
Hendra Setiawan (L) of Indonesia celebrates with partner Mohammad Ahsan after winning their men
JawaPos.com-Tahun lalu adalah puncak kebangkitan kedua Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Sempat dianggap habis, The Daddies sukses besar menjadi juara All England 2019.
Apalagi, kemenangan Hendra/Ahsan dilakukan dengan cara luar biasa. Sejak semifinal, Hendra mengalami cedera betis kanan. Bisa dikatakan, mereka menjadi kampiun dengan hanya bermodal tiga kaki.
Itulah momen yang menjadi titik balik Hendra/Ahsan untuk kembali berada di level elite ganda putra dunia. Hendra yang sudah berusia 35 tahun. Dan Ahsan yang berumur tiga tahun lebih muda, terus melaju dengan menjadi juara dunia dan turnamen puncak akhir tahun alias BWF World Tour Finals 2020.
Hendra/Ahsan berhasil memantapkan statusnya sebagai pemain nomor dua dunia dan mencapai satu target terbesar mereka yakni lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.
Bermain di Olimpiade tentu saja adalah hal yang luar biasa. Mengingat mereka sempat berpisah selepas kegagalan pahit di Olimpiade Rio 2016. Saat itu, penggemar bulu tangkis manapun, bahkan mungkin mereka sendiri, tentu tidak yakin bahwa sosok Hendra/Ahsan kembali lolos ke Olimpiade.
Tetapi jalan hidup ternyata berkata lain. Hendra/Ahsan, bersama ganda putra nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo terpilih mewakili Indonesia ke Tokyo 2020.
Kepada wartawan JawaPos.com Gugun Gumilar, Hendra dan Ahsan mengungkapkan keterkejutan mereka bisa terpilih mewakili Merah Putih untuk berlaga di multievent olahraga terbesar empat tahunan itu.
Saat gagal di Olimpide Rio, banyak yang menilai kalian sudah habis. Lalu sekarang, kalian akan pergi ke Olimpiade Tokyo. Bagaimana kalian memandang perjalanan empat tahun terakhir?
Hendra: Kita enggak menyangka bisa dipanggil lagi. Selama empat tahun terakhir ya cukup bagus. Untuk sekarang sih enggak mikirin Olimpiade dulu. Kita lebih mikirin bagaimana tetap di ranking dua dunia.
Tahun lalu sangat luar biasa bagi kalian. Juara All England, juara dunia, lalu juara BWF World Tour Finals. Awalnya, bagaimana kalian mulai yakin bahwa kalian bisa berprestasi dan berada di top level dunia lagi?
Hendra: Dari kami sendiri persiapannya bagus, sama menikmati permainan aja. Tahun lalu memang tahun yang terbaik buat kami. Untuk tahun ini berharap stabil saja. Yang penting kan ada target. Kalau enggak ada target, kita latihan buat apa?
Sebagai pemain profesional, kalian disebut-sebut mengeluarkan dana yang besar. Kabarnya sampai Rp 1 miliar perorang pada 2019. Apakah itu jadi pendorong semangat untuk berprestasi?
Ahsan: Tentu itu jadi motivasi kami. Apalagi ada sponsor. Mereka maunya kami sering) juara dan bisa berangkat ke Tokyo.
Hendra Setiawan Ahsan Marcus Fernaldi Gideon Kevin Sanjaya Sukamuljo
Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bersalaman dengan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo setelah final Denmark Open 2019. (PP PBSI)
Bagaimana kalian memandang persaingan ganda putra tahun ini. Pendapat kalian soal Minions seperti apa? Mengapa sulit sekali mengalahkan mereka, sampai kalah sepuluh kali beruntun. Apa karena mereka sudah tahu kelebihan dan kelemahan kalian?
Hendra: Persaingan ganda putra luar biasa. Tapi kami bersaing secara sportif. Apalagi Kevin/Marcus dan Fajar/Rian, mereka masih muda-muda. Kami jangan mau kalah. Harus kami akui, dari segi kecepatan kami kalah dengan Minions. Mereka sudah bisa mengantisipasi permainan kami. Untuk saya sendiri, semoga bisa menang (lawan Minions, Red) di waktu dan tempat yang tepat, ha ha ha....
Soal lain. Minions susah sekali mengalahkan Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe. Sedangkan di sisi lain, kalian punya rekor pertemuan yang lebih baik. Mengapa itu bisa terjadi? Apa kelemahan dan kelebihan Endo/Watanabe sehingga mereka bisa kalian kalahkan?
Hendra: Endo/Watanabe itu pemain ulet. Kalau ketemu mereka itu harus sabar. Imbangi dulu permainan mereka, enggak harus langsung dimatiin. Tapi, kalau ada kesempatan mengalahkan mereka, baru kita hajar. Lalu, kenapa Minions kalah sama mereka? Ya karena mereka cocok dengan polanya Minions.
Indonesia punya tiga ganda top 5 dunia. Atmosfer, lingkungan, dan situasi seperti apa yang diciptakan oleh pelatnas sehingga berhasil memproduksi banyak ganda putra kelas dunia?
Ahsan: Kami sih bersyukur sama PBSI sudah ngasih kami latihan di PBSI. Yang diciptakan oleh pelatnas adalah setiap pasangan harus bisa bersaing. Tapi dengan cara sehat dan baik. Di luar latihan, ya kami teman biasa. Enggak ada musuh-musuhan.
Photo
Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan saat berlaga di All England 2019. (PP PBSI)
Kalian juara bertahan All England. Ada target khusus? Misalnya mempertahankan gelar?
Ahsan: Sebagai juara bertahan memang enggak mudah. Tapi kami enjoy saja, main maksimal, step by step. Enggak memikirkan untuk mempertahankan gelar sih.
Hendra sendiri sudah tiga kali ikut Olimpiade. Apa yang beda dari satu Olimpiade ke Olimpiade yang lain?
Hendra: Enggak ada yang beda sih. Bosen juga enggak. Yang beda cuma umur doang ha ha ha...Yang beda mungkin perubahan teknik ya. Yang awalnya cepat, sekarang lambat. Ya paling enggak, bisa bawa medali lah.
Dalam pertandingan, saat-saat ini pernah saling marahan satu dengan yang lain?
Ahsan: Kalau marah, nanti mainnya bakal kacau. Harus menjaga emosi.
Adanya penyebaran virus korona ini, ada rasa khawatir dari keluarga? Misalnya kalian ke istri atau sebaliknya, istri ke kalian?
Ahsan: yang jelas istri merasa khawatir. Istri biasanya bilang jaga kesehatan, banyak istirahat. Kami juga khawatir sama keluarga di rumah. Intinya saling mengingatkan saja.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
