
TAK BISA KENA MATAHARI: Kelomang biasa hidup pada suhu 28–34 derajat Celsius dengan kondisi yang lembap. Jangan sekali-kali meletakkan kelomang di bawah cahaya matahari langsung. Kulitnya akan mengering dan bisa mati. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
Keong, kelomang, umang-umang, dan masih banyak sebutan lokal lain yang tersemat pada hewan berkaki sepuluh ini. Tidak seperti keong yang kita kenal dan banyak dijajakan di pasar malam. Ternyata, binatang ini termasuk salah satu hewan yang eksotis untuk dipelihara.
---
Keberadaan keong tersebar merata di seluruh pulau di Indonesia. Sebutannya beragam. Itu membuat salah satu keluarga coenobita tersebut familier di semua kalangan masyarakat.
Selama ini kita mengenal keong hanya berukuran sebesar bola pingpong. Namun, nyatanya banyak yang memiliki ukuran jumbo. Warnanya juga beragam, bukan hanya putih, abu-abu, atau hitam yang selama ini kita lihat di pasar malam.
Misalnya, koleksi milik Stefe Sugianto yang memiliki corak warna eksotis. Salah satunya, jenis Coenobita perlatus atau yang dikenal dengan kelomang stroberi. Bagian karapasnya berwarna merah menyala. Kemudian, dihiasi bintik putih. Sangat mirip dengan kulit luar stroberi. ’’Namun, untuk jenis ini, ada juga yang memiliki warna gelap. Kami biasa menyebutnya blackberry. Lebih cantik lagi yang berwarna gelap ini,” ujar pendiri komunitas Jumbo Keong Indonesia tersebut.
Stefe mengatakan, hewan yang masih satu famili dengan lobster itu tergolong memiliki umur yang sangat panjang. Jenis Coenobita perlatus memiliki umur maksimal 30 tahun. Bahkan, jenis Coenobita brevimanus mampu bertahan hingga 150 tahun.
Hal itu memosisikan kelomang berwarna tersebut memiliki umur melebihi kura-kura atau penyu. ’’Seperti milik saya, Tole dan Cuplis, dengan ukuran satu genggaman tangan diperkirakan memiliki umur 80 tahun,” terangnya.
Stefe menambahkan, rekannya di Amerika Serikat pernah menguji kulit kelomang yang besarnya hampir sama dengan Tole dan Cuplis. Pengujian itu dilakukan melalui metode carbon dating. Hasilnya, kelomang dengan ukuran sebesar genggaman tangan memiliki usia hingga 80 tahun.
Bukan hanya umur dan corak yang membuat Stefe dan komunitasnya tertarik dengan kelomang. Menurut dia, kelomanglah satu-satunya hewan yang tidak memiliki rumah sendiri. Kelomang akan menempati cangkang hewan yang sudah mati. ’’Jadi, cangkang milik siput dan lainnya diakuisisi kelomang,” ujar Stefe.
Namun, kelomang tidak bisa dipaksa untuk menempati cangkang yang kosong. Biasanya Stefe akan menyediakan beberapa cangkang kosong di akuarium. Kelomang akan keluar sendiri, kemudian memilih tempat yang ia suka. ’’Tidak bisa dicabut paksa, terus ditaruh di cangkang baru. Malah bisa membunuh kelomang itu sendiri,” paparnya.
Pria yang sudah lima tahun hobi memelihara kelomang itu mengungkapkan, kelomang bukan tergolong hewan amfibi. Mulai kecil hingga besar, kelomang mengalami beberapa tahapan metamorfosis. ’’Dari lahir ia hidup di air dan bernapas dengan insang. Kemudian, naik ke darat dan hidup di lingkungan pantai,” terangnya. Namun, beberapa jenis kelomang diketahui bisa hidup jauh dari pantai, bahkan 2 kilometer jauhnya.
Penghobi yang juga founder Jumbo Keong Indonesia Tony Witjaksono mengatakan, kelomang termasuk binatang yang ramah dan kalem. Apalagi jika sudah terbiasa ada di tangan, kelomang tidak akan menyupit sama sekali.
Justru banyak orang yang salah kaprah. Agar mau keluar, kelomang ditiup dulu. ’’Sebenarnya udara dari mulut yang suhunya panas membuat ia keluar dan menghindar. Kalau sudah terbiasa dipegang, ditaruh tangan pun ia akan keluar sendiri,” tuturnya.
Stefe mengatakan, ada hal penting yang harus diperhatikan pemula yang ingin mengadopsi kelomang sebagai hewan peliharaan. Yakni, jangan sekali-kali memberikan air garam ke kelomang. Sebab, nutrisi itu tidak akan cukup memenuhi kebutuhannya.
’’Dalam kandang saya selalu menyediakan dua jenis air. Murni air laut dan air tawar. Nah, kelomang menyukai dua jenis air ini. Entah untuk minum atau mendinginkan badan. Biasanya saya mengambil langsung dari tengah laut, kawasan Watulimo, Jember,” terangnya.
Kelomang biasa hidup di suhu antara 28–34 derajat Celsius dengan kondisi yang lembap. Stefe juga mengatakan, jangan sekali-kali meletakkan kelomang di bawah cahaya matahari langsung. Kulitnya akan mengering dan bisa mati.
Setup kandang cukup menggunakan akuarium. Kandang berukuran panjang 40 sentimeter bisa diisi 2–3 kelomang. Alasnya bisa menggunakan pasir atau bebatuan kecil. Alas itu cukup dikondisikan lembap. Jika kering, cukup di-spray saja. Pembersihan cukup dilakukan dua bulan sekali. ’’Kelomang terkadang juga suka memanjat. Jadi, biasanya kami beri batu karang atau kayu,” ujarnya.
Kelomang tidak membutuhkan jenis makanan khusus. Apa pun dimakan. Mulai sayur, buah, nasi, hingga roti. Yang paling penting, makanan tersebut bebas dari bumbu dan minyak. Cukup sehari sekali saja memberikan pakan. Tidak butuh biaya besar untuk memelihara kelomang. Mengeluarkan uang Rp 100.000 pun sudah bisa mendapatkan hewan eksotis tersebut.
---
TRIVIA TENTANG KELOMANG

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
