Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Desember 2017 | 15.25 WIB

Jatim Satu dan Pemilih Milenial

Ali Rif - Image

Ali Rif

Pilkada Jawa Timur (Jatim) 2018 memasuki babak baru. Dua poros koalisi mulai kukuh terbentuk. Setelah Saifullah Yusuf alias Gus Ipul resmi menggandeng Abdullah Azwar Anas (bupati Banyuwangi), kini giliran Khofifah Indar Parawansa yang mengumumkan duetnya bersama Emil Elestianto Dardak (bupati Trenggalek).


Bila kompetisi elektoral di Jatim akhirnya hanya dua poros, dapat dipastikan rivalitas bakal berlangsung sangat sengit. Pertama, poros Gus Ipul-Anas maupun Khofifah-Emil (dua-duanya) merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dengan basis massa dan dukungan kiai relatif seimbang. Secara matematika politik, imbangnya dukungan tersebut akan membuat kompetisi politik berlangsung kompetitif.


Kedua, kedua pasangan didukung tokoh kuat. Pasangan Gus Ipul-Anas didukung Megawati Soekarnoputri, sedangkan Khofifah-Emil didukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Seperti diketahui, Megawati dan SBY selama ini dikenal memiliki sejarah panjang dalam kompetisi politik tanah air. Dimulai dari kompetisi Pilpres 2004. Saat itu SBY yang sebelumnya merupakan menteri Presiden Megawati dalam kompetisi elektoral 2004 justru menjadi lawan politik dan bahkan mengalahkan Megawati sebagai capres incumbent.


Sejak saat itulah Megawati dan SBY mengalami stagnasi komunikasi. Bahkan, selama sepuluh tahun SBY menjabat presiden, Megawati tidak pernah hadir dalam upacara di istana. Kompetisi tersebut berlanjut di Pilkada DKI Jakarta 2017, saat Megawati mengusung pasangan Ahok-Djarot dan SBY mengusung Agus-Sylvi. Tentu peta dukungan Megawati dan SBY ini sedikit banyak akan memengaruhi bobot resonansi politik demokrasi elektoral memperebutkan Jatim Satu.


Ketiga, Khofifah ataupun Gus Ipul merupakan tokoh yang secara personal bukan pendatang baru dalam jagat politik. Ibarat pertandingan sepak bola, keduanya merupakan pemain berpengalaman dengan jam terbang tak terbantahkan di pentas lapangan hijau. Selain sama-sama pernah menduduki jabatan eksekutif (menteri) dan legislatif (anggota DPR), keduanya pernah memimpin organisasi dengan basis massa paling mengakar. Jika Gus Ipul pernah memimpin GP Ansor, Khofifah menakhodai Muslimat NU selama tiga periode berturut-turut.


Artinya, dari sisi rekam jejak, keduanya memiliki rute kepemimpinan dan pengalaman organisasi serta birokrasi yang panjang dan membanggakan. Kondisi tersebut tentu akan membuat pemilih sulit mencari titik pembeda di antara keduanya sehingga peta kompetisi makin sulit ditebak.


Pemilih Milenial
Karena itu, menurut hemat saya, salah satu peta penting yang menentukan kemenangan di Pilkada Jatim 2018 kini terletak pada pemilih milenial. Merujuk data KPU Jatim, jumlah pemilih Jatim tahun 2018 kurang lebih 32 juta jiwa. Bila menggunakan proporsi data demografi dari BPS Jatim, angka pemilih milenial diperkirakan sebesar 39,0 persen (Hasanuddin Ali, 2017). Data itu diperkuat hasil survei iPol Indonesia yang menyebut pemilih milenial di Jatim saat ini sekitar 14,5 juta jiwa. Mengutip pendapat Elwood Carlson (2008), pemilih milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang waktu 1983–2001.


Kesadaran bahwa pemilih milenial sangat menentukan dalam kompetisi elektoral di Jatim itu tampaknya sudah hadir di kalangan elite pengusung kandidat. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, misalnya, dalam pidato pengumuman pasangan Gus Ipul-Anas mengatakan, salah satu alasan digandengnya Azwar Anas adalah yang bersangkutan dianggap mewakili kelompok milenial Jatim. Hal yang sama dilakukan elite pengusung Khofifah. Nama Emil Dardak yang digandeng sebagai cawagub tak dapat dipisahkan dari alasan untuk menarik pemilih milenial.


Sebagai generasi langgas yang akrab dengan teknologi digital, pemilih milenial memiliki karakter unik berdasar wilayah dan kondisi sosiokultural di mana dia tinggal. Meskipun jumlahnya besar, pemilih milenial cenderung apolitis. Dalam teori perilaku pemilih, kelompok milenial masuk kategori pemilih rasional. Pemilih rasional adalah mereka yang memilih berdasar pertimbangan visi, gagasan, dan rekam jejak sang kandidat.


Kampanye Kreatif
Tentu, untuk menarik ceruk pemilih milenial, para kandidat tidak cukup hanya mengusung cawagub dari kelompok milenial. Sebagai pemilih rasional, salah satu cara paling efektif untuk menarik simpati pemilih milenial adalah melalui kampanye. Rogers dan Storey (1987) mengartikan kampanye sebagai rangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak.


Namun, yang dimaksud kampanye di sini bukanlah kampanye yang konvensional dan monoton. Pemilih milenial memiliki kecenderungan menyukai gaya kampanye kreatif. Salah satu ciri kampanye kreatif adalah dapat menghibur. Kampanye kreatif digandrungi kelompok milenial karena di dalamnya terkandung dua unsur sekaligus, yakni gagasan dan hiburan.


Lock dan Harris (1996) pernah menuturkan bahwa unsur penting yang harus dibangun dalam sebuah kampanye adalah ”hubungan internal” dan ”hubungan eksternal”. Hubungan internal adalah hubungan yang berkaitan dengan kader partai, organisasi-organisasi sayap partai, ataupun lembaga-lembaga pendukung partai. Sedangkan hubungan eksternal adalah hubungan yang berkaitan dengan masyarakat luas, yakni kelompok-kelompok di luar kader dan simpatisan.


Jika mengacu bangunan kampanye tersebut, model kampanye kreatif sangat efektif digunakan untuk menarik simpati pemilih milenial. Pasalnya, jika mengacu pendapat Lock dan Harris, pemilih milenial –lantaran mayoritas apatis dengan politik– masuk dalam kelompok nonkader dan nonpartisan (eksternal).


Artinya, mengabaikan pemilih milenial dalam kompetisi elektoral di Jatim merupakan tindakan yang bisa dikatakan ”gegabah”. Sebaliknya, mendekati pemilih milenial merupakan satu langkah naik tangga menuju ”pintu gerbang” kemenangan. (*)



Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore