Alfan Suaib gagal jadi false nine Persebaya Surabaya saat hadapi Persijap Jepara. (Dok. Persebaya)
JawaPos.com - Alfan Suaib yang gagal perankan false nine di lini depan Persebaya Surabaya saat dipermalukan Persijap Jepara menjadi sorotan utama dalam kekalahan 3-1 di pekan ke-22 Super League 2025/2026.
Eksperimen menempatkannya sebagai ujung tombak tanpa striker murni belum memberi dampak nyata bagi permainan Persebaya Surabaya saat menghadapi Persijap Jepara.
Alfan diplot sebagai false nine dengan harapan mampu menjadi penghubung antar lini sekaligus membuka ruang bagi winger. Peran itu menuntut mobilitas tinggi, kecerdikan membaca ruang, serta kontribusi langsung dalam menciptakan peluang.
Selama 73 menit berada di lapangan, Alfan mencatatkan statistik yang terlihat rapi di atas kertas. Ia membukukan passing accuracy 100 persen dengan empat umpan sukses dari total empat percobaan.
Catatan tersebut menunjukkan ia tidak kehilangan bola saat mendistribusikan umpan. Namun, jumlah sentuhan dan umpan yang minim mengindikasikan keterlibatannya dalam skema serangan masih terbatas.
Sebagai false nine, pemain dituntut aktif turun menjemput bola sekaligus menjadi titik awal kombinasi cepat. Dalam laga ini, Alfan lebih sering bergerak di antara lini tengah dan bek lawan tanpa benar-benar mampu memecah konsentrasi pertahanan.
Ia memang mencatat satu kali umpan silang dan satu blok tembakan. Tetapi, kontribusi itu belum cukup untuk memberi tekanan konsisten ke jantung pertahanan Persijap.
Satu kali offside yang ia alami juga mencerminkan upaya mencari celah di garis terakhir lawan. Sayangnya, timing dan koneksi dengan rekan setim belum berjalan sinkron sepanjang pertandingan.
Persebaya Surabaya kesulitan membangun serangan efektif dari tengah karena peran false nine belum optimal. Alfan belum mampu menjadi pemantul bola atau penarik bek yang membuka ruang tembak bagi gelandang serang.
Eksperimen taktik ini sebenarnya menarik karena memberi fleksibilitas rotasi posisi di lini depan. Namun, tanpa intensitas dan progresivitas umpan yang lebih agresif, skema tersebut kehilangan tajinya.
Secara statistik, Alfan menutup laga dengan Minutes played 73, Passing accuracy (%) 100%, Offside 1, Blok Tembakan 1, Umpan 4, Umpan Sukses 4, Akurasi Umpan 100%, Umpan Silang 1. Angka-angka itu memperlihatkan efisiensi, tetapi belum mencerminkan ancaman nyata di kotak penalti lawan.
Minimnya jumlah umpan menjadi catatan penting bagi peran sentral seperti false nine. Posisi tersebut idealnya terlibat lebih intens dalam sirkulasi bola, terutama saat tim tertinggal dan membutuhkan kreativitas tambahan.

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
