Kepala Pelatih PFA Ardiles Rumbiak (kiri) Video Analis Phaksy Sukowati berdiskusi untuk mempersiapkan evaluasi individu siswa PFA di Mimika Sport Center, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Selasa (8/8/2023).
JawaPos.com - Sejak berdiri pada Agustus 2022 lalu, Papua Football Academy (PFA) memang bergerak untuk mengembangkan sepak bola akar rumput.
Namun, yang diajarkan di sana bukan hanya soal teknis di dalam lapangan. Melainkan juga, yang lebih penting, pendidikan di luar lapangan.
Dalam sebuah ruangan di Mimika Sport Complex, Timika, Papua, Kamis (9/8) sore pekan lalu, tampak seluruh anak PFA fokus mengikuti pelajaran bahasa Indonesia.
Setelah berlatih rutin pada pagi hari, anak-anak Papua dengan rentang usia 13–14 tahun itu memang mendapat program kelas formal sore harinya.
Jika dibandingkan, materi yang didapat anak-anak PFA di luar lapangan lebih besar ketimbang di dalam lapangan.
’’Secara teknikal kami mengalokasikan 12–16 jam seminggu (untuk latihan, Red). Nah, kalau untuk akademik sebenarnya bisa sampai 20 jam seminggu,’’ kata Head Community Finance PT Freeport Indonesia Sizs Jerry ketika ditemui Jawa Pos di Mimika pekan lalu.
Untuk menyelenggarakan kelas formal tersebut, PFA bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika. Materinya disesuaikan. Anak-anak tidak akan mengikuti semua mata pelajaran. Namun, ada satu materi yang jadi perhatian khusus. Yaitu, bahasa Inggris.
’’Karena kami berharap mereka bisa melangkah ke jenjang internasional. Anak-anak juga akan memiliki skill komunikasi. Kami tidak ingin ketika jadi pemain profesional mereka gagap berbicara,’’ ungkap Jerry.
Tidak cukup di pendidikan formal, anak-anak PFA juga mendapat berbagai macam pembinaan karakter. Seperti membiasakan disiplin waktu, memberi pengetahuan hidup bersih, mengajarkan komunikasi dengan baik, dan menerapkan larangan merokok. Itu menjadi salah satu tugas besar tim pelatih dan seluruh staf.
’’Dalam hitungan 1 sampai 100, skill atau fisik anak-anak Papua sudah 50 ke atas, tinggal dibentuk. Tapi, karakter dan mindset masih harus dikembangkan lagi. Supaya mereka tidak hanya sukses di sepak bola, tetapi juga di hal-hal lain,’’ jelas pelatih kepala PFA Ardiles Rumbiak.
’’Hasilnya ada perubahan besar setahun terakhir. Mereka berani berbicara public speaking, berani hidup bersih. Progres di setiap mata pelajaran juga meningkat,’’ imbuh pelatih 37 tahun itu.
Nah, segala program di PFA dijalankan sesuai dengan prinsip FIFA Child Safeguarding. Yaitu, sebuah panduan yang dibentuk FIFA untuk mengidentifikasi, mengatasi, dan mencegah terjadinya segala bentuk kekerasan pada anak-anak. PFA adalah akademi pertama di Indonesia yang mengadopsi prinsip tersebut.
’’Di FIFA Child Safeguarding, ada lima prinsip menjaga anak-anak. Kami sesuaikan jadi tujuh prinsip,’’ ujar Direktur Akademi PFA Wolfgang Pikal. ’’Itu yang jadi dasar kami menyusun. Pertama regulasi yang ada di sini, kedua best practice-nya seperti apa, serta ketiga kurikulum baik dari sisi sepak bola maupun akademik,’’ imbuhnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
