Gerald Vanenburg ingin penggawa Timnas Indonesia punya lebih banyak menit bermain di level klub. (Timnas Indonesia)
JawaPos.com — Pelatih Timnas Indonesia U-23, Gerald Vanenburg, kembali melayangkan kritik pedas kepada klub-klub peserta Indonesia Super League. Ia menilai banyak pemain andalan Garuda Muda tidak mendapat menit bermain reguler di level klub meski sudah tampil gemilang bersama tim nasional.
Vanenburg menegaskan pentingnya para pemain muda tetap berada di level kompetitif tertinggi. Menurutnya, tanpa kesempatan bermain rutin di kompetisi domestik, performa timnas U-23 akan sulit terjaga.
Keresahan Vanenburg mencuat jelang Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 yang berlangsung pekan ini. Dalam konferensi pers Selasa (2/9/2025), ia menyebut para pemainnya justru terpinggirkan setelah kembali ke klub.
Padahal, para pemain tersebut baru saja mengantarkan Indonesia menembus final ASEAN Cup U-23 2025. Beberapa nama bahkan menjadi bintang utama sepanjang turnamen regional tersebut.
Namun, ketika Super League 2025/26 bergulir sejak awal Agustus, situasi berubah drastis. Sejumlah pemain inti timnas hanya dijadikan penghangat bangku cadangan oleh klub masing-masing.
Contohnya, Dony Tri Pamungkas yang tampil penuh di lima laga ASEAN Cup U-23. Pemain Persija Jakarta itu hanya mendapat enam menit bermain dalam tiga pekan pertama Super League sebelum absen karena panggilan timnas.
Kondisi serupa dialami Jens Raven, pencetak delapan gol di Piala AFF U-23 lalu. Striker Bali United tersebut hanya mencatatkan 43 menit dari tiga pertandingan awal liga.
Bahkan lebih ironis lagi menimpa Muhammad Ardiansyah. Kiper utama timnas U-23 itu sama sekali belum pernah diturunkan PSM Makassar musim ini.
Situasi ini, menurut Vanenburg, sangat merugikan perkembangan para pemain. Ia menekankan pengalaman bertanding tidak bisa digantikan hanya dengan latihan.
“Kami punya pemain yang hanya bermain 14 menit dalam tiga pertandingan, ini tidak ideal,” ujar Vanenburg Selasa, (2/9/2025). “Untuk bisa menjadi lebih baik, mereka harus bermain reguler, bukan sekadar menonton.”
Pelatih asal Belanda itu menilai keputusan pelatih klub wajar karena pemain muda timnas tak ikut pramusim. Super League digelar hanya sepekan setelah ASEAN Cup U-23 sehingga mereka langsung kehilangan momentum.
Mayoritas pelatih klub memilih mengandalkan pemain U-23 yang mengikuti persiapan penuh sejak awal. Akibatnya, bintang timnas justru kalah bersaing di level klub meski sebelumnya tampil menonjol di turnamen internasional.
Vanenburg mencontohkan beberapa pemain yang justru masih mendapatkan menit main konsisten.
Nama-nama seperti Cahya Supriadi (PSIM), Kakang Rudianto (Persib), dan Muhammad Ferarri (Bhayangkara FC) dipuji karena tetap dipercaya klub.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
