
Luis Milla sudah tularkan gaya khas Spanyol ke timnas U-22 Indonesia.
JawaPos.com - Kegagalan timnas U-22 Indonesia pada dua ajang membuat posisi Luis Milla dalam bahaya. Namun, dia tampaknya masih pantas untuk dipertahankan PSSI.
Bersama Garuda Muda, Milla gagal pada Kualifikasi Piala Asia U-23. Demikian pula pada SEA Games 2017 lantaran Indonesia dipastikan gagal sumbang emas melalui cabang sepak bola.
Sudah jelas kalau Milla kini dalam bahaya karena dua target tersebut meleset. Namun kalau boleh adil, Milla sebenarnya sudah beri dampak kepada Hamsamu Yama cs.
Permainan Indonesia bersamanya memiliki visi. Mereka tak lagi mengandalkan bola-bola panjang dan bermain fisik seperti ciri khas yang sudah-sudah.
Dilihat dari catatan statistik Labbola, Garuda Muda selalu mencatatkan minimal 76 persen umpan akurat di SEA Games 2017, bahkan lawan Thailand mereka sampai ciptakan umpan akurat 80 persen. Cuma Vietnam saja yang bikin Indonesia catatkan umpan akurat di bawah 70 persen. Itu juga karena Indonesia bermain 10 orang.
Pada fase semifinal melawan Malaysia, Indonesia jua bermain dominan dengan kuasai 57% penguasaan bola, dan 76% umpan akurat. Dalam hal bertahan, Garuda Muda memperlihatkan pula cara menghentikan lawan yang bagus.
Rata-rata, Garuda Muda lakukan 19,5 tekel selama di SEA Games 2017. Paling banyak lakukan tekel, saat Indonesia bikin Vietnam frustrasi, yakni capai 27 kali. Tekel terendah saat Indonesia menang 2-0 atas Kamboja dalam laga pamungkas Grub B, yakni 15 kali. Itupun Kamboja bermain bertahan sepanjang pertandingan.
Milla juga sukses tularkan ilmu formasi 4-3-3 kepada Indonesia yang lebih fasih dengan satu atau dua striker. Kehadiran Milla sendiri mengingatkan sosok Henk Wullems yang kala itu menularkan pemain Indonesia dengan taktik fondasi dasar 3-5-2.
Wullems bisa lahirkan nama-nama seperti Fakhri Husaini, Widodo C Putro, Aji Santoso, hingga Rocchi Putiray, meski cuma raih perak di SEA Games 1997. Saat ini Milla sukses lahirkan talenta berbakat, seperti Saddil Ramdani, Marinus Wanewar, Febri Haryadi, Osvaldo Haay dan yang paling cemerlang, Septian David Maulana.
Dari beberapa fakta di atas, Milla jelas sudah bikin permainan Indonesia berkembang pesat. PSSI jelas tak boleh gegabah ambil keputusan untuk memecatnya.
Sebab, untuk sukses tak ada yang instan. Kesuksesan harus dinikmati sejak proses berjalan. Lagi pula, pergantian pelatih bukan garansi langsung beri kesuksesan.
Pelatih sekelas Jose Mourinho-pun tak bisa secepat itu raih gelar di Manchester United. Dia butuh semusim atau 10 bulan untuk bawa MU juara Liga Europa. Sedangkan Luis Milla, baru saja ditunjuk PSSI pada Januari 2017, atau sekitar tujuh bulan lalu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
