Momen Megawati Hangestri merayakan skor saat final V League melawan Pink Spiders, Selasa (8/4). (KOVO)
JawaPos.com – Sebelum final V-League Korea dimulai, hampir seluruh sorotan tertuju pada Kim Yeon-koung. Sang legenda voli Korea sudah menyatakan bakal pensiun usai musim ini. Semua menanti apa yang disebut sebagai ‘last dance’ dari pemain yang telah dua dekade jadi wajah bola voli Asia.
Namun ternyata, yang mencuri hati penonton hingga akhir seri adalah lawannya—Red Sparks, tim yang semula hanya dianggap ‘figuran’.
Tampil di final V-League untuk pertama kalinya dalam 13 tahun, Red Sparks datang dengan status underdog. Mereka hanya finis di peringkat ketiga klasemen dan harus melalui playoff tiga laga melawan Hyundai Hillstate.
Bahkan, pemain kunci mereka seperti Yeom Hye-seon, Noran, Bučić, hingga Megawati Hangestri tampil dengan kondisi cedera.
Dua gim pertama yang digelar di Incheon pun dimenangkan oleh Heungkuk Pink Spiders. Banyak yang mengira, laga ketiga di Daejeon akan jadi akhir.
Apalagi Red Sparks sempat tertinggal dua set. Tapi justru di titik itu, tim asuhan Koh Hee-jin menunjukkan semangat luar biasa. Mereka balikkan keadaan dan menang, lalu melanjutkan kepercayaan diri itu di laga keempat.
Di partai penentuan, Senin (8/4), Red Sparks nyaris membuat sejarah. Setelah tertinggal dua set, mereka bangkit dan menyamakan skor 2-2. Di set kelima, mereka bahkan unggul 12-12 sebelum akhirnya dihentikan oleh pertahanan luar biasa Kim Yeon-koung.
Pertandingan itu tak hanya dimenangkan oleh Heungkuk Pink Spiders, tapi juga oleh Red Sparks yang mendapatkan standing ovation dari 6.082 penonton di Incheon Samsan World Gymnasium.
Penonton paham, drama final ini bukan hanya tentang Kim Yeon-koung, tapi juga tentang Red Sparks yang memilih peran ‘antagonis’ dan menjadikannya kisah paling menyentuh musim ini.
Usai laga, pelatih Koh Hee-jin tak bisa menyembunyikan kebanggaan. “Pemain kami luar biasa. Di tengah cedera dan tekanan, mereka tetap bermain dengan semangat dan hati,” ujarnya.
Bahkan pelatih lawan, Marcello Abbondanza, memberi hormat. “Selama dua musim terakhir, Red Sparks adalah tim paling sulit dikalahkan. Mereka punya motivasi dan karakter yang kuat.”
Tak ketinggalan, Kim Yeon-koung pun mengakui kehebatan lawannya, terutama Megawati Hangestri, yang disebutnya “salah satu pemain paling menakutkan musim ini.”
Dalam dua musim terakhir, Red Sparks telah membuat loncatan luar biasa. Dari hanya penonton di playoff, kini mereka jadi finalis. Dan meskipun belum bisa menggenggam trofi, mereka telah menggenggam sesuatu yang lebih besar—penghormatan, rasa hormat, dan cinta dari para penggemar voli.
Musim depan, Red Sparks tidak akan lagi dipandang sebelah mata. Mereka bukan ‘antagonis’, mereka adalah pahlawan.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
