Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Agustus 2024 | 16.53 WIB

Purnatugas dari Polri, Komjen Pol (Purn) Arief Sulistyanto Menolak Jadi Tim Sukses, Kini Nikmati Hobi Vespa

MENJADI MASYARAKAT: Arief Sulistyanto menyeduh kopi dengan metode V60 saat dijumpai di kediamannya pada Jumat (9/8). (M. ALI/JAWA POS) - Image

MENJADI MASYARAKAT: Arief Sulistyanto menyeduh kopi dengan metode V60 saat dijumpai di kediamannya pada Jumat (9/8). (M. ALI/JAWA POS)

Setelah purnatugas, Komjen Pol (Purn) Arief Sulistyanto ”membayar” waktunya buat keluarga dan menekuni hobi. Meski begitu, lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1987 itu masih mengikuti perkembangan institusi kepolisian. Berikut obrolan santainya dengan wartawan Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo di kediaman Arief ditemani teh dan kopi.

Apa kesibukan setelah purnatugas dari Polri?

Saya dinas 36 tahun. Maka, begitu purnatugas, saya manfaatkan betul waktu untuk keluarga. Traveling dengan semua anak-cucu. Terus liburan berdua istri ke Kutub Utara, ke Alaska. Selain refreshing, juga untuk melihat kebesaran ciptaan Tuhan. Kemudian, saya diminta menjadi komisaris di perusahaan swasta. Aktif juga di Universitas Pelita Harapan (UPH). Saya kan alumnus UPH, doktor hukum tahun 2022. Ketika ujian disertasi, saya menjadi salah satu penguji. Kegiatan lain, saya gabung ESQ 165 sebagai ketua dewan pembina alumni ESQ.

Hobi yang ditekuni seusai tak jadi pejabat Polri?

Saya ikut komunitas dengan teman-teman yang hobi vespa klasik. Saya koleksi vespa klasik dan mobil tua, salah satunya Mini Cooper. Sempat ditanya sama teman, ”Kenapa kok senang beli mobil tua? Sudah pensiunan, ya?” Saya jawab, ”Nggak bisa beli mobil baru.” Terus dia marah, ”Justru itu mobil yang mahal.” Hahaha.

Kegiatan lain yang masih ada kaitannya dengan kepolisian?

Dari dulu, ketika saya sudah selesai di satu tempat, saya tidak ingin kembali di tempat itu. Contoh, saya pernah jadi Kapolda Kalbar, kemudian staf ahli. Maka, saya sudah tidak punya wewenang (di sana). Tapi, kalau pejabat baru tanya kepada saya, oke silakan.

Lalu, setelah dari Kabareskrim dipindah menjadi Kalemdiklat (kepala lembaga pendidikan dan latihan), lanjut ke Kabaharkam, saya juga serahkan semuanya, saya fokus di tanggung jawab terkini. Kalau saya masih cawe-cawe di tempat lama, jadi ”hantu”. Filosofinya begini, orang yang meninggal itu kan sudah tidak lagi terhubung dengan dunia. Nah, katanya, yang bisa berinteraksi dengan yang hidup itu menakutkan, hantu. Saya nggak mau jadi hantu.

Tapi, adik-adik yang mau datang ke sini, diskusi, silakan. Saya sampaikan prinsip-prinsip leadership, prinsip-prinsip operasional, dan strateginya.

Arief kini punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan hobi vespa klasik bareng komunitas sembari tetap terbuka kepada kolega yang mengajak diskusi. (Arief Sulistyanto untuk Jawa Pos)

Bagaimana melihat perkembangan kepolisian, terutama berkaitan dengan oknum anggota yang masih banyak terlibat masalah hukum?

Saya dari awal sudah prepare, ketika sudah selesai, saya tidak mau ikut-ikut lagi. Tapi, bukan berarti kita buta dan tuli. Sekarang kan jadi masyarakat. Kalau ada polisi yang buruk, yang jadi korban kan masyarakat. Tapi, sebetulnya itu tidak berdiri sendiri. Polisi berada di dalam satu sistem pemerintahan sehingga membuatnya jadi begini. Kepala pemerintahan menunjuk kepala kepolisian. Nah, tinggal orientasi kepala pemerintahan ini mau ke mana?

Kalau orientasinya tidak ingin menjadikan polisi sebagai penjaga peradaban bangsa, polisi sebagai alat negara dan abdi masyarakat akan berubah menjadi alat kekuasaan. Menjadi abdi pejabat pemerintah. Bukan berafiliasi kepada rakyat.

Di dalam proses pembinaan karier itu, ada namanya meritokrasi. Dalam meritokrasi itu dilakukan penelitian terlebih dulu terhadap jati diri, track record-nya terhadap moralitas, leadership, sehingga ketika didudukkan di satu tempat itu mampu.

Pernah ditawari masuk ke dunia politik, terutama saat Pilpres 2024 lalu?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore