Presiden Asosiasi Pesepak Bola Profesional (APPI), Andritany Ardhiyasa (tengah), dalam sebuah konferensi pers. (Antara/Fajar Satriyo)
JawaPos.com - Kebijakan baru PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang memperbolehkan, yakni 11 pemain asing mendaftar di Liga 1 musim depan memicu kekhawatiran berlebihan di kalangan sepak bola Indonesia. Namun, sejumlah analisis menunjukkan bahwa regulasi ini justru bisa menjadi berkah tersembunyi.
PT LIB menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Hotel Langham, Sudirman, Jakarta Pusat, pada Senin (7/7). Dalam pertemuan dua sesi tersebut, PT LIB mengeluarkan enam keputusan mengejutkan yang mengguncang dunia sepak bola nasional.
Salah satu keputusan paling kontroversial adalah peningkatan kuota pemain asing untuk Liga 1 musim mendatang. Setiap klub diizinkan mendaftarkan 11 pemain asing, meski hanya delapan yang dapat masuk dalam daftar susunan pemain (DSP) dan bermain bersamaan di lapangan.
Regulasi ini sontak menuai pro dan kontra. Pendukung kebijakan ini berargumen bahwa langkah ini dapat mengangkat peringkat Liga 1 dan membuatnya lebih kompetitif dengan kompetisi negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Kekhawatiran APPI
Namun, di sisi lain, kebijakan ini menimbulkan keresahan untuk perkembangan talenta lokal. Dengan bertambahnya kuota pemain asing, klub berpotensi mengabaikan talenta dalam negeri.
Kekhawatiran inilah yang disuarakan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), Andritany Ardhiyasa. Dalam wawancaranya pada Selasa (8/7) sore WIB, kiper Persija Jakarta itu menyesalkan sikap PT LIB yang tidak melakukan komunikasi terlebih dahulu terkait pembahasan kuota pemain asing.
APPI menilai penambahan kuota pemain asing akan mengurangi waktu bermain pemain-pemain lokal. Bahkan, sebagian besar pemain Liga 1 menyatakan keberatan terhadap regulasi ini.
"Jika setiap klub Super League memaksimalkan kuota 11 pemain asing, maka akan ada 198 pemain lokal Super league yang akan kehilangan pekerjaan atau pindah ke Championship (sebelumnya Liga 2). Yang berarti akan ada juga pemain Championship yang akan kehilangan pekerjaannya atau beralih menjadi pemain amatir di Liga 3," sambung pria yang akrab disapa Bagol itu.
Di sisi lain, sebenarnya Andritany tidak mempersoalkan kuota pemain asing. Namun, ia lebih fokus pada jaminan menit bermain para pemain lokal di Indonesia.
"Sebagai asosiasi yang menaungi pemain lokal dan juga asing, APPI tidak mempermasalahkan berapapun kuota pemain asing yang ada. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dengan jam terbang talenta lokal di Indonesia," ujar Andritany.
Analisis Bijak: Regulasi Ini Bukan Ancaman
Di tengah hiruk-pikuk kontroversi, akun X @analisiscetek memberikan perspektif yang lebih jernih dan rasional tentang kebijakan 11 pemain asing ini.
"Kebijakan 8 dan 11 pemain asing ini sebenarnya nggak perlu dipermasalahkan. Karena kebijakan ini nggak mandatory. Nggak wajib. Justru kebijakan ini menurut kami adalah ujian untuk klub dan ekosistemnya. Untuk klub yang bisa manage, cenderung akan santai-santai aja," tulisnya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
