Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 Agustus 2023 | 14.41 WIB

Papua Football Academy: Perhatikan Pendidikan dan Implementasikan FIFA Child Safeguarding

 

Kepala Pelatih PFA Ardiles Rumbiak (kiri) Video Analis Phaksy Sukowati berdiskusi untuk mempersiapkan evaluasi individu siswa PFA di Mimika Sport Center, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Selasa (8/8/2023).

JawaPos.com - Sejak berdiri pada Agustus 2022 lalu, Papua Football Academy (PFA) memang bergerak untuk mengembangkan sepak bola akar rumput.

Namun, yang diajarkan di sana bukan hanya soal teknis di dalam lapangan. Melainkan juga, yang lebih penting, pendidikan di luar lapangan.

Dalam sebuah ruangan di Mimika Sport Complex, Timika, Papua, Kamis (9/8) sore pekan lalu, tampak seluruh anak PFA fokus mengikuti pelajaran bahasa Indonesia.

Setelah berlatih rutin pada pagi hari, anak-anak Papua dengan rentang usia 13–14 tahun itu memang mendapat program kelas formal sore harinya.

Jika dibandingkan, materi yang didapat anak-anak PFA di luar lapangan lebih besar ketimbang di dalam lapangan.

’’Secara teknikal kami mengalokasikan 12–16 jam seminggu (untuk latihan, Red). Nah, kalau untuk akademik sebenarnya bisa sampai 20 jam seminggu,’’ kata Head Community Finance PT Freeport Indonesia Sizs Jerry ketika ditemui Jawa Pos di Mimika pekan lalu.

Untuk menyelenggarakan kelas formal tersebut, PFA bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika. Materinya disesuaikan. Anak-anak tidak akan mengikuti semua mata pelajaran. Namun, ada satu materi yang jadi perhatian khusus. Yaitu, bahasa Inggris.

’’Karena kami berharap mereka bisa melangkah ke jenjang internasional. Anak-anak juga akan memiliki skill komunikasi. Kami tidak ingin ketika jadi pemain profesional mereka gagap berbicara,’’ ungkap Jerry.

Tidak cukup di pendidikan formal, anak-anak PFA juga mendapat berbagai macam pembinaan karakter. Seperti membiasakan disiplin waktu, memberi pengetahuan hidup bersih, mengajarkan komunikasi dengan baik, dan menerapkan larangan merokok. Itu menjadi salah satu tugas besar tim pelatih dan seluruh staf.

’’Dalam hitungan 1 sampai 100, skill atau fisik anak-anak Papua sudah 50 ke atas, tinggal dibentuk. Tapi, karakter dan mindset masih harus dikembangkan lagi. Supaya mereka tidak hanya sukses di sepak bola, tetapi juga di hal-hal lain,’’ jelas pelatih kepala PFA Ardiles Rumbiak.

’’Hasilnya ada perubahan besar setahun terakhir. Mereka berani berbicara public speaking, berani hidup bersih. Progres di setiap mata pelajaran juga meningkat,’’ imbuh pelatih 37 tahun itu.

Nah, segala program di PFA dijalankan sesuai dengan prinsip FIFA Child Safeguarding. Yaitu, sebuah panduan yang dibentuk FIFA untuk mengidentifikasi, mengatasi, dan mencegah terjadinya segala bentuk kekerasan pada anak-anak. PFA adalah akademi pertama di Indonesia yang mengadopsi prinsip tersebut.

’’Di FIFA Child Safeguarding, ada lima prinsip menjaga anak-anak. Kami sesuaikan jadi tujuh prinsip,’’ ujar Direktur Akademi PFA Wolfgang Pikal. ’’Itu yang jadi dasar kami menyusun. Pertama regulasi yang ada di sini, kedua best practice-nya seperti apa, serta ketiga kurikulum baik dari sisi sepak bola maupun akademik,’’ imbuhnya. 

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore