
Greta Thunberg. (Johannes Eisele/AFP)
”AKU ingin kalian panik,” ucap aktivis muda Greta Thunberg di konvensi tahunan CEO dan pemimpin dunia World Economic Forum di Davos, Swiss, pada Januari lalu. ”Aku ingin kalian merasakan ketakutan yang kurasakan setiap hari. Lalu, aku ingin kalian mengambil langkah tegas,” lanjutnya. Ringkas, tetapi mengena.
Kegigihan Thunberg memperjuangkan isu lingkungan menyita perhatian. Mulai kalangan sebayanya hingga jajaran pemimpin dan tokoh dunia. Tahun ini majalah TIME menganugerahkan gelar People of the Year 2019 buatnya. Gadis kelahiran 3 Januari 2003 itu jadi orang termuda yang meraih titel tersebut.
Thunberg mengawali aksinya sejak tahun lalu. Pada Agustus 2018, dia berdemo di depan gedung parlemen Swedia. Sambil memegang papan bertulisan Skolstrejk för klimatet yang artinya mogok sekolah demi iklim. Langkah itu langsung memicu kontroversi. Sejumlah guru mempersilakan muridnya melakukan hal serupa. Namun, tidak sedikit yang mencibir Thunberg sekadar cari perhatian.
Tidak puas berdemo, dia pun melakukan kampanye peduli lingkungan. Thunberg, ditemani sang ayah Svante, dan para anak buah kapal menyeberangi Samudera Atlantik dengan kapal Malizia II. Opsi berlayar dipilih karena meninggalkan jejak karbon lebih sedikit dibandingkan terbang. Keluarganya ikut mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan. Mereka menghindari penerbangan, menjadi vegan, dan melakukan daur ulang.
Dalam 16 bulan pascademo pertamanya, Thunberg berhasil menorehkan pencapaian besar. Menyampaikan gagasan langsung di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bertemu Paus, hingga beradu pendapat dengan presiden Amerika Serikat di Twitter. Pada 20 September 2019, Thunberg menjadi penggerak demo perubahan iklim global terbesar yang tercatat diikuti 4 juta orang dari 161 negara.
Thunberg amat percaya, perubahan iklim bisa dicegah. ”Kita tidak bisa melanjutkan hidup seakan-akan tidak ada hari esok. Hari esok itu ada. Itulah yang ingin kami ungkapkan,” tegasnya.
Pemimpin redaksi TIME Edward Felsenthal menilai, Thunberg menyandang titel tersebut karena membawa pengaruh nyata. “Dia menjadi suara paling lantang di isu paling besar yang dialami planet ini,” ungkapnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
