
PENGHUNI TERUS BERTAMBAH: Penghuni rusun berjalan di dekat salah satu blok di Rusunawa Sombo. Di rusun yang mulai ditempati pada 1990 itu kini setiap unitnya rata-rata dihuni lebih dari satu kepala keluarga. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)
JawaPos.com – Tinggal di rusunawa harus pintar ’’bersiasat” dan peduli. Sebab, satu hunian flat yang sempit ditinggali dua sampai tiga kepala keluarga. Jawa Pos merekam kehidupan mereka di Rusunawa Sombo dan Urip Sumoharjo.
Warga yang tinggal di Flat Sombo terbilang unik. Terdapat sepuluh blok di hunian vertikal itu. Kebanyakan setiap unit ditinggali dua hingga tiga kepala keluarga (KK). Jumlahnya mencapai sepuluh orang. Akibatnya, kepadatan penduduk tak bisa dihindari. Mereka harus berbagi ruang di dalam hunian yang hanya berukuran 3×6 meter itu.
Namun, bagi warga setempat, hal itu bukanlah masalah besar. Mereka tetap bertahan tinggal di hunian vertikal tersebut. Keguyuban masyarakat yang begitu kental membuat mereka kerasan tinggal di lokasi tersebut.
Selasa (22/11) siang ibu-ibu sedang berkumpul di area selasar lantai 2. Suasana di lokasi terasa sangat hangat. Mereka bercengkerama sambil sesekali mata melirik anak mereka yang bermain di dekat tangga. Rutinitas tersebut biasa dilakukan setiap hari bila para penghuni rusun tidak sedang ada acara.
Banyak di antara mereka yang telah menjadi penghuni tetap rusun sejak awal berdiri. Salah seorang penghuni lama adalah Fatimah. Wanita 43 tahun tersebut menghuni satu unit rusun di sana. Di dalam satu unit itu ada 3 kepala keluarga (KK) dengan total 9 anggota keluarga. Karena keterbatasan tempat, sering kali antaranggota keluarga harus berbagi tempat tidur. ’’Jadi, ada yang tidur di selasar depan dan yang di dalam unit,’’ ungkapnya.
Bila ada salah seorang anggota keluarga yang sakit, harus ada yang mengalah untuk tidur di selasar. Kendati kondisinya memprihatinkan, dia mengatakan banyak warga di rusun yang enggan pindah. Penyebabnya bukan alasan finansial. Namun, kedekatan emosional yang tidak bisa terlupakan dan dicari di tempat mana pun. ’’Di sini sudah seperti kampung halaman sendiri. Jadi, sangat sulit menghapus kenangan historisnya,’’ paparnya.
Selain cerita dari penghuni rusun, serba-serbi kehidupan yang tak kalah menarik juga dialami pengurus rukun tetangga (RT). Misalnya, yang dialami Ketua RT 3 Rusun Sombo Blok I Salaman. Dia mengatakan, pengurus RT sering kali menjadi sasaran kritik penghuni rusun bila ada permasalahan. Misalnya, permasalahan ketersediaan air. ’’Warga sering protes ke pengurus,’’ tambahnya.
Dia berharap adanya bantuan dari pemerintah terkait pompa air di blok. Sebab, kondisinya memerlukan pergantian. Selain itu, pemerintah diharapkan cepat dalam merespons keluhan penghuni rusun.
Secara terpisah, Wakil Ketua RW 5 Sombo Sabullah menjelaskan, permasalahan sarana dan prasarana rusun sering kali terjadi. Selain saluran air, terdapat atap yang mulai rapuh dimakan usia di beberapa titik. Karena itu, diperlukan perbaikan supaya tidak bocor saat terjadi hujan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
