastikan pihaknya akan langsung melakukan perbaikan-perbaikan setelah pertemuan dengan Wali Kota Surabaya. Bahkan, pihaknya sudah menemukan beberapa solusi untuk memperbaiki pelayanan di rumah sakitnya itu.

”Habis ini kita akan langsung melakukan perbaikan-perbaikan,” tutur Billy Daniel Messakh.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore