Perjalanan Bejo Sugiantoro penuh lika-liku di Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Sudah tujuh tahun berlalu sejak Persebaya U-19 menjalani pemusatan latihan di Australia Barat pada 2018. Momen tersebut masih dikenang sebagai salah satu pengalaman berharga dalam sejarah pembinaan pemain muda Green Force.
Kala itu, skuad muda Green Force menghadapi tantangan besar dalam tur mereka ke Perth. Bukan hanya lawan tangguh yang mereka hadapi, tetapi juga cuaca ekstrem yang hampir mengacaukan rencana mereka.
Pada 2 Juli 2018, mereka menjalani ujian sesungguhnya di hari kelima pemusatan latihan. Tim asuhan Bejo Sugiantoro dijadwalkan menghadapi Tim U-19 Australia Barat di Walterpadbury Park, Perth, pukul 18.00 waktu setempat.
Laga ini bukan sekadar pertandingan uji coba biasa. Para pemain muda harus bertanding di bawah guyuran hujan deras dan hembusan angin kencang yang membuat suhu turun hingga 16 derajat Celsius.
Menurut Lolita Larasati, warga Indonesia yang menetap di Perth selama 19 tahun, kondisi cuaca saat itu sangat tidak bersahabat. Hujan dan angin kencang telah menghantam Woodman Point, tempat Persebaya U-19 menginap, sejak pagi hari.
"Selain harus mempersiapkan skil dan formasi, kami juga harus menguatkan mental dan nyali pemain. Ini berarti, mereka harus melawan diri sendiri sebelum pertandingan," ucapnya dikutip dari laman Persebaya Surabaya.
Bejo Sugiantoro mengaku sempat was-was menghadapi situasi ini. Selain harus menyiapkan strategi permainan, ia juga harus membangun mental para pemain agar siap bertanding dalam kondisi yang tidak ideal.
"Tujuan kami datang ke sini hanya untuk belajar. Sehingga, kami tidak mengejar hasil saja. Melainkan, pemain harus bermain kolektif, komunikatif dan menjalankan instruksi pelatih dengan baik di lapangan," ucapnya.
"Toh, kondisi semua pemain siap bertanding. Jadi, kalau ada kesempatan untuk mencetak banyak gol, tentu kami akan memaksimalkannya ," tegasnya.
Legenda hidup Persebaya Surabaya itu menegaskan bermain di cuaca buruk bisa membuat skema permainan tidak berjalan sempurna. Ditambah lagi, mereka belum mengetahui kekuatan lawan secara menyeluruh.
Dalam mengantisipasi situasi sulit tersebut, Bejo sudah menyiapkan beberapa skema alternatif. Jika kondisi memungkinkan, mereka akan bermain menyerang dengan formasi 4-3-3, tetapi jika situasi mengharuskan, formasi akan diubah menjadi 4-2-3-1 dengan mengandalkan serangan balik.
Bejo menegaskan tujuan utama mereka ke Australia bukan hanya mencari kemenangan. Ia ingin para pemainnya belajar bermain kolektif, komunikatif, dan disiplin dalam menjalankan instruksi pelatih di lapangan.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
