
People wear face masks as they shop for decorations for the upcoming Lunar New Year, the Year of the Rat, at a market in Fuyang in central China
JawaPos.com - Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) Universitas Kristen (UK) Petra, Surabaya, kali pertama menyambut Imlek sejak terbentuk pada Oktober 2021. Dalam kesempatan tersebut, mereka menampilkan kreasi baru yang merupakan kolaborasi dari berbagai program studi (prodi). Karya-karya itu ditampilkan dalam pameran mini bertajuk Luminous.
Sebanyak 24 mahasiswa FHIK UK Petra dan para dosen berjibaku membuat kreasi khas Imlek di gedung Q kampus tersebut kemarin (31/1). Kreasi yang ditonjolkan adalah lampion yang terbuat dari kertas angpao. Kreasi lampion dari angpao ini merupakan inisiatif dari prodi desain interior.
Grace Mulyono, dosen prodi desain interior, menyatakan bahwa angpao dipilih karena mudah didapatkan dan murah. ”Idenya kenapa angpao? Karena kami ingin memanfaatkan sesuatu yang mudah kami dapatkan,” ungkap Grace di lokasi pameran kemarin.
Satu lampion berdiameter sekitar 25 sentimeter bisa dihasilkan dari satu hingga dua paket angpao. Harga satu pak berkisar Rp 1.500 saja. Jika dibandingkan dengan lampion biasa yang terbuat dari kertas khusus, lampion dari kertas angpao ini bisa dibilang jauh lebih murah. Alat dan bahan pelengkap lainnya juga cenderung mudah didapat. Misalnya, staples dan double tape.
Selain lampion dari kertas angpao, mahasiswa membuat karya seni tali-temali, seni potong kertas, dan kaligrafi asal Tiongkok. Karya-karya ini merupakan hasil kolaborasi empat prodi di bawah FHIK. Yakni, desain interior, desain komunikasi visual, bahasa Mandarin, dan international program in digital media (IPDM).
Alpin Gadman Markali, dosen prodi bahasa Mandarin, menjelaskan bahwa ada beberapa karakter yang umumnya ditulis di kertas hiasan menjelang Imlek. Salah satunya, karakter fu yang melambangkan hoki atau keberuntungan.
Sementara itu, kemeriahan belum kembali terlihat di Kelenteng Cokro pada malam Tahun Baru Imlek kemarin (31/1). Kelenteng yang biasanya riuh rendah saat malam Imlek tersebut kini cenderung sepi akibat pandemi Covid-19. Namun, kondisi itu justru membuat umat bisa bersembahyang lebih khusyuk.
Sejumlah umat yang merayakan Imlek tampak bergiliran mendatangi kelenteng bernama asli Hong San Koo Tee tersebut.
Salah seorang pengurus kelenteng, Erdina, menyatakan bahwa tidak ada acara khusus selain sembahyang pribadi untuk Imlek tahun ini. ”Kami buka hanya sampai jam 9 malam,” ungkapnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
