alexametrics

Analisis Mengapa Fabio Quartararo Tampil Begitu Luar Biasa di Misano

17 September 2019, 20:46:30 WIB

JawaPos.com–Apa yang masih menjadi misteri dari pergelaran GP San Marino Minggu malam WIB (15/9) adalah bagaimana seorang rider tim satelit dengan spek motor paling rendah seperti Fabio Quartararo mampu meladeni pembalap tercepat dengan senjata paling ampuh di MotoGP saat ini, Marc Marquez.

Tiga pembalap penunggang Yamaha lainnya seperti Quartararo, yakni Valentino Rossi, Maverick Vinales, dan Franco Morbidelli, mengaku belum menemukan jawaban paripurna. Tetapi, sebuah analisis dari Manajer Tim Petronas Yamaha Wilco Zeelenberg membongkar sebagian rahasia itu.

Ada empat rider Yamaha yang mengepung Marquez di Misano. Dua di antaranya, Rossi dan Vinales, dipersenjatai dengan sederet amunisi teranyar dan paling lengkap pada motornya. Yakni, lengan ayun karbon, knalpot berkepala ganda, dan penutup cakram rem depan. Sedangkan Morbidelli menggeber M1 dengan spek satu level di bawah rider utama.

Di sisi lain, motor Quartararo memiliki spek terendah. Putaran mesinnya 500 rpm lebih rendah dari kepunyaan Morbidelli.

Yang menambah kekaguman semua orang adalah kondisi trek di Misano sepanjang akhir pekan lalu sangatlah tricky. Permukaan aspal di beberapa tikungan licin. Data menyebutkan, 69 kecelakaan terjadi sejak sesi latihan sampai balapan di semua kelas. Bagi seorang rookie seperti Quartararo, tentu saja kondisi tersebut tidak menguntungkan. Berbeda halnya dengan Marquez yang lebih berpengalaman dan berstatus juara MotoGP lima kali.

Quartararo akhirnya memang ’’hanya” finis kedua. Tetapi, Marquez menyebut, rider Prancis itu adalah yang tercepat di Misano. ’’Hari ini (Minggu) Fabio adalah pemenang sejatinya atau rider terbaik dalam balapan. Karena dia memimpin sepanjang balapan,’’ ucap Marquez dilansir Crash.

Salah satu kunci performa Quartararo adalah kecepatannya yang luar biasa melibas tikungan cepat seperti Turn 11. Rossi mengatakan, sama dengan Morbidelli, dirinya mengalami kesulitan pada saat keluar tikungan dan kekurangan cengkeraman ban pada saat berakselerasi. Kenapa begitu? ’’Mungkin postur kami lebih tinggi. Kami belum tahu,’’ ujar Rossi mengawang-awang.

Postur tubuh memang salah satu faktor penentu. Tapi, itu bukan satu-satunya. Zeelenberg punya jawaban lebih mendalam. ’’Teknik membalap Fabio mirip sekali dengan Jorge Lorenzo (juara tiga kali MotoGP bersama Yamaha). Bahkan sedikit lebih baik,’’ terang pria yang pernah bekerja sama dengan Lorenzo dan Vinales di tim utama Yamaha itu.

’’Dia sangat percaya diri dengan front end motornya melebihi semua rider Yamaha lainnya. Dia mampu membelokkan motor lebih baik meski menggunakan setup motor yang sama,’’ paparnya.

Satu hal lain yang membuat Quartararo sedikit lebih baik dari Lorenzo adalah tuntutannya terhadap setting-an motor. Lorenzo dikenal perfeksionis. Selalu menuntut motornya sempurna 100 persen menuruti keinginannya.

Sedangkan Quartararo tidak terlalu hirau dengan setting-an motor yang ideal. ’’Fabio jarang sekali komplain. Seperti di Misano, ada beberapa tikungan yang licin. Misalnya tikungan 1, 2, dan 4. (Ketika masih di Yamaha) Jorge (Lorenzo) selalu kesulitan melibas tikungan-tikungan itu. Sebab, dia ingin setting-an motornya sangat smooth dan tidak bergetar sama sekali. Tetapi, Fabio tidak peduli. Kadang dia senekat Marquez. Ketika motornya tak punya cengkeraman sekalipun, dia tetap saja ngebut,’’ tegasnya.

Misano bukanlah sirkuit cepat. Sebagian besar diisi tikungan lambat. Tapi, ada dua tikungan cepat di akhir trek lurus bagian belakang. Yang mana, hanya pembalap yang memiliki keberanian lebih yang mampu melewatinya dengan baik dan mencuri banyak waktu di sana.

Namanya Curvone.

Tikungan ke kanan dengan rata-rata top speed mencapai 250 kilometer per jam. Di sanalah rider Jepang Shoya Tomizawa tewas sembilan tahun lalu.

Quartararo beberapa kali kehilangan cengkeraman ban belakang di tikungan tersebut. Tapi, hal itu tak pernah sedikit pun merisaukannya. Sampai Morbidelli tak percaya dengan data yang dilihatnya. ’’Saya kehilangan kira-kira 0,1–0,2 detik dari Fabio setiap kali melewati tikungan itu,’’ ucapnya.

Dan, satu-satunya jawaban dari perbedaan itu adalah nyali!

Keberanian dalam diri orang-orang yang masih muda memang sudah dibuktikan secara sains. Pada artikel yang ditulis Mat Oxley di Motorsport Magazine disebutkan bahwa dalam diri manusia terkandung monoamine oxidase (MAO) yang bekerja bersama neurotransmitter di dalam otak.

Level MAO pada setiap orang memainkan peranan penting dalam keberanian mengambil risiko dan mencari sensasi. Semakin sedikit MAO di dalam diri manusia, semakin berani pula manusia mengambil risiko. Dan apesnya, semakin tua seseorang, semakin tinggi pula kandungan MAO di dalam tubuhnya.

’’Mungkin Marquez dan Quartararo memiliki kandungan MAO sangat-sangat rendah. Marquez sendirian melawan gempuran Ducati di Austria. Dia juga sendirian ketika menghadapi Suzuki di Silverstone. Dan hari ini (Minggu) Marquez juga sendirian di tengah kepungan Yamaha,’’ tulis Oxley.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : irr/c17/cak



Close Ads