Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Mei 2020 | 19.40 WIB

Usulan Jadwal PON Menimbulkan Keributan di Level Cabang Olahraga

Adinda Larasati Dewi akan menjadi andalan Jawa Timur pada PON Papua yang berlangsung pada 2021 mendatang. (Chandra Satwika/Jawa Pos) - Image

Adinda Larasati Dewi akan menjadi andalan Jawa Timur pada PON Papua yang berlangsung pada 2021 mendatang. (Chandra Satwika/Jawa Pos)

JawaPos.com – Usulan KONI pusat dan daerah bahwa PON XX/2021 Papua dilangsungkan pada awal Oktober menimbulkan keributan di level cabang olahraga (cabor).

Kebanyakan tidak setuju kalau pesta olahraga terakbar Indonesia itu diadakan pada 2−13 Oktober 2021. Sebab, penyelenggaraan tersebut terlalu mepet dengan SEA Games Hanoi 2021 yang dijadwalkan pada November.

Wakil Ketua PB PODSI Budiman Setiawan menyatakan, jadwal tersebut tidak ideal. ’’SEA Games kan rencananya berlangsung pada 21 November−2 Desember. Nah, pada saat PON itu setiap cabor harus entry by name untuk tampil di SEA Games,’’ papar Budiman saat dihubungi kemarin.

Karena itu, pihaknya mengusulkan agar PON berlangsung lebih cepat. Yakni, pada 28 Agustus hingga 9 September. ’’Jadi, penutupannya dikaitkan dengan Hari Olahraga Nasional (Haornas),’’ ucapnya.

Budiman menyatakan, pihaknya tidak diajak berbicara oleh KONI Pusat mengenai penetapan jadwal. ’’Kami (cabor, Red) ini sifatnya menunggu. Mestinya kan menteri meminta pendapat induk organisasi cabor yang merupakan stakeholder prestasi. Bukan tanya kiri kanan,’’ ucapnya.

PON memang belum ditetapkan pada awal Oktober 2021. KONI masih akan berbicara dengan Menpora Zainudin Amali dan PB PON. Jadi, Budiman belum tahu akan mengambil tindakan apa.

’’Kalau jadwal PON sudah fixed (2−13 Oktober) baru bicara antisipasi. Kalau belum, kami akan terus berjuang agar PON tetap Agustus,’’ tegasnya.

Keluhan senada disampaikan Wakil Ketua Umum PB PON Harlin E. Rahardja. Dia mengatakan, PRSI tidak dimintai masukan untuk penetapan jadwal. ’’Kami tidak tahu karena tidak pernah diinfo,’’ katanya.

Harlin menuturkan, idealnya ajang multievent terbesar di tanah air itu berjarak sekitar 2−3 bulan dengan SEA Games. ’’Jadi, PON paling tidak Agustus atau akhir September,’’ tuturnya.

Jika jadwalnya pas, lanjut Harlin, PON bahkan bisa dijadikan seleksi bagi atlet untuk tampil di SEA Games.

Namun, tentu tidak semua cabor menentang usulan jadwal tersebut. Pelatih pelatnas angkat besi Dirdja Wihardja menilai jadwal padat masih bisa disiasati. Menurut dia, para lifter daerah yang ada di pelatnas juga mengaku tidak masalah. ’’Semua masih aman dan ideal kok,’’ papar Dirdja.

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung bersikap serupa. Dia menuturkan, jadwal yang diusulkan KONI sudah baik. ’’Ideal atau tidak sangat sulit mengukurnya saat ini,’’ ucapnya

Wakil Ketua Umum KONI Pusat Suwarno menuturkan, pihaknya tidak punya banyak pilihan. Sebelum Oktober, agenda internasional sangat padat. Mulai Olimpiade Tokyo 2020 (23 Juli−8 Agustus) sampai Islamic Solidarity Games (20−29 Agustus).

Bahkan, pihaknya mengusulkan PON pada awal Oktober agar ada sisa waktu sebulan penuh sebelum SEA Games. ’’Kami rasa jadwal itu sudah baik,’’ katanya.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore