Momen Rendi Irwan mencetak gol saat masih berseragam Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Saat seorang pesepak bola mencapai usia senior, banyak yang mulai merintis karier baru sebagai pelatih. Begitu pula dengan gelandang Persebaya Surabaya, Rendi Irwan, yang resmi mengantongi lisensi kepelatihan C AFC pada 2020.
Keputusan Rendi untuk terjun ke dunia kepelatihan bukan sekadar iseng belaka. Ia menjalani serangkaian ujian di Batu, Malang, sebelum akhirnya dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikasi resmi bulan lalu.
Tak butuh waktu lama bagi pemain bernomor punggung 12 itu untuk langsung mempraktikkan ilmu barunya. Bersama Uston Nawawi, ia dipercaya membantu menghidupkan kembali geliat sepak bola di kampung halamannya, Klagen, Sukodono.
Kepala desa Klagen melihat potensi besar yang dimiliki wilayahnya sebagai penghasil talenta sepak bola. Oleh sebab itu, ia menggandeng Coach Uston dan Rendi untuk merancang kembali sistem pembinaan yang sempat vakum beberapa tahun terakhir.
Menurut Rendi, salah satu alasan utama kebangkitan sepak bola di Klagen adalah renovasi lapangan yang kini lebih layak digunakan. Dengan fasilitas yang sudah diperbaiki, kampung ini bisa kembali menjadi kawah candradimuka bagi bakat-bakat muda.
"Kepala desa dan Coach Uston meminta bantuan Coach Nurul Huda dan saya untuk meramaikan kembali sepak bola di desa Klagen, wilayah Sukodono" ungkap Rendi dikutip dari laman resmi Persebaya Surabaya.
"Sebelumnya memang sempat vakum beberapa lama, sekarang lapangan sudah selesai direnovasi jadi sekalian buka lembaran baru," imbuhnya.
Sekolah sepak bola yang kini dijalankan Rendi dan Uston telah menarik perhatian anak-anak di sekitar Klagen. Mereka berbondong-bondong datang untuk mendapatkan ilmu dari dua sosok yang telah kenyang pengalaman di sepak bola Indonesia.
Melatih anak-anak usia dini tentu menjadi pengalaman baru bagi Rendi. Ia mengakui mendidik pemain muda memiliki tantangan yang berbeda dibanding bermain di lapangan sebagai pesepak bola profesional.
Menurutnya, diperlukan kesabaran ekstra dalam mengajarkan dasar-dasar permainan kepada anak-anak. Ia belajar banyak dari Uston dan Coach Nurul Huda dalam menerapkan metode yang tepat agar anak-anak bisa berkembang dengan baik.
"Sebenarnya gampang-gampang susah melatih sepak bola usia dini, kan beda antara melatih usia yang sudah matang dengan melatih anak-anak. Pokoknya harus bersabar," terang Rendi.
Rendi juga menyadari membangun mental pemain sejak usia dini sama pentingnya dengan membentuk teknik mereka. Oleh karena itu, ia dan tim kepelatihan menanamkan disiplin serta etos kerja keras kepada para pemain muda.
"Tapi Alhamdulillah bukan hanya saya saja yang turun, ada Coach Uston, beliau lebih berpengalaman dan lebih tau mana yang harus diperbaiki dalam struktur sepak bola di kampung Klagen, saya juga belajar banyak dari beliau," sambungnya.
Ia menekankan pembinaan usia dini bukan hanya soal mengasah kemampuan teknis. Lebih dari itu, para pemain harus dibentuk menjadi individu yang memiliki karakter kuat dan siap menghadapi tantangan di level profesional.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
