Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Februari 2017 | 01.41 WIB

Sepak Bola Indah Sudah Kalah?

Mahfud Ikhwan - Image

Mahfud Ikhwan



Bahkan, menurut klaim orang Catalan, La Masia juga membuat Spanyol juara dunia. Tapi, yang lebih penting daripada itu, La Masia memberikan identitas terbaik bagi apa yang disebut sebagai Barcelonismo.



Kurang berhasil dengan Tito dan gagal total dengan Tata Martino, dengan materi yang tak terlalu jauh berbeda, Barcelona berjaya kembali di bawah Luis Enrique. Enrique merupakan lulusan akademi Gijon. Dia pernah main di Madrid dan tak pernah mengecap langsung kepelatihan Cruyff, sang ideolog.



Dalam tiga musim, dia memberikan delapan gelar domestik dan internasional untuk Barca. Tapi, penonton di Camp Nou mencari-cari di mana letak Barcelonismo mereka. Termehek-mehek saat menahan imbang Real Betis pada 29 Januari menguatkan pertanyaan itu. Kekalahan telak dari PSG di 16 besar Liga Champions 2017 pekan lalu memperjelasnya.





***



Memecat Enrique –atau menunggunya pergi dengan kemauan sendiri seperti yang dilakukannya di Roma dan Celta– adalah opsi mudah. Mencari penggantinya juga gampang. Pelatih muda bertalenta sedang berjibun.



Ronald Koeman yang sangat mengenal Barca dan bersentuhan langsung dengan tradisi mereka bisa jadi pilihan utama. Sebagai mantan pemain Espanyol, Pochettino juga mengenal Barcelona meski dari sudut berbeda.



Semua sepakat bahwa dia berlimpah bakat. Pilihan lain lagi mengarah pada Eusebio, rekan setim Koeman dan Pep serta murid Cruyff, yang kini melatih Sociedad. Atau, mau bikin kejutan? Ada Diego Simeone atau Massimiliano Allegri. Atau... Jose Mourinho?



Selanjutnya bagaimana, itu pasti memusingkan kepala para direktur Barca.



Dalam beberapa kesempatan, Barcelona biasanya sulit melakukan transisi. Yang paling pahit adalah ketika mereka hendak mengubah tim setelah kalah 4-0 di final Liga Champions 1994 oleh AC Milan.



Sebagian besar pemain lama dibuang dan hasilnya nol besar. Cruyff dipecat dalam sebuah pertengkaran dan sosok dewa bagi orang Catalunya itu memejahijaukan klub yang memujanya. Ujungnya, presiden klub kala itu, Josep Nunez, terguling.



Louis van Gaal memberikan dua gelar liga dalam dua kali pengabdiannya. Tapi, tim-tim di bawah Bobby Robson, Lorenzo Serra Ferrer, Carles Rexach, dan Radomir Antic adalah tim-tim semenjana, jika bukan malah jadi rangkaian kenangan pahit.



Mereka baru merasa pulih ketika Frank Rijkaard bersama tumbuhnya sebuah generasi baru dari akademi La Masia seperti Xavi dan Carles Puyol memberikan mereka gelar Eropa ke-2. Lalu, mereka panen raya bersama Pep.



Apa yang diberikan Pep dan tim ala La Masia-nya adalah proses transisi panjang dan menyakitkan yang makan waktu lebih dari dua dekade. Bagaimana Barcelona dibangun pasca-Pep menunjukkan betapa tim macam itulah yang sangat diidealkan para pendukung Barca.



Menengok bagaimana mereka lahir, tentu saja tak mustahil itu diulangi, mungkin dengan sedikit utak-atik dan revisi. Tentu saja butuh waktu. Bisa jadi lebih panjang.



Tapi, Barca juga tak sesuci yang dikira para penggemar barunya. Ketika mendatangkan Cruyff dan Neesken dari Ajax sekaligus memboyong Rinus Michels pada musim 1973–1974 dengan harga dan gaji yang memecahkan rekor dunia, mereka tentu saja sedang berusaha ’’membeli gelar’’ yang didapat Ajax (tiga Piala Champions berturut-turut).

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore