
Photo
JawaPos.com- Marcus Fernadi Gideon/Kevin Sanjaya gagal menjadi juara untuk kali ketiga di All England 2020. Pada final di Arena Birmingham dini hari ini WIB (16/3), Marcus/Kevin kembali kalah melawan musuh bebuyutannya, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.
Marcus/Kevin tumbang dalam tiga game yang berakhir dengan skor 18-21, 21-12, 19-21.
Pertandingan terjadi dalam tempo yang cukup lama yakni 1 jam dan 12 menit.
Kekalahan Marcus/Kevin memutus rentetan kemenangan beruntun ganda putra Indonesia di All England sejak 2017. Sementara itu Endo/Watanabe sukses mencatat sejarah besar. Yakni ganda putra pertama Jepang yang menjadi juara turnamen bulu tangkis tertua di dunia itu.
Selain itu, khusus Endo, gelar ini menghentikan rasa penasaran. Dia akhirnya menjadi kampiun setelah tiga kali jadi runner-up pada 2013, 2014, dan 2016. Saat itu, Endo berpasangan dengan Kenichi Hayakawa.
Endo/Watanabe memang sangat dominan atas Marcus/Kevin. Dalam enam pertandingan terakhir, Marcus/Kevin selalu kalah. Mereka hanya pernah menang dua kali dalam dua pertemuan pertama mereka pada 2018.
Kok bisa menang enam kemenangan beruntun. Apa kuncinya? “Ini hasil kami bekerja keras, tidak menyerah, dan pada akhirnya kami bisa bangkit melawan mereka,"ujar Watanabe dalam wawancara di pinggir lapangan.
Game ketiga menjadi puncak pertunjukan yang seru pada pertandingan ini. Endo/Watanabe langsung ngebut dengan unggul jauh lebih dulu dengan skor 6-0.
Namun, instruksi pelatih Herrry Iman Pierngadi sangat jelas. Main variatif, sabar, dan terutama arahkan semua bola kepada Endo.
Sebab, dibandingkan Watanabe, Endo memang memiliki pertahanan yang lebih longgar. Selain itu, jika mengarahkan bola drop shot, maka Endo akan sulit untuk maju dan mundur. “Kakinya berat,” ucap Herry dalam instruksinya kepada Marcus/Kevin.
Memang sangat sulit untuk menghancurkan pertahanan Endo/Watanabe. Namun, lewat perjuangan luar biasa keras, Marcus/Kevin sempat menyalip dalam kondisi 19-18. Tetapi Endo/Watanabe mencetak tiga angka beruntun untuk merebut gelar.
Photo
Marcus/Kevin menjadi runner-up All England 2020, kalah dari Endo/Watanabe. (PP PBSI).
“Pastinya kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Game pertama kami sudah fight, terus memang kalah. Game kedua kami ubah strategi, mainnya agak dipelanin sedikit, di situ sudah ketemu polanya," kata Marcus dalam siaran pers PP PBSI yang diterima Jawa Pos.
"Tapi game ketiga mereka coba mempercepat permainan lagi. Kami sudah coba melakukan dengan maksimal, kami juga sudah mengejar. Kami sudah melakukan yang terbaik. Akhir-akhir kami juga unggul 19-18, tapi mereka maju lagi nempel ke net. Ya mungkin belum rezeki ya,” imbuh Marcus.
“Waktu kami unggul 19-18 memang sedikit buru-buru ya. Pengen menyerang duluan malah mati sendiri,” timpal Kevin.
Bagi Marcus/Kevin ini adalah kekalahan pertama dalam tiga kali final All England. Sebelumnya, Minions menjadi juara pada 2017 dan 2018.
“Hasil tahun ini kami syukuri saja. Main juga sudah baik, cuma di partai final lawannya memang bagus. Mereka lagi bagus juga, belum pernah kalah satu game pun. Lagi rapet juga mereka. Di akhir-akhir mereka melakukan spekulasi yang cukup nekat juga,” kata Marcus.
“Hari ini kami sudah coba yang terbaik, mungkin sedikit kurang hoki juga. Karena di akhir game kami sudah sempat leading. Hari ini mereka bermain dengan sangat konsisten dan nggak banyak melakukan kesalahan tambah ucap Kevin.
Indonesia membawa satu gelar pada All England 2020. Pada final sebelumnya, ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti mengalahkan unggulan ketiga asal Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai dengan skor 21-15, 17-21, 21-8.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
