
Musonif Fadli
PERKEMBANGAN komunikasi yang semakin global membuat semua semakin mudah terkoneksi. Arus informasi begitu cepat melampaui batas kewilayahan. Pertukaran informasi bergerak tanpa sekat. Tidak hanya dalam ekonomi, tetapi juga dalam segala hal.
Kondisi tersebut berdampak terhadap perubahan tatanan sosial. Batas antara global dan lokal semakin luntur karena semua masuk dalam arena global. Bahkan, lebih dari itu, Gidden (1991) menyatakan, ini untuk kali pertama dalam sejarah manusia, ’’diri’’ dan ’’masyarakat’’ saling berhubungan di dalam satu lingkungan global.
Keterbukaan terhadap segalanya membuat individu memiliki kebebasan untuk selalu menentukan pilihan. Setiap subjek bisa menjadi seperti apa pun sesuai dengan apa yang dilihatnya di dunia luar. Apa pun dapat ditampilkan dan semakin terbuka untuk direplikasi, termasuk dalam budaya. Dalam hal ini, dapat dilihat bagaimana aliran-aliran global tersebut bergerak sehingga menimbulkan berbagai perpaduan budaya.
Sejumlah aliran itu disebutkan Appadurai (1996) dalam lima aliran. Yaitu, ethnoscape, mediascape, technoscape, financescape, dan ideoscape. Berbagai scape itulah yang kemudian sampai kepada individu dan diinterpretasikan secara bebas oleh tiap-tiap subjek melalui imajinasi masing-masing. Penekanan pada gagasan Appadurai tersebut adalah terbentuknya berbagai ragam keunikan budaya.
Sebelumnya, ada pandangan homogenisasi budaya secara global yang dilakukan negara dominan. Dalam pandangan George Ritzer (2012), homogenisasi memang terjadi, tetapi menyebar di seluruh dunia dengan bentuk yang kosong (nothing). Kekosongan tersebut terjadi karena ia menyebar dalam bentuknya saja, tetapi tak memiliki muatan (something). Pada tataran ini, kekosongan tersebut nanti terisi sendiri oleh muatan dari lokalitas yang ada. Budaya memiliki kemampuan yang adaptif untuk bisa saling berkolaborasi dengan budaya lain. Pada tataran ini, lokalitas berpeluang mengisi muatan (something) kosong tersebut. Proses itu disebut hibridasi budaya.
Terkadang kita terlalu takut terhadap globalisasi yang merupakan bentuk imperialisme secara ekonomi dan budaya Barat. Hal tersebut terlihat dari adanya istilah Westernisasi, Baratisasi, atau Amerikanisasi. Bagi sebagian orang, hal tersebut merupakan sesuatu yang menakutkan. Jika kita melihat dalam frame ekonomi politik, memang dapat dikatakan demikian, negara maju berusaha mendominasi secara ekonomi maupun budaya.
Harus dilihat saat ini, semua terkoneksi secara global. Bukan hanya negara maju yang bisa menunjukkan budaya mereka. Semua mempunyai peluang yang sama dalam hal ini.
Menggali Kembali
Di tengah globalisasi, seharusnya daerah menggali kembali identitas budaya lokalnya untuk ditampilkan dalam arena global. Penggalian budaya juga bisa dijadikan ikon suatu daerah yang juga dapat berpotensi menjadi peluang wisata.
Saat ini beberapa daerah sudah mengangkat budaya lokal sebagai identitas daerah. Banyuwangi merupakan salah satu contoh kesuksesan daerah yang menggali potensi wilayahnya. Sejak 2012 hingga saat ini, Banyuwangi selalu mengadakan festival budaya dengan nama ’’Festival Banyuwangi’’ atau dikenal dengan B-Fest. Festival tersebut terdiri atas berbagai macam event pertunjukan, baik budaya lokal maupun modern.
Gagasan dari Banyuwangi tersebut awalnya adalah untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi setiap 18 Desember hingga berlanjut sampai sekarang. Perkembangannya, kuantitas dan kualitas semakin meningkat. Tercatat, event yang disandingkan dari tahun ke tahun terus bertambah. Hingga 2017 ini, event yang sandingkan mencapai 72 event.
Keseriusan Banyuwangi mengembangkan sektor pariwisata juga menyabet penghargaan dari Badan Pariwisata PBB (The United Nations World Tourism Organization/UNWTO) dalam ajang 12th UNWTO Awards Forum di Madrid, Spanyol, Januari 2016. Kesuksesan Banyuwangi juga terlihat dari lonjakan pendapatan per kapita yang sebelumnya Rp 14,7 juta pada 2010 menjadi Rp 33,7 pada 2015 dan kemudian menembus Rp 41 juta.
Jangan Sampai Mencerabut!
Menurut Amartya Sen (2012), pembangunan seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia untuk mengembangkan pilihannya. Menurut dia, dengan hal tersebut, manusia mampu mengoptimalkan potensinya dengan sempurna. Pembangunan harus bisa melihat anyaman antara sumber daya alam dan sumber daya budaya (Sudaryono, 2007).
Ruang tidak dapat dipandang dalam bentuk fisik semata. Ada tiga aspek pembentuk suatu ruang: aktivitas sosial-ekonomi-budaya, sistem nilai, dan bentang fisik ruang. Sebagaimana yang disebut Foucault (1967) sebagai heterotopia atau ruang-ruang yang lain.
Poin tersebut menekankan bahwa pemahaman atas kearifan lokal harus dijadikan acuan pembangunan di daerah. Pemahaman atas budaya lokal dapat dijadikan rule model untuk menata kota sesuai dengan lokalitasnya.
Banyuwangi adalah contoh daerah yang sukses mengoptimalkan potensi lokalnya. Daerah lain juga melakukan kebijakan serupa dalam mengelola kearifan lokalnya. Misalnya, Banjarnegara dengan Dieng Culture Festival (DCF), Jember dengan Jember Fashion Carnaval (JFC), serta Lumajang dengan Festival Semeru-nya.
Namun, sejauh ini Banyuwangi dengan penggalian lokalitas dan kreativitas dalam pengemasannya perlu dijadikan acuan bagi daerah lain. Tak heran jika Banyuwangi yang dipimpin Bupati Azwar Anas dinobatkan sebagai ’’The Best Festival City’’ oleh Kementerian Pariwisata. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
