
Kiper Timnas Indonesia U-22 Satria Tama saat dibawa keluar lapangan dalam pertandingan melawan Vietnam pada babak kualifikasi grup B Sea Games XXIX Kuala Lumpur di Stadion Majlis Perbandaran Selayang, Malaysia, Minggu (20/8).
JawaPos.com - Tangisan itu tidak akan pernah dilupakan rakyat Indonesia. Sebuah momen haru, getir, lambang dedikasi dan totalitas yang akan dikenang sepanjang masa. Satria Tama Hardiyanto harus ditarik keluar lapangan pada menit ke-66 saat Indonesia kontra Vietnam di ajang Sea Games ke-29, Kuala Lumpur, Malaysia beberapa waktu lalu.
Selepas pertandingan yang berkesudahan dengan skor kaca mata tersebut, hati Aiptu Bambang Hardiyanto dan Naning, kedua orang tua Satria Tama, sempat was-was. Satria yang meninggalkan lapangan lebih awal, tampak berjalan tertatih dan harus dipapah beberapa official Timnas U-22.
Hati mereka kemudian sedikit lega kala sang buah hati menghubungi selepas pertandingan. Tangisan itu bukan karena rasa sakit yang dialami diderita Satria, namun karena sebuah rasa penyesalan yang sangat mendalam. "Dia telepon dan bercerita semuanya kenapa dia menangis. Dia menyesal karena nggak bisa main penuh," tutur Naning kepada JawaPos.com, Rabu (30/8).
Naning paham betul perasaan putra bungsunya tersebut. Sedari kecil, Satria benci dengan yang namanya kegagalan. Bagi kiper kelahiran 23 Januari 1997 itu, tidak bisa mengawal gawang Indonesia selama 90 menit sama seperti sebuah kesia-siaan.
Satria kecil dikenal sebagai sosok yang cengeng, namun motivasinya untuk menang selalu besar. "Pernah dia kalah terus nangis. Tapi setelah itu dia selalu bisa bangkit, saya yang biasa meyakinkannya," lanjut Naning.
Meskipun dilatih keras oleh ayahnya, Satria memang lebih dekat dengan ibunya. Saat muda, jika ada pertandingan di luar kota, Naninglah yang sering mendampinginya. Ayahnya berhalangan karena tugas sebagai polisi.
Maka saat Satria menelepon dan mengutarakan rasa penyesalannya karena tidak bisa menjaga gawang selama 90 menit, Naning tahu caranya untuk menenangkan hati anaknya. Toh, skor 0-0 saat itu membuka lebar kans Indonesia untuk melenggang ke Semi Final.
"Saya cuma minta dia untuk tenang. Jangan lupa salat dan berdoa, itu saja," cerita perempuan asal Menganti, Gresik tersebut.
Sebagai orang tua, Naning tidak pernah lelah untuk mengingatkan sang anak agar selalu menyerahkan semuanya kepada Allah. Termasuk saat berkompetisi di Liga I, Satria punya kebiasaan puasa tiga hari sebelum hari H pertandingan.
Di lingkungan rumahnya, di Sepanjang, Satria dikenal pendiam. Bahkan ketenaran namanya di kampungnya, baru bergaung saat Sea Games. Meskipun sudah cukup lama menggeluti dunia si kulit bundar, para tetangganya baru ngeh kalau yang menjaga gawang Indonesia U 22 adalah Satria.
"Ya dia tidak pernah pamer, kami juga nggak terlalu menggembor-gemborkan dia. Kalau ada tetangga yang tanya, baru kami bilang iya itu memang Satria," katanya.
Berkat Sea Games, kampungnya jadi ramai. Banyak warga yang merelakan rumahnya untuk dijadikan tempat nobar. Tetangga Satria ikut bangga, bahwa ada salah seorang warganya yang menjadi tumpuan Timnas. Nama kiper yang juga berkuliah di Universitas dr. Soetomo itu tak pelak dipuji setinggi langit oleh tetangganya.
Meskipun, di kampungnya kerap menonton bareng pertandingan Sea Games, namun itu tidak berlaku bagi Naning. Perempuan yang berjualan sembako di Pasar Krempyeng, Bambe tersebut lebih memilih untuk mengaji di dalam kamar. "Saya nggak berani lihat. Lebih baik support lewat doa," tuturnya.
Saat Indonesia ditumbangkan Malaysia di Semi Final, Satria menghubunginya keesokan harinya selepas pertandingan. Kala itu, Naning tahu bagaimana rasa kekecewaan kiper berusia 20 tahun tersebut. Naning kemudian membesarkan hati anaknya.
"Saya pesan agar dia tetap main total, jangan pulang dengan kosong. Medali perunggu itu sama tak ternilainya dengan emas buat Indonesia, saya sendiri sudah yakin kalau bisa menang lawan Myanmar," sebut Naning.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
