
Ardy N. Shufy
JIKA wasit diinjak kepalanya oleh seorang pemain sepak bola, itulah tanda sepak bola telah berakhir.
Karena tidak ada permainan tanpa aturan main, wasit menjadi sangat penting. Melalui wasitlah aturan main bisa eksis di atas lapangan. Tanpa wasit, tidak ada aturan main. Dan, tanpa aturan main, tidak ada permainan. Yang ada hanyalah: chaos.
Aturan main itu dikomunikasikan melalui peluit. Benda bernama peluit tak ubahnya palu bagi seorang hakim di pengadilan: nasib segala hal ditentukan, diputuskan, dengan tanda palu yang diketuk. Dan, bagaimana peluit digunakan, aturan main ditegakkan, wasit menggantungkan diri pada kepalanya (baca: pengetahuannya tentang aturan main).
Bisa dibayangkan jika kepala seorang wasit diinjak pemain sepak bola, diinjak pemain yang masih mengenakan sepatu bola, lengkap dengan pul sepatunya yang keras itu. Aturan main telah diinjak-injak dan permainan dengan sendirinya telah dihancurkan.
Beberapa hari lalu, wasit Cholid Dalyanto yang memimpin pertandingan Liga Nusantara antara PS Benteng melawan Persiku Kudus diinjak kepalanya. Setelah memberikan kartu merah kepada pemain PS Benteng Gatot Bekti, Cholid diprotes. Puncaknya, Cholid terjatuh dan di situlah pemain cadangan PS Benteng, Budi Eka Putra, berlari untuk menginjak Cholid tepat di wajahnya.
Hampir tidak ada kejadian buruk yang tak muncul di sepak bola Indonesia. Semua ada: isu suap, isu mafia wasit, kekerasan suporter, pembunuhan suporter, pemain tak digaji, sepak bola gajah...
Kekerasan terhadap wasit merupakan contoh ekstrem. Jangankan memukul wasit, menyentuh wasit pun sebenarnya tidak diperbolehkan. Wasit harus dihormati setiap elemen dalam sepak bola.
Di Inggris, misalnya, ada aturan baru terhadap perlindungan wasit setelah meninjau empat musim terakhir yang menurut Premier League, English Football League, dan Football Association ada perlakuan yang tidak pantas dari pemain maupun manajer terhadap wasit. Mereka lantas membentuk Professional Game Match Officials (PGMO) untuk mengawasi setiap perlakuan pemain dan manajer terhadap wasit.
’’Kami dan klub-klub sudah berdiskusi pada perhatian kami atas perlakuan yang melampaui batas terhadap wasit yang tak bisa ditoleransi lagi,’’ ujar Richard Scudamore, executive chairman Premier League, dalam situs resmi Liga Primer. ’’Hal tersebut sering terjadi ketika situasi memanas, dalam momen yang cepat di level kompetitif yang tinggi. Karena itu, kami ingin tetap melihat para pendukung sepak bola menikmati pertandingan sehingga pemain dan manajer perlu menyadari bahwa ada batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar.’’
Inggris sudah berjaga-jaga seandainya terjadi hal buruk terhadap wasit. Padahal, sebelumnya belum ada wasit Inggris yang secara masif mendapat serangan fisik dari pemain atau manajer seperti yang terjadi di Indonesia.
Inilah yang membuat wasit begitu dihormati di Inggris. Tak hanya oleh pemain dan manajer, tapi juga oleh para penonton. Berbeda dengan di Indonesia, wasit digoblok-gobloki sudah menjadi pemandangan yang biasa.
Dari sini bisa dilihat, ada kepedulian terhadap wasit yang ditujukkan federasi dan seluruh stakeholder sepak bola di Inggris. Di Indonesia, federasi terlalu bergantung pada Komisi Disiplin yang siap meluncurkan hukuman. Sialnya, hukuman yang diberikan tidak memberikan efek jera.
Kasus Peter Rumaropen yang terjadi di Indonesia Super League 2013, misalnya. Saat itu, Rumaropen yang bermain untuk Persiwa Wamena memukul wasit Muhaimin pada laga melawan Pelita Bandung Raya.
Muhaimin mendapat tiga jahitan karena pukulan itu. Rumaropen awalnya disanksi seumur hidup. Namun, yang terjadi, setelah Persiwa dan Rumaropen mengajukan banding, Komdis memangkas hukuman tersebut menjadi larangan bermain selama setahun plus denda Rp 100 juta untuk Persiwa Wamena.
Dalam kasus Budi Eka Putra yang menginjak wajah Cholid, Panitia Disiplin PT GTS (operator kompetisi) sebenarnya turun tangan. Hukuman dua tahun larangan bermain pun siap dijatuhkan (belum banding loh, ya!). Tetapi, hukuman itu jelas terlalu ringan untuk perilaku yang telah dilakukan Budi Eka. Lagi-lagi, Komdis tidak memberikan hukuman yang membuat pemain kapok.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
