Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Januari 2022 | 20.48 WIB

Kadispendik Surabaya: Pantau Siswa, Guru Berkunjung ke Rumah

IZIN ORTU: Seorang siswi berpamitan kepada orang tuanya sebelum masuk ke gerbang sekolah, Senin (30/8). (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

IZIN ORTU: Seorang siswi berpamitan kepada orang tuanya sebelum masuk ke gerbang sekolah, Senin (30/8). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com – Evaluasi pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen kembali menguat di tengah meningkatnya kasus aktif Covid-19. Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Dr Windhu Purnomo mengatakan bahwa tren peningkatan kasus baru menjadi warning. Jangan sampai timbul kejadian yang tidak diinginkan dengan munculnya klaster sekolah. ’’Sebetulnya tidak boleh ada paksaan PTM 100 persen,’’ kata Windhu Senin (24/1).

Dia menyampaikan, PTM 100 persen berangkat dari surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri. Padahal, kata dia, pemerintah daerah harus diberi pilihan sesuai dengan kondisi wilayahnya. Apakah sekolah di suatu kabupaten/kota memungkinkan menggelar PTM 100 persen atau tidak.

Kegiatan belajar-mengajar harus disesuaikan dengan kondisi persebaran Covid-19. Selain itu, lanjut dia, orang tua siswa harus diberi pilihan apakah putra-putrinya bisa mengikuti PTM atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). ’’Sebab, orang tua yang paling paham kondisi kesehatan anaknya,’’ jelas Windhu.

Ketua IDAI Jatim dr Sjamsul Arief MARS SpA(K) menilai bahwa situasi sekarang masih cukup kondusif. Namun, masyarakat tetap harus berhati-hati dengan meningkatnya kasus baru, khususnya varian Omicron. Dinkes juga harus aktif melakukan tracing. Itu upaya penemuan secara aktif kasus Covid -19 (active case finding) ke semua tempat. ’’Case finding harus terus dilakukan. Bila ada yang panas atau demam, langsung diperiksa,’’ imbuh dr Sjamsul.

Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya memastikan proses belajar-mengajar masih berjalan aman di sekolah. Sejauh ini, PTM masih berlangsung dalam dua sesi dengan kapasitas masing-masing 50 persen. PTM dengan kapasitas 100 persen sekaligus belum bisa dilaksanakan untuk menerapkan jaga jarak aman antarsiswa.

Kadispendik Kota Surabaya Yusuf Masruh menyampaikan, adaptasi PTM sudah dilakukan selama dua pekan. Evaluasi prokes pun terus dilakukan. ’’Anak-anak sudah adaptasi,’’ kata Yusuf.

Sejauh ini, pihaknya sudah memperbaiki pelaksanaan prokes. Salah satunya terkait kerumunan siswa ketika jam pulang sesi pertama dan waktu masuk sesi kedua. Untuk menghindari penumpukan, jeda waktu diatur lebih longgar. Selain itu, orang tua yang mengantar dan menjemput siswa dipisahkan.

Yang terpenting, jelas dia, guru atau satgas internal sekolah harus memahami perubahan karakter fisik anak. Khususnya terkait dengan kondisi kesehatan siswa. Misalnya, ketika siswa bersin atau ada gejala demam. Jika yang bersangkutan telanjur ke sekolah, Yusuf meminta pihak sekolah untuk segera berkoordinasi dengan puskesmas. ’’Segera sarankan orang tua siswa untuk periksa ke puskesmas. Kesehatan yang utama. Toh, kita masih punya alternatif hybrid,’’ tegas Yusuf.

Pihaknya juga meminta para guru untuk mengaktifkan lagi home visit. Kunjungan ke 1333333 siswa perlu dilakukan. Tujuan utamanya adalah melihat kondisi siswa. Namun, tetap harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin. ’’Home visit ini perlu,’’ imbuh Yusuf.

Sementara itu, Ketua Departemen/KSM Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair)/RSUD dr Soetomo Dr dr Isnin Anang Marhana SpP (K) FCCP mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia cukup signifikan. Masyarakat pun perlu waspada terhadap varian baru SARS-CoV-2 tersebut. Meski gejala klinisnya lebih ringan daripada varian Delta, tingkat persebarannya sangat tinggi.

’’Gejala klinisnya tidak seberat Delta, tetapi varian Omicron juga bisa menyebabkan pasien kritis,” katanya.

Anang menuturkan, di Indonesia sudah ada dua kasus meninggal pasien Omicron di RS Persahabatan, Jakarta. Kasus pertama, pasien belum divaksin sama sekali. Kasus kedua, pasien memiliki komorbid. ’’Jadi, varian Omicron tidak boleh diremehkan,” tegasnya.

KASUS NAIK, EVALUASI PTM 100 PERSEN


- Kasus baru Covid-19 meningkat dalam sepekan terakhir.

- Ahli kesehatan memperingatkan, jangan sampai muncul klaster sekolah.

- Dinkes harus melakukan active case finding.

- Dispendik meminta guru mengaktifkan home visit.

- Dispendik melakukan evaluasi agar tidak terjadi kerumunan di sekolah.

Sumber: Reportase Jawa Pos

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore