
Pemain Kalteng Putra Kushedya Hari Yudo (kiri) melewati pemain Persita Tanggerang pada Final Liga 2 perebutan juara ke 3 di Stadion Pekansari, Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/12).
JawaPos.com - Siaran langsung di televisi otomatis membuat laga-laga di Liga Indonesia semakin banyak yang mengawasi. Namun, sang runner alias pengatur pertandingan tidak risau. Sebab, mereka terus memutakhirkan modus operandi untuk mengelabuhi massa.
---
Tendangan penalti penyerang PSMP Krisna Adi Darma saat melawan Aceh United pada laga terakhir babak 8 besar Liga 2 memang kelewat vulgar. Sepakan yang melenceng sangat jauh di sisi kiri gawang membuat Krisna menjadi bahan olok-olok sadis di media sosial.
Mantan pelatih tim nasional U-16 Fakhri Husaini di akun Instagram-nya mengatakan bahwa tidak perlu pelatih hebat atau orang cerdas untuk menganalisis maksud, tujuan, dan motif tendangan penalti Krisna itu. Bagi Fakhri, yang dilakukan Krisna tersebut bukan shooting ke gawang. Tetapi, dia sebenarnya hanya sedang melakukan passing. "Pelatih paling bodoh di dunia sekali pun tahu akan ke mana arah tendangannya," tulis Fakhri di akun Instagram-nya.
"Di sepak bola, tidak ada yang lebih menyedihkan selain melihat seorang pemain atau sebuah tim yang tidak ingin menang, tidak berhasrat untuk membuat gol ke gawang lawan," tambahnya.
Karena aksi itulah, Komdis PSSI menghukum Krisna tidak boleh beraktivitas di sepak bola nasional seumur hidup. Selain insiden tersebut, offside "dua kilometer" yang terjadi saat laga PSS Sleman kontra Madura FC di Liga 2 2018 menjadi bahan gunjingan. Offiside itulah yang membuat Satgas Antimafia Bola hendak meningkatkan status penyelidikan kasus pertandingan tersebut ke penyidikan.
Sumber Jawa Pos seorang runner yang memiliki jaringan luas di lingkaran mafia bola internasional mengatakan bahwa apa yang dilakukan Krisna memang sangat lugu. "Seharusnya, nendangnya ke atas dengan keras, atau lurus saja ke arah kiper. Sama-sama tak berniat mencetak gol, tapi kan caranya halus. Bukan kasar seperti itu," katanya.
Menurut sang runner, mengatur hasil pertandingan dengan cara offside aneh dan penalti hantu adalah metode yang sangat kuno. Sebab, pengatur pertandingan cuma mampu mengendalikan wasit dan dua hakim garis.
Kalau sudah seperti itu, biasanya penalti dan gol yang terjadi akan sangat kontroversial. Kalau laga itu disiarkan secara langsung, reaksi publik bisa sangat luas. Apalagi jika pemain dari tim yang dirugikan ngamuk gara-gara adanya penalti-penalti aneh.
Nah, sumber Jawa Pos itu mengatakan, ada beberapa cara yang bisa ditempuh agar hasil pertandingan yang diatur itu seolah-olah berjalan natural. Hal pertama yang dilakukan sang runner ialah menyepakai skenario dengan para pemain yang sudah disuap.
Modus termudah yang biasa dilakukan ialah men-setting terjadinya sebuah penalti. Ketika waktunya tiba, saat sang runner memberikan kode, seorang pemain belakang yang sudah disuap bakal melakukan tekel keras kepada pemain lawan di kotak terlarang. "Penonton pasti beranggapan bahwa tackling itu tidak disengaja, murni karena pemain telat mengantisipasi. Padahal, tackling itu sengaja. Tujuannya, ya agar tim lawan mendapat penalti," ucap sumber Jawa Pos itu.
Cara kedua yang juga umum di kalangan runner namun tidak kentara adalah sengaja menggagalkan jebakan offside tim sendiri. Seorang bek yang sudah disuap bakal pura-pura nggantung sendirian di belakang. Setelah itu, pemain tersebut akan pura-pura berlari sekencang-kencangnya untuk mengejar lawan. Namun, semuanya terlambat. Sebab, pemain lawan sudah lolos dari jebakan offside dan siap menceploskan bola.
Selain menyuap pemain, runner bisa membeli manajer dan pelatih. Untuk membuat sebuah tim keok tanpa diketahui pemain, seorang runner umumnya akan menginstruksi pelatih agar mengacaukan timnya sendiri.
Bagaimana modusnya? "Gampang itu. Pasang saja pemain tidak di posisi aslinya. Penyerang dipasang sebagai pemain belakang, atau bek kiri disuruh main di kanan. Selesai sudah. Pemain bakal terkaing-kaing. Timnya menjadi hancur," kata sang sumber, lantas tersenyum.
Pelatih Persegres Gresik United di Liga 1 2017 Hanafi mengatakan bahwa pengaturan pertandingan di Liga Indonesia semakin vulgar dan tak tahu malu. Hanafi bahkan mengaku trauma untuk kembali menangani klub. Sebab dia pernah ditawari seseorang agar timnya mengalah. Hanafi lantas memilih mendirikan sekolah sepak bola di Malang ketimbang membesut tim profesional. Hanafi tak mau tercebur lagi dalam kubangan.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
