Tunggal Putra Taiwan Chou Tien Chen. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Perjuangan pebulu tangkis tunggal putra Taiwan, Chou Tien Chen harus berakhir dengan kontroversial di perempat final Malaysia Open 2025. Pemain nomor satu di Taiwan itu geram dengan keputusan wasit pada laga melawan pemain asal Tiongkok, Shi Yu Qi.
Pertandingan antara Chou Tien Chen dan Shi Yu Qi berlangsung dengan ketat. Keduanya harus menentukan selesainya laga sampai gim ketiga di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Jumat (10/1).
Kontroversi kemudian muncul pada gim ketiga, ketika Shi Yu Qi mencapai match point dengan skor 20-17. Pemain peringkat kesatu dunia BWF itu mengarahkan shuttlecock ke area baseline Chou.
Hakim garis memutuskan bola keluar, memberikan harapan bagi Chou untuk memperkecil jarak menjadi 18-20. Namun, keputusan itu tak bertahan lama.
Wasit utama memutuskan untuk mengubah pandangan dari hakim garis. Dia menyatakan bahwa shuttlecock telah menyentuh Chou sebelum keluar sebelum mendarat di zona out.
Tambahan poin kemudian diberikan kepada Shi, sekaligus mengakhiri pertandingan dengan skor 21-16, 19-21, 21-17. Chou merasa frustasi dengan keputusan itu setelah berulangkali protes tidak menyentuhnya.
Chou, yang selama ini dikenal tenang, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Dia merasa peluangnya untuk membalikkan keadaan telah dirampas oleh keputusan wasit.
Dalam wawancara pasca-pertandingan, Chou mengungkapkan rasa frustrasinya. Pebulu tangkis berusia 35 tahun itu meminta Video Assistant Referee (VAR) perlu digunakan di olahraga bulu tangkis.
“Saya tidak paham. Saya sudah mengatakannya berulang kali (tentang tidak menyentuh shuttlecock). VAR harus digunakan di bulu tangkis,” tutur Chou, dikutip dari The Star.
“Saya sudah mengatakannya berulang kali, umpire terus membuat kesalahan. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Itu saja,” tambahnya.
Shi turut memberikan tanggapan atas kontroversi di pertandingan melawan Chou. Dia bahkan percaya apabila challenge diberlakukan tidak akan mengubah keputusan wasit utama.
“Setelah saya memukul shuttlecock, hakim garis mengatakan itu keluar, jadi saya hendak mengajukan challenge terhadap keputusan itu,” ungkap Shi.
“Namun, wasit menolak permintaan saya, dan awalnya saya pikir itu karena saya terlalu lama untuk mengajukan permintaan itu.”
“Kemudian wasit menjelaskan bahwa Chou telah menyentuh shuttlecock, sehingga challenge tidak diperlukan, dan saya langsung diberikan poin.”

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
