alexametrics
Jawa Pos Ikhtiar untuk Indonesia

Dari Keterbatasannya Leani Ratri Mampu Membanggakan Tanah Air

Kibarkan Merah Putih Itu di Paralimpiade
28 Oktober 2019, 09:02:38 WIB

JawaPos.com – Hanya ada satu angan dalam benak Leani Ratri Oktila setiap kali turun di sebuah turnamen. Dia ingin mengibarkan bendera Merah Putih di podium. Sambil menjunjung piala atau berkalung medali. Kini dia bersiap menyongsong Paralimpiade 2020.

”SAYA ingin mengibarkan bendera ini di Paralimpiade 2020.” Begitu tekad Leani Ratri Oktila, juara dunia Para Badminton 2019, sambil mengeluarkan Sang Dwiwarna dari dalam tasnya. Bendera itu selalu ada di sana dan dibawanya ke mana-mana.

Kebiasaan tersebut diajarkan sang ayah F. Mujiran sejak Leani masih belia.

Itu dilakukan untuk memberikan motivasi kepada atlet kelahiran Siabu, Bangkinang, Pekanbaru, tersebut agar suatu saat bisa membawa nama Indonesia ke kancah dunia. Ketika itu usianya masih 7 tahun dan mulai turun di turnamen-turnamen tingkat lokal. Tak dinyana, 15 tahun kemudian, bendera di dalam tasnya tersebut benar-benar dia kibarkan di podium tertinggi Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.

Kala itu atlet 28 tahun tersebut meraih tiga medali sekaligus. Masing-masing satu emas, perak, dan perunggu. ”Rasanya kayak mimpi. Ini cita-cita saya sejak kecil. Papa mengenalkan bulu tangkis ke anak-anaknya supaya sehat saja. Nggak pernah tebersit bisa sampai jadi juara dunia,” kenang Ratri, matanya terlihat berkaca-kaca saat ditemui wartawan Jawa Pos Tyasefina Febriani di GOR Sritex, Solo, 22 Oktober.

Sejak bergabung dengan NPC (Komite Paralimpiade Nasional) pada 2013, Ratri memang konsisten menyumbang medali. Baru setahun bergabung, namanya masuk dalam skuad Merah Putih yang dikirim ke Asian Para Games 2014 di Incheon. Dia kembali dipanggil untuk memperkuat skuad ASEAN Para Games 2015 di Singapura dan ajang yang sama dua tahun kemudian di Kuala Lumpur.

Atlet para Bulu Tangkis Indonesia Leani Ratri Oktilla saat berada di Solo, Sabtu (20/9). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

Dari dua event tersebut Ratri menyapu bersih enam medali. Masing-masing dari sektor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Untuk ganda putri dia berpasangan dengan Khalimatus Sadiyah Sukohandoko, sedangkan di ganda campuran partnernya adalah Hary Susanto. Selang setahun kemudian, Ratri juga hampir menyapu bersih emas di para badminton Asian Para Games di Jakarta. Hanya terlewat di sektor tunggal putri. Dia ”hanya” menggamit perak.

Hasil kerja kerasnya berbuah manis. Di multievent terbesar se-Asia tersebut, Ratri menyumbangkan dua emas dan satu perak. Selama ini Ratri memang terbiasa turun di tiga nomor sekaligus, yaitu tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Semuanya dengan kategori standing lower 4 (L4).

Prestasinya di kejuaraan dunia tak kalah mentereng. Tahun ini saja Ratri sudah menggondol dua emas dari Basel Agustus lalu. Masing-masing dari sektor tunggal putri dan ganda campuran, berpasangan dengan Hary Susanto. Selain itu, satu perak dia bawa pulang dari sektor ganda putri. Hasil megah tersebut langsung menjamin langkahnya menuju Paralimpiade Tokyo 2020. Padahal, masa kualifikasi masih delapan bulan lagi saat itu.

”Tentu saya nggak menyangka (dengan capaian ini, Red). Tapi, kalau mengingat kembali yang sudah saya jalani, saya merasa pantas untuk mendapatkan ini. Saya berani melawan rasa jenuh dan malas. Kadang ketika latihan saya nangis. Tapi, semua itu coba saya tutupi dengan tidak menyeka keringat yang bercucuran di wajah,” ungkap Ratri, lantas tersenyum.

Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah Sukohandoko mendapatkan medali emas di nomor ganda putri para bulu tangkis Asian Para Games 2018. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Kini Ratri adalah andalan para badminton Indonesia. Statusnya adalah pemain terbaik dunia di tiga sektor. Dia lolos kualifikasi Paralimpiade dengan mengumpulkan poin tertinggi untuk seluruh nomor. Karena itu, untuk sementara waktu, Ratri tidak akan turun dalam turnamen apa pun. Dia baru bakal bertanding lagi tahun depan untuk mematangkan persiapannya menuju multievent paling bergengsi di dunia tersebut.

Dulu Ratri adalah atlet normal. Kecelakaan motor yang dialaminya pada Februari 2011 mengakibatkan kaki kirinya patah. Hanya berselang tiga bulan setelah kecelakaan, Ratri mencoba untuk berjalan. Upaya itu ternyata malah membuat tulangnya patah lagi sehingga kini kaki kirinya lebih pendek 11 sentimeter. Kondisi itulah yang memasukkannya dalam kategori SL4.

Ratri sempat berhenti bermain bulu tangkis selama masa pemulihan tersebut. Sekitar satu tahun setelahnya, seorang pengurus NPC Pekanbaru menawarinya tampil di Pekan Paralimpiade Nasional dengan Riau sebagai tuan rumah. Tanpa persiapan, jalan juga masih memakai tongkat, Ratri menerima tawaran itu. Padahal, keluarganya tak tega dan melarangnya untuk kembali bermain.

Diam-diam Ratri bertanding dan berhasil membawa pulang satu emas dan satu perak. ”Bilangnya berangkat kuliah, padahal tanding. Pas pulang bawa medali itu antara takut, tapi ya gimana. Orang tua memaksa saya operasi, tetapi saya menikmati kondisi ini,” kenang Ratri.

Untuk kali pertama bulu tangkis akan dipertandingkan pada Paralimpiade 2020 di Tokyo nanti. Dan semoga sejarah pulalah yang mencatat Leani Ratri Oktila sebagai para badminton pertama yang mengeluarkan bendera Merah Putih dari tas dan dikibarkan di podium tertinggi.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : feb/c9/cak



Close Ads