
JAWARA: Umar Syarief (tengah) saat mendampingi atlet di PON XX Papua 2020 yang pelaksanaannya 2021. (Umar Syarief untuk Jawa Pos)
Umar Syarief dikenal sebagai salah seorang karateka terbaik di nomor +84 kg yang pernah dimiliki Jawa Timur dan Indonesia. Dia pernah mengalami cedera ligamen parah yang membuatnya hampir menyudahi karier. Tapi, dia membuktikan tetap bisa berlaga di Asian Games Qatar 2006 dan meraih medali perunggu. Bagaimana kabar Umar yang pernah diganjar rekor Muri sebagai atlet karate nasional terlama pada 2014? Berikut perbincangan Jawa Pos dengan dia.
---
HALO apa kabar, Coach?
Ya, alhamdulillah baik.
Saat ini domisili di mana?
Sekarang saya di Swiss. Baru sampai kemarin pagi (31 Maret, Red). Setiap satu setengah bulan pasti balik ke sini.
Bagaimana akhirnya Anda bisa tinggal di Swiss?
Iya, sejarahnya panjang. Waktu jadi atlet, saya pernah TC di Jerman dekat Swiss untuk persiapan Asian Games Qatar 2006. Kami latihan di Jerman 8 orang, 11 sama pelatih. Saya di situ mengalami cedera yang luar biasa. Cedera kedua setelah SEA Games 2005 dioperasi di Jakarta tidak sembuh karena cuma diputus separo ototnya.
Akhirnya 2006 kita kembali ke Jerman persiapan itu 3–5 bulan. Saya dua-duanya putus ligamen. Saya divonis dokter tidak boleh main karena putus harus (perawatan, Red) 12 bulan. Tapi, di situ pelatih di Jerman memberi saya kesempatan karena melihat saya sedih dan putus asa. Karena sudah jauh dari Indonesia dan tinggal lima bulan, terus tidak bisa main. Tapi, saya hanya bisa mengandalkan pengalaman karena ototnya tidak siap.
Karena momen Asian Games, saya ambil risiko untuk Merah Putih. Selama lima bulan hanya penyembuhan untuk penguatan, untuk latihan karatenya tidak. vSampai Asian Games banyak yang lihat. Menpora ketika itu, Adhyaksa Dault, sampai teriak di tribun karena saya jatuh bangun. Tapi, dengan kaki satu dapat medali perunggu Asian Games. Lalu kembali putus (ligamen, Red) kaki saya.
Di situlah kenapa saya di Swiss. Saya dikirim dokter Jerman untuk operasi karena ada dokter ortopedi. Saya ceritakan kronologinya belum sembuh dari perawatan, tapi main.
Dokter bilang, ini risikonya nyawa. Atlet seluruh dunia tidak ada yang seperti kamu. Ya sudah, kalau mau berhenti istirahat satu tahun akan operasi. Tapi, kalau saya operasi lantas tidak berhenti bermain, saya tidak dioperasi. Kamu pulang, kata dokter. Ya sudah, akhirnya saya balik ke Indonesia. Saya pikirkan panjang, tapi akhirnya saya telepon dokternya untuk berhenti pada 2007.
Pada 2008 itu kan momennya SEA Games Thailand. Februari awal operasi dan saya tidak main SEA Games. Setelah delapan bulan saya come back ikut Liga Swiss. Saya juara. Seri Golden League WKF punya. PON 2008 dapat tiga emas. Di situlah saya bersyukur karena dokter ini membantu sangat luar biasa dalam karier saya sampai sekarang.
Kenapa waktu itu tidak memilih operasi di Indonesia?
Di Indonesia memang bisa operasi. Tapi, tidak tahu bagaimana me-recovery. Itu yang kita tidak punya. Makanya kebanyakan atlet Indonesia habis operasi cacat, dalam arti tidak bisa melanjutkan kariernya. Itu junior saya banyak.
Makanya kan dulu basket di tim Aspac Jakarta kalau operasi ke Filipina. Karena di sana recovery bagus. Sama seperti sepak bola yang biasanya ke Eropa. Pasca-recovery itu lengkap semua alat-alatnya. Kita tidak punya.
Sekarang sudah mulai ada. Zaman dulu nggak ada. Jadi, bersyukur sekali saya bisa dapat jadwal operasi di Swiss. Karena untuk operasi di sana harus menunggu. Harus telepon tiga atau enam bulan sampai ada jadwalnya. Bagus sekali. Kalau tanpa mereka, sudah pensiun dini.
Saat ini apa saja kesibukan Anda?
Tetap saya latihan dan memberikan kelas. Sejak di Eropa belajar banyak seperti fitnes, strong nation, zumba fitness. Melatih tim Jatim. Apalagi saya dipilih jadi binpres karate di Jawa Timur, terutama Inkanas menjadi lebih maju daripada sebelumnya. Karena itu kan tanggung jawab saya. Makanya saya banyak komunikasi dalam arti pikiran, guideline, konsepnya, kaderisasinya, seleksinya, turnamennya. Jadi, kegiatannya seperti itu menunggu nanti Pra-PON kan mulai Oktober ini pemanggilan puslatda.
Kabarnya Anda diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Surabaya?
Iya, makanya saya sedih. Sebetulnya saya tidak mau pikirkan. Tapi, kalau dipikirin pengorbanan saya tidak sedikit, hampir 20 tahun. Satu-satunya atlet terlama seluruh Indonesia yang memiliki prestasi dan pertahankan juara nasional dan tidak terkalahkan. Tujuh emas PON, 12 emas SEA Games. Silver dan perunggu Asian Games. Saya juga juara Asia 2004. Selama 20 tahun tidak terkalahkan. Semua itu butuh pengorbanan. Kalau tidak ada kedisiplinan dan konsistensi kan tidak mungkin seperti itu.
Sebenarnya saya melupakan sih berjalannya tiga bulan. Tapi, saya berpikir gitu. Untuk juara dan berlatih setelah seperti ini tidak diperhatikan bagaimana nasibnya setelah pensiun. Masak hanya mengenang medali dan pengorbanan saya yang dituntut selalu juara.
Selama jadi atlet, pengalaman pertandingan apa yang paling mengesankan buat Anda?
Paling mengesankan ketika di Asian Games 2006 Doha, saya dapat perunggu dengan kaki satu. Itu sudah divonis dokter tidak boleh main karena ligamen saya putus. Itu yang membuat saya wow. Saya korbankan untuk Indonesia. Di situlah bagaimana saya korbankan untuk Merah Putih meskipun riskan sekali bagi saya. Itulah perjuangan.
Yang kedua paling histori juga SEA Games 2005. Dua bulan menjelang kejuaraan saya operasi di Jakarta. Meniskus robek. Ligamen putus satu. Di situ awal mulanya, kalau diputus dua-duanya tidak bisa main SEA Games. Tapi, saya masih bisa main dapat tiga medali emas. Transisi dari SEA Games 2005 ke Asian Games 2006 itulah putus dua-duanya. Ya, itulah perjalanan delapan kali operasi. Atlet satu-satunya di dunia.
Dapat Muri atlet terlama dan pernah dapat atlet SIWO PWI dua kali. Dan atlet terbaik dari KONI Award. Juga penghargaan Satyalancana dari presiden. Dan dapat ”penghargaan” lagi dari wali kota (Eri Cahyadi) dipecat dari pemkot. Terakhirnya itu dipecat.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
