Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Agustus 2017 | 20.15 WIB

Basofi, Dangdut, dan Tidak Semua Laki-Laki

Aris Setiawan - Image

Aris Setiawan

Tidak semua laki-laki bersalah padamu
Contohnya aku mau mencintaimu
Tapi mengapa engkau masih ragu


JAUH sebelum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merilis album musiknya saat aktif menjadi presiden negeri ini, Basofi Sudirman sudah lebih dahulu melakukannya. Dia menelurkan satu single berjudul Tidak Semua Laki-Laki di pengujung karirnya sebagai wakil gubernur DKI Jakarta pada Maret 1992.


Tidak seperti SBY dengan lirik-lirik musiknya yang berbau nasionalis-kebangsaan, Basofi justru menyanyikan lagu cinta melankolis-romantis bergenre dangdut sebagaimana dalam penggalan lirik di atas. Tidak Semua Laki-Laki diciptakan Leo Waldi.


Lagu itu meledak dan digemari masyarakat, hilir mudik di televisi (terutama TVRI). Bayangan masyarakat tentang sosok tentara (apalagi berpangkat jenderal) yang gagah, keras, kaku, dan pongah menjadi cair saat melihat sosok Basofi menyanyikan lagu itu. Dia tak ubahnya penyanyi dangdut lain yang mendayu-dayu dan merintih pilu karena mendendangkan lagu patah hati dan cinta-cintaan.


Lagu tersebut tidak hanya mengangkat pamornya di mata publik, tapi juga menjadikannya laki-laki pujaan perempuan. Bagaimana tidak, dalam lirik lagunya, Basofi berkisah tentang dirinya sebagai satu-satunya laki-laki yang rela mencintai perempuan sepenuh hati pada saat laki-laki lain bertabiat buruk dan salah. Basofi memberikan imajinasi tentang kasih sayang bagi kaum hawa. Dia menyodorkan pembelaan dan cinta yang sempurna lewat lagu.


Pilihan bermusik Basofi tergolong cukup berani. Maklum, kala itu Orde Baru begitu ketat dalam kuasa kontrol-mengontrol perilaku pejabat. Soeharto, sang presiden, sebagaimana dicatat majalah Tempo edisi 22 September 1992, pernah memberikan komentar terkait pilihan Basofi terjun sebagai penyanyi dangdut. Soeharto memberikan respons positif dan berkata, ”Rakyatmu suka dangdut, pemudamu juga suka dangdut. Jadi, ya pantas saja kalau kamu juga nyanyi dangdut.”


Komentar itu melegakan. Dengan kata lain, restu dari pucuk pimpinan tertinggi telah didapatkan. Berdangdut adalah usaha mendekatkan diri dengan rakyat. Pilihan profesi sebagai penyanyi dangdut bukannya tanpa hambatan. Dangdut kala itu masih dianggap sebagai musik kampungan. Dengan berbagai persepsi yang cenderung negatif dan merendahkan. Basofi juga sering dicibir karena bernyanyi dangdut, dianggap sebagai artis murahan numpang tenar. Terlebih, belum ada sejarah pemimpin daerah di negeri ini yang juga berprofesi penyanyi dangdut.


Namun, sayup-sayup lagunya dinyanyikan. Dari sempitnya kamar mandi hingga lorong jalan perkampungan. Masyarakat desa hingga kota hafal lagu berjudul Tidak Semua Laki-Laki. Lelaki yang hendak menyatakan cinta kepada pasangannya tentu akan menyanyikan lagu itu. Menganggap dirinya sebagai satu-satunya laki-laki yang berbeda, yang mengayomi dan mencintai perempuan terkasih apa adanya. Bahkan, ”tidak semua laki-laki” sering kali menjadi idiom pembelaan saat banyak perempuan mengutuk perilaku bejat kaum adam.


Basofi berdangdut; rakyat bergoyang. Musik saat itu dianggap sebagai episentrum seni yang membutuhkan pengawasan. Pemerintah dapat serta-merta melarang, memberedel, bahkan menangkap musisi yang dianggap menyimpang atau tidak sesuai dengan keinginan penguasa. Basofi tampil memberikan penyegaran bahwa bermusik tak harus melulu tegang. Namun sebaliknya, merayakan goyang dengan lirik asmara yang sederhana.


Tidak Semua Laki-Laki terus menggema dan melintas batas generasi. Hingga saat ini lirik lagu itu dinyanyikan walau sering kali orang tak tahu siapa penyanyi aslinya. Musiknya berlari jauh meninggalkan penyanyinya. Basofi tidak semata mewariskan kisah-kisah politik dan kemiliteran, tapi juga kisah perdangdutan. Membuat rakyat mengenangnya sebagai pengelana profesi.


Lagu Tidak Semua Laki-Laki muncul ke permukaan mengalahkan lagu-lagu sejenis kala itu. Memberikan alternatif dalam berdangdut di kala demam lagu ala Rhoma Irama, Meggi Z., dan Mansyur S. begitu merajai. Basofi hadir menjadi perbincangan dan perdebatan. Membuat masyarakat bergosip tentangnya sambil bergoyang.


Kaum adam seharusnya mengucap banyak terima kasih kepada Basofi. Sebab, lagunya itu mewakili seribu kata ungkapan cinta bagi perempuan. Tak harus menjelaskan panjang lebar siapa Anda sebagai laki-laki, cukup nyanyikan lagu itu, pasangan Anda pasti mengerti.


Kadang siapa dan bagaimana kita ditentukan lagu apa yang kita nyanyikan. Basofi lewat lagunya berupaya menunjukkan sisi lain dalam dirinya, yang romantis dan melow. Sebagaimana artis-artis Korea di zaman ini: badannya kekar, tapi wajahnya manis dan menggemaskan. Basofi sang tentara yang terlihat galak, tapi lembut penuh kasih lewat dangdut. Kini kita pun jarang melihat pejabat bernyanyi dangdut seperti Basofi.


Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman telah pergi untuk selamanya pada Senin, 7 Agustus 2017, pada usia ke-76 tahun karena sakit yang diderita. Namun, dendang Tidak Semua Laki-Laki akan terus abadi, dikenang dan dinyanyikan. Tak ada salahnya di perayaan kemerdekaan tahun ini kita serentak lantunkan Tidak Semua Laki-Laki sebagai penghormatan kepada dirinya. (*)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore